MI Muda

Aulion Wirizqi - Banyak Video, Jutaan Penonton

Ahad, 14 May 2017 08:23 WIB Penulis: Ni Putu Trisnanda/M-1

Dok. Pribadi

BERTUBUH kerempeng, jomlo, dan penuh warna, siapa lagi kalau bukan si ahli pembuat stop motion asal Jakarta, Aulion Wirizqi.

Pria yang baru saja genap berusia 23 tahun pada 3 Mei ini termasuk salah satu dari daftar panjang pemuda Indonesia yang menggandrungi bisnis kreatif berbasis internet. Jika sebagian orang memilih dipanggil sebagai seorang Youtuber atau selebgram, Aulion memilih karier sebagai content creator.

Berkat kecintaannya terhadap sebuah handycam, kini ia sudah berhasil memiliki setidaknya 368 ribu pengikut setia di kanal Youtube-nya. Selain aktif menjadi seorang content creator, ia menjadi salah satu pendiri sebuah komunitas Indovidgram yang kini sudah diikuti 3,2 juta penonton, yang diklaim sebagian besar adalah videomaker.

Saat dijumpai pada UMN Screen 2017 di Goethe Institute, Jakarta, pada Rabu (26/4) setelah memutarkan film pendek perdananya, Aulion bercerita soal kesibukannya. Simak, ya!

Apa benar awalnya kamu buat video itu cuma iseng?
Iya, bahkan dulu aku enggak begitu paham tentang teknik stop motion yang pakai sistem peggabungan beberapa foto untuk jadi satu video. Pokoknya pas kelas 3 SD aku jatuh hati banget sama handycam di rumah, apalagi dia layarnya bisa diputar, seneng banget deh pokoknya.

Setelah aku itu aku mulai bikin video. Apa saja aku videoin. Untuk stop motion awalnya aku cuman pause-play terus gambar atau barangnya aku gerak-gerakkan. Akhirnya pas SMP, internet masuk dan booming, dari situ aku mulai belajar baik teknis dan ragam video dari karya orang-orang.

Mengapa pilih Youtube sebagai medium?
Mulanya karena waktu itu Youtube bisa jadi tempat penyimpanan karya video yang cukup baik dan bahkan bisa dibagikan ke masyarakat luas. Jadi cita-cita aku buat punya kenang-kenangan di masa tua ternyata dapet poin plus dengan juga dapet feedback dari para subscriber aku itu.

Kenapa sih kamu enggak mau disebut selebgram atau Youtuber?
Soalnya dari awal aku berniat untuk mengeksplor semua medium dan ragam videonya. Jadi enggak cuma di media sosial bahkan yang offline kaya film atau iklan juga aku eksplor. Untuk pembuatannya masing-masingnya kan perlu perlakuan khusus untuk buat kontennya.

Konten apa saja sih yang ada di kanal-kanal kamu?
Kalau aku sih sebutnya ada creative music video, yang didalamnya ada stop motion dan ada juga video-video keseharian aku, ada tutorial atau Q & A gitu juga.

Ciri khasnya?
Aku selalu bilang, “Kayaknya enggak enak kalau hitam putih.” Semacam gimmick gitu. Jadi kalau buka akun aku, baik di Youtube ataupun Instagram yang paling keliatan itu warna-warni. Aku suka banget kasih nuansa yang fun jadi keberadaan warna-warna itu menurut aku pas sih.
Next, mungkin juga unik karena aku suka gabungin animasi, musik, efek, stop motion, jadi ya semoga unik he he.

Tokoh idola yang juga jadi panutan kamu saat berkarya?
Idolaku Jon Cozart & Joe Penna, aku belajar teknik pembuatan video dari mereka, seperti pengambilan gambar, cara editnya. Tapi untuk style video, itu dari aku sendiri.

Berapa lama sih proses produksinya?
Membuat konsep itu sekitar satu bulan untuk riset dan persiapan bikin properti. Kalau syutingnya sih paling sekitar 1-3 hari. Biasanya juga aku kasih ke teman-teman dulu untuk dapet tanggapan baru deh aku upload. Itu juga yang aku lakuin setiap lagi mentok ide atau imajinasi.

Siapa pengakses karya kamu?
Kebanyakan sih anak-anak dan remaja kalau berdasarkan wilayah sih ada yang sampai Malaysia, Jepang, dan Jerman.

Sekarang banyak kekhawatiran soal konten yang enggak mendidik, bagaimana dengan karya kamu?
Aku pribadi berusaha untuk bikin konten yang aman, maksudnya pakai bahasa yang baik dan juga ada proses belajar berkarya di dalam karya-karya aku.

Terus apa yang kamu dapat?
Feedback-nya, aku dapat support dari teman-teman yang bisa dibilang hampir semua positif. Selain itu, dapat kesempatan buat kerja sama dengan brand-brand terkenal, last but not least memperbaiki gizi dari yang tadinya makan mi instan sekarang sudah makan di resto cepat saji he he he.

Kalau gitu berniat jadikan ka­rier?
Iya, karena sekarang udah zaman internet banget dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, jadi aku rasa peluangnya besar banget untuk dijadikan karier yang baik.

Nah, suka bayar pajak enggak tuh?
Bayar dong!

Ngomong-ngomong soal kerja sama, sudah dengan siapa saja?
Kebanyakan sih ada brand makanan, minuman, mainan, pernah juga kerja sama dengan Kunto Aji untuk bikin video liriknya Menjadi Milikku. Soalnya aku suka sama lagunya terus dikasih izin.

Kalau terima endorsement gitu memengaruhi karakter karya kamu enggak?
Justru enggak, soalnya aku juga memilah brand yang mau kerja sama. Biasanya aku juga pilih yang karakternya fun dan colorfull yang pasti anak muda dan relatable banget sih sama para penonton aku.

Pernah keserempet masalah hukum?
Sejauh ini enggak pernah sih toh kalau pun aku buat konten itu biasanya izin dulu. Itu juga sih yang bikin aku selama ini masih fokus sama brand atau artis lokal. Aku juga dibantu sama teman-teman komunitas dan manajemen.

Ceritakan dong tentang komunitas dan manajemen kamu!
Menurutku, keduanya itu tempat belajar supaya karya-karya aku makin berkembang. Di komunitas aku dapat banyak teman videomaker yang karakter dan karyanya unik dan kreatif bisa jadi inspirasi khususnya buat ngajak kolaborasi jadi makin karyanya makin kaya, sedangkan manajemen bantu aku untuk segala persiapan dan proses produksi juga membantu aku untuk mengatur jadwal dan endorsement. (M-1)

Komentar