Surat Dari Seberang

Cahaya Lilin dari Moskow tuk Tanah Air Beta

Ahad, 14 May 2017 10:35 WIB Penulis: Iwan J Kurniawan, dari Rusia

Sekumpulan masyarakat dan mahasiswa Indonesia menggelar aksi solidaritas bertajuk "Sepijar Lilin dari Moskow bagi Tanah Air Beta" dipelataran Bolshoi Theatre, Jl Teatralnaya Square 1, Moskow, Rusia, Jumat (12/5). -- MI/Iwan J Kurniawan

MATAHARI senja merunduk perlahan. Di bawah bayangan sebuah gedung bersejarah, saya dan sepuluh rekanan berkumpul. Kami bertemu bukan sebuah kebetulan. Itu adalah tanggapan atas berbagai aksi 1.000 lilin di Tanah Air perihal kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Tepat pukul 18.00, Jumat, (12/5), Juita Rosanova, sudah tiba di pelataran Bolshoi Theatre, Jl Teatralnaya Square 1, Moskow, Rusia. Perempuan asal Toraja, Sulawesi Selatan, itu nampak santai menunggu. Ia hendak mengikuti sebuah aksi solidaritas bertajuk Sepijar Lilin dari Moskow bagi Tanah Air Beta.

Tak berapa lama, Minar Hutabarat, seorang karyawati swasta di sebuah perusahaan jasa visa, pun hadir. Saya pun juga di sana. Kami bertiga pun lalu menunggu rekan-rekan lainnya. Kami sepakat berkumpul demi sebuah keutuhan Bhineka Tunggal Ika.

Rasa kebangsaan dan solidaritas mengikuti perkembangan politik di Indonesia membuat kami pun angkat suara. Ini sebagai aksi solidaritas bagi Indonesia dari Moskow.

"Pertemuan ini sebagai bentuk kebersamaan. Kita sesama (perantau) perlu melihat persoalan di Tanah Air dengan bijak," ujar Juita, sembari mencari bangku kosong yang tersedia di pelataran Bolshoi Theatre.

Di selingkung halaman gedung opera, pertama kali dibuka pada 20 Oktober 1856 itu, kami melendeh. Sembari mendelik orang-orang yang berlalu lalang. Ada yang berfoto di samping air mancur. Ada yang berpacaran di bangku taman.

Dan, ada pula yang menunggu di depan pintu teater untuk menyaksikan "La Traviata", sebuah opera Italia dua babak. Lakon itu hasil garapan korografer Ekaterina Mironova dan Laurent Campellone (direktur musik).

Waktu pun berlari cepat. Tepat pada pukul 18.15, beberapa rekanan, yang terdiri dari ibu-ibu dan selang kemudian beberapa mahasiswa S1 dan S2 pun datang. Semuanya cuma belasan orang. Tidak sampai seribu orang seperti aksi 1.000 lilin di kota-kota di Tanah Air.

Sore itu, kami memulai aksi dengan membentuk sebuah lingkaran. Peserta pun berasal dari berbagai suku dan agama. Kami berdiri bersama sembari saling bertuah. Berawal dengan mengheningkan cipta bersama.

Lalu, aksi pun dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu seperti "Indonesia Tanah Air Beta". Tak berapa menit kemudian, ada pembacaan puisi oleh Titin Suhartini dan Ardyanti Laksitaningtyas. Kedua membacakan puisi bertema kemanusiaan secara syahdu.

Aksi solidaritas pun memuncak pada bakar lilin. Juita pun nampak mencatut tasnya. Yang tergeletak di ubin lantai. Sejurus, dia menarik resleting tas dan mengeluarkan sekotak lilin. Ia pun langsung membagikan kepada salah satu peserta, Emilia Ristiyanto. Lalu, ke peserta-peserata lainnya yang kebetulan tak membawa lilin.

Sebagai catatan, di Tanah Air, aksi solidaritas 1.000 lilin itu sebagai bentuk untuk mendukung matinya keadilan di Indonesia. Namun, aksi bakar lilin di Moskow bertujuan sebagai bentuk nyata mendukung kebhinekaan, Indonesia sebagai Ibu Pertiwi.

Semua peserta aksi solidaritas itu nampak bersahabat. Cuaca di luar plus 7 derajat Celcius. Tak begitu dingin. Hampir semuanya memang tinggal di Moskow. Itu tidak sulit untuk kami berkumpul dan bersua bersama dikarenakan akhir pekan.

Tak dianyal, aksi bakar lilin demi Ahok di Indonesia, misalnya, memang sudah mencuri perhatian dunia. Itu membuat banyak media asing meliput dan memublikasikan ke berbagai penjuru dunia. Tak ketinggalan dengan media cetak dan elektronik setempat.

Dalam aksi solidaritas di pelataran Bolshoi Theatre, sesungguhnya tidak semua mahasiswa hadir. Maklum, sebagian tengah mempersiapkan diri untuk menempuh ujian yang akan digelar sekitar Mei-Juni mendatang. Begitu pula dengan para pekerja yang sibuk bekerja di luar Moskow.

Wisatawan ikut nyalakan lilin

Di sela-sela aksi, ada hal menarik. Kebetulan, ada dua wisatawan berkewarganegaraan Indonesia, yang sedang mengunjungi Moskow. Mereka adalah Suryana Chen dan Juliet Lie. Suryana dan Juliet pun ikut dalam aksi bakar lilin.

Mereka tampak antusias di pelataran Bolshoi Theatre, sebagai simbol atas matinya keadilan di Indonesia. Mereka mendengar info aksi tersebut dari seorang teman di Tambov, sebuah kota yang berjarak 480 kilometer dari Moskow.

"Teman kita kan ngabarin lewat media sosial, tuh! Kebetulan, kita baru tiba hari ini (tadi pagi) untuk berwisata. Tertarik seh dan langsung datang deh ke sini," ujar Juliet, perempuan yang bekerja dengan sebuah perusahaan Jepang, itu.

Tak dimungkiri, helatan aksi ini memang spontan digelar oleh Forum Poesie Moskwa. Forum ini adalah wadah bagi pecinta sastra dan budaya Indonesia. Dibentuk segelintir mahasiswa Indonesia, dan bermarkas di Moskow.

Aksi solidaritas bertajuk Sepijar Lilin dari Moskow bagi Tanah Air Beta pun berlangsung lancar. Kami pun berjalan kaki menuju mal Okhotny Ryad, dekat kawasan Kremlin. Itu hanya ditempuh lebih kurang 10 menit.

Kami pun langsung masuk ke sebuah restoran khas Amerika. Namun, di restoran tersebut, begitu hiruk pikuk dan ramai pembeli. Tidak ada bangku kosong tersisa. Akhirnya, kami pun berembuk seraya memutuskan pindah ke sebuah kedai khas Italia, yang cuma berjarak selangkah. Ya, tentunya untuk menyantap malam bersama.

Sebuah aksi solidaritas sudah selesai digelar. Ini benar-benar dari sekumpulan mahasiswa dan warga Indonesia yang menjunjung tinggi arti sebuah kebhinekaan.

"Ayo, makan dulu. Itu kan simbol dari kebhinekaan kita yang jauh dari rumah," celoteh Titin, sembari menyodorkan potongan pizza.

Di penghujung santap malam, satu per satu pun berpisah menuju bibir stasiun kereta bawah tanah. Di luar temaram lampu-lampu kota berpijar. Angin malam bertiup sepoi-sepoi, sedang pijaran lidah-lidah api di bawah tembok Kremlin masih nyala. Sepijar lilin pun sudah dinyalakan dari Moskow bagi Tanah Air Beta. (OL-6)

Komentar