Khazanah

Eksotisme Bahasa Jawa

Ahad, 14 May 2017 08:36 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Grafis/Ebet

SESEORANG berdiri dengan sikap tegak. Ada jarak antara kedua kakinya. Kedua tangannya dibiarkan menjulur ke bawah. Kedua telapak tangan bertemu di bawah pusar. Telapak tangan kanan berada dalam pegangan jemari tangan kiri.

Sikap tubuh itu tidak sendiri, tetapi dibarengi dengan sedikit menundukkan kepala. Cukup untuk arahan muka menghadap ke bawah. Rasa teguh dan adem terpancar dalam sikap itu. Suara yang keluar dari mulut pun tidak menghardik, tapi intonasi ucapan yang halus.

Itulah sikap yang dalam kebudayaan santun jawa disebut ngapurancang. Sikap itu biasa dibarengi dengan bahasa Jawa yang halus pula. Bahasa Jawa ialah salah satu bahasa komunikasi yang digunakan secara khusus di lingkungan etnik Jawa.

Indonesia memiliki beragam suku bangsa. Kurang lebih terdapat sekitar 500 sampai 700 suku bangsa di Indonesia yang setiap suku memiliki bahasa daerah sendiri. Bahkan, satu suku memiliki bahasa yang berbeda misalnya, dalam suku Jawa terdapat perbedaan antara bahasa Jawa di daerah Yogyakarta dan bahasa Jawa di daerah Surabaya.

Bahasa Jawa baku merupakan bahasa Jawa yang digunakan di wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Bahasa Jawa yang digunakan di kedua wilayah ini dianggap sebagai bahasa Jawa baku oleh masyarakat bahasa Jawa pada umumnya. Ciri utama yang menandai bahasa Jawa baku ialah hadirnya seluruh ragam tutur ngoko, madya, dan krama dalam percakapan sehari-hari baik dalam situasi formal maupun informal. Bahasa Jawa memiliki nilai sastra yang tinggi, serta struktur dan tata bahasa yang rumit. Penerapannya sangatlah tidak mudah apalagi bagi orang awam yang belum mengetahui bahasa Jawa sama sekali.

Tiga tingkatan
Berbincang tentang bahasa Jawa mungkin bukan lagi hal baru. Banyak yang telah mendengar melalui serapan dalam bahasa Indonesia. Dalam penggunaannya, bahasa Jawa memiliki aksara sendiri, yaitu aksara Jawa, dialek yang berbeda dari tiap daerah, serta unggah ungguh basa (etika berbahasa) tersendiri. “Bahasa bukan hanya sekedar bahasa, ada unggah-ungguh di sana,” terang pengajar Program Studi Jawa Universitas Indonesia Dr Ari Prasetiyo kala menjadi pembicara dalam bedah sastra karya Fitri Gunawan di Bentara Budaya Jakarta (18/4).

Bahasa Jawa dibagi menjadi tiga tingkatan bahasa, yaitu ngoko (kasar), madya (biasa), dan krama (halus). Penggunaannya berbeda-beda sesuai dengan lawan yang diajak berbicara.

Ngoko digunakan untuk berbicara dengan lawan bicara yang seumur, sederajat, atau lebih muda. Madya digunakan untuk berbicara dengan orang yang cukup resmi atau lawan bicara sederajat, tetapi ingin lebih menghormati. Sementara itu, krama digunakan untuk berbicara dengan yang dihormati atau yang lebih tua.

Penggunaan bahasa Jawa pada ma­sing-masing tingkatan itu akan berpengaruh pada diksi. Sebagai contoh kata bicara punya tiga ragam dalam bahasa Jawa, yakni ngomong, micara, dan ngendika. Ketika memakai bahasa jawa ngoko, diksi yang pilih ngomong. Ketika memakai bahasa Jawa madya, diksi yang pilih micara. Sementara itu, jika memakai bahasa jawa krama, diksi yang pilih ngendika.

Beberapa contoh lain ialah, untuk menyebut datang, bahasa Jawa punya tiga diksi, yakni teka, dugi, dan rawuh. Mangan, nedha, dan dhahar sebagai diksi dari penyebutan makan. Tidur (turu, tilem, sare), memberi (menehi, nyukani, maringi).

Penempatan bahasa Jawa berbeda-beda sesuai dengan perbedaan umur jabatan, derajat serta tingkat kekerabatan antara yang berbicara dengan yang diajak bicara, yang menunjukkan adanya unggah-ungguh bahasa Jawa.

Penerapan diksi tersebut sangat penting dalam bahasa Jawa. Sebab penerapan diksi yang salah bisa dianggap tidak sopan. Hal itu akan memalukan si pengguna bahasa. Salah satu contoh ialah ketika menggunakan bahasa Jawa krama untuk dirinya sendiri.

Tata krama
Terkait dengan unggah-ungguh, selain ragam tingkatan bahasa yang digunakan, bahasa Jawa juga punya kekhususan dalam intonasi, volume suara, sikap badan, bahkan pandangan mata. Itulah yang menjadikan bahasa jawa menjadi bahasa kompleks dengan unggah-ungguh (tata krama) sebagai intinya.

Menurut Ari, bahasa Jawa juga punya pesan tersendiri dalam menghadapi masalah di era modern. Kondisi sekarang ditandai dengan berkurangnya kualitas keeratan hubungan antar manusia sekaligus menguatnya budaya individualistis. Manusia lebih mengutamakan ego keakuan sehingga kurang menghargai orang lain. Selain itu masih ada budaya materialistis dan kapitalis yang melihat orang lain sebagai musuh atau kompetitor.

Terdapat banyak manfaat dari belajar unggah-ungguh bahasa Jawa. Manfaat ini bisa menjadi penangaal dan pembendung dari berbagai masalah saat ini. Beberapa di antaranya ialah belajar menghargai dan menghormati orang lain, belajar menempatkan diri, belajar mengendalikan ego, belajar rendah hati serta tidak sombong. Hal itu tecermin dari ungkapan bahasa Jawa empan papan, aja rumangsa bisa nanging bisaa rumangsa.

Penggunaan bahasa Jawa sehari-hari sering kali melupakan terdapat tingkat tutur penggunaan bahasa Jawa yang dikenal sebagai penerapan unggah-ungguh. Sebab sebenarnya dalam bahasa Jawa tecermin adanya norma-norma susila, tata krama, menghargai yang lebih muda, dan menghormati yang lebih tua. Di situlah letak eksotisme bahasa Jawa. (M-2)

Komentar