Tifa

Pesan untuk Perbedaan

Ahad, 14 May 2017 08:22 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

Para aktor beradu akting dalam drama musikal West Side Story yang akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 12-14 Mei. -- MI/Abdillah M Marzuqi

TIDAK diragukan lagi, pentas ini memang tentang cinta. Masih tentang seputar tema abadi yang tak bakal selesai dipentaskan. Namun, jangan khawatir sebab ini bukan seperti kisah sinetron yang dua sejoli selalu berakhir tawa dalam pesta pernikahan.

Ini sebuah cerita tentang dua insan yang tak berakhir bahagia. Mereka harus menelan ketragisan dan kenestapaan. Ini kisah tentang kegagalan menyikapi keberagaman. Perbedaan tidak seharusnya menjadi penyebab konflik, tetapi kesempatan untuk saling belajar dan memahami.

Itulah pesan yang dibawa oleh Jakarta Performing Arts Community (JPAC) dalam pentas drama musikal bertajuk West Side Story karya Arthur Laurents di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 12-14 Mei 2017. Pentas ini merupakan pertunjukan berlisensi Music Theatre International (MTI).

Pementasan West Side Story ini merupakan produksi JPAC yang ke delapan. Sebelumnya, komunitas yang dibentuk pada 2014 ini telah menghasilkan tujuh produksi adaptasi teater musikal Broadway.

West Side Story digubah Arthur Laurents, dengan musik oleh Leonard Bernstein dan lirik Stephen Sondheim. Sejak pertama kali dipentaskan pada 1957, drama musikal ini memenangi berbagai penghargaan tertinggi di Tony Awards dan bahkan menyabet 10 Academy Awards, termasuk kategori film terbaik.

Kasih tak sampai

West Side Story mengangkat tema tentang kasih tak sampai yang tumbuh di tengah konflik kekerasan antarkelompok. Dua geng (Jets dan Sharks) yang berseteru karena perbedaan ras dan pendapat. Dalam kisah West Side Story terdapat kisah cinta dua sejoli yang memang susah untuk bersatu karena sejoli tersebut berasal dari kubu yang berbeda.

Karya ini terinspirasi dari cerita klasik Romeo and Juliet karya Shakespeare. West Side Story bercerita tentang Tony, seorang keturunan Polandia-Irlandia, dan Maria, gadis imigran dari Puerto Rico. Dengan latar belakang Kota New York pada 1960, musikal legendaris ini akan dipentaskan dengan perseteruan antara Jets, geng kulit putih, dan Sharks, geng Puerto Rico. Mereka berseteru karena perbedaan ras dan pendapat.

Tony dari Jets dan Maria dari Sharks saling jatuh cinta, tetapi tidak disetujui keluarga dan sahabat mereka. Kisah cinta mereka mengakibatkan perseteruan yang penuh kekerasan dan tragedi.

Drama West Side Story juga membawa pesan mengenai cinta dan perjuangan dengan latar belakang perbedaan dan identitas khusus yang dipilih untuk dipentaskan di tengah isu SARA yang belakangan ini semakin marak. “Ending-nya tragis karena Tony meninggal karena pertempuran geng tadi,” terang produser Puti ‘Alex’ Rahmasari.

Pentas ini terbagi menjadi dua babak. Pertama menampilkan 11 adegan, sedangkan babak kedua membawakan tujuh adegan. Melalui West Side Story, JPAC ingin merefleksikan dan mengajak para penonton untuk menolak segala bentuk kekerasan dan diskriminasi. Keberagaman dalam masyarakat Indonesia diwujudkan dengan tim produksi yang terdiri dari 49 pemain dan 40 kru dengan latar belakang berbeda.

Lewat West Side Story, JPAC juga ingin menyeru pesan mengenai cinta dan perjuangan dengan latar belakang perbedaan ras dan identitas. Hal ini menarik dipentaskan mengingat kondisi saat ini isu SARA yang akhir-akhir ini semakin marak.

Sebagai bentuk kepedulian sosial JPAC terhadap seni pertunjukan, terutama dunia teater musikal, pada produksi kali ini JPAC akan mendonasikan sebagian dari keuntungan penjualan tiket kepada Theatre for Life, sebuah program teater untuk anak-anak muda kurang mampu di Depok, Jawa Barat. (Abdillah M marzuqi/M-2)

Komentar