Tifa

Potret Pengawal Peradaban

Ahad, 14 May 2017 08:00 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Dalam pameran lukisan tunggal bertajuk Sang Kekasih di Grand Sahid Jaya Hotel, ­Jakarta (8-14 Mei 2017), Nabila Dewi Gayatri menghadirkan 50 lukisan ulama Nusantara melalui goresan kanvasnya. -- MI/Abdillah M Marzuqi

BUKAN rahasia lagi, saat ini kondisi Indonesia sedang berada dalam ujian kebangsaan. Ketika bangsa harusnya bersiap untuk berkarya, tetapi justru berkutat dengan persoalan yang seharusnya sudah tidak lagi dipermasalahkan.

Itulah pentingnya untuk mene­ngok karya Nabila Dewi Gayatri dalam pameran lukisan tunggal bertajuk Sang Kekasih pada 8-14 Mei 2017, di Grand Sahid Jaya Hotel, ­Jakarta. Pameran ini dikuratori Kuss Indarto dan Yaksa Agus sekaligus dibuka Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Apa yang istimewa dalam pa­meran itu? Melalui goresan kanvas, Nabila Dewi Gayatri menghadirkan 50 lukisan ulama Nusantara. Ulama-ulama itu dikenal dengan perjuangan untuk bangsa dan negara. Mereka ialah guru yang sesungguhnya. Kearifan yang terpancar dari setiap potret wajah mereka melahirkan kecintaan, penghormatan, dan semangat untuk meneladani. Mereka ialah para pengawal peradaban.

Sebutlah seperti KH Hasyim Asy’ari dengan resolusi jihad kepada para pemuda bangsa untuk mempertahankan republik yang baru lahir. Dari situ konsep cinta tanah air tidak bertentangan dengan agama, bahkan cinta tanah air sebagian dari iman. Masih ada ulama lain seperti KH Abdul Wahab Hasbullah, KH M Nawawi al-Jawi al-Bantani, KH Ihsan al-Jampesi, dan masih banyak ulama lain dengan kualitas keilmuan dan komitmen kebangsaan mereka.

Potret-potret itu seolah bukan sekadar rupa dalam bingkai. Diri dalam potret itu sengaja menghadir dalam kesadaran setiap mereka yang punya memori dengan sebuah nama dan rupa. Mereka masih di sini di alam ini. Menyaksikan segala yang berpautan dan berkelindan atas negeri ini.

Puluhan lukisan potret diri para tokoh ulama Nusantara tidak bisa dipandang secara sederhana sebagai rentetan wajah-wajah manusia semata. Di balik kesederhanaan visual yang dikerjakan sekian lama oleh Nabila Dewi Gayatri ini, termuat sekian banyak pesan yang bisa dieksplorasi.

Becermin dari para kyai
Melalui pameran itu, Nabila se­ngaja ingin menggoda penikmat seni semua untuk berhenti sejenak. Ia mengajak merenungkan perjalanan kebangsaan dengan becermin dari para kiai yang dihadirkan dalam kanvasnya.

“Melihat karya-karya Nabila tentu kita telah mengintip kejujuran. Ia melalui pengalaman batin dan pergulatan estetik berusaha menghadirkan sosok para kiai dengan rasa cinta dan rasa hormat. Ia begitu berusaha menghadirkan detail dengan segala tingkat kerumitan sungguh-sungguh ia hadirkan dalam lukisannya melalui caranya,” begitu menurut kurator pameran Yaksa Agus.

Nabila mampu menghadirkan komposisi apik dengan perpaduan warna dan goresan kuas. Dari tarikan garis terpancar rasa keikhlasan sekaligus penghormatan terhadap para sosok yang terbingkai kanvas.

Menurut Yaksa, Nabila bukan hendak pamer kepiawaian semata dengan menghadirkan suguhan estetik yang seolah tampak mudah dinikmati. Lebih jauh Nabila mampu menghadirkan wajah-wajah itu bukan sekedar dibendakan. Nabila tetap memiliki ruang pembacaan psikologis atas perilaku sosial melalui berbagai sudut paradigma.

“Kutipan visual Nabila memfokuskan pada cara pandang artifisial yang diperoleh dari eksplorasi yang tidak singkat, dengan kata lain Nabila benar-benar memiliki ikatan batin dari sosok yang dilukisnya,” lanjut Yaksa.
Nabila berhasil menciptakan persinggahan menarik setelah melakukan pencarian pengembaraan estetik wajah demi wajah para kiai. Ia mewakili imajinasi dan segala bentuk pencarian dari segi teknis, hingga ide dan gagasan.

“Nabila sesungguhnya sedang melukis tentang jiwanya dengan meminjam sosok-sosok kiai yang disebutnya sang kekasih untuk melukiskan ingatan-ingatannya di masa lampau,” pungkas Yaksa.

Menurut Kuss Indarto, setidaknya pameran Nabila menyiratkan tiga pesan, yakni pelunasan janji atas diri dan orang tua, pengingat sumber daya kualitas ulama Nusantara, dan penegas konsep tentang nilai kenusantaraan atau keindonesiaan.

Proyek pelunasan
Nabila memerlukan waktu sekitar tiga tahun untuk bersiap berpamer karya. Lebih mendasar dari hal itu, pameran tunggal ini juga merupakan proyek pelunasan janji terhadap dirinya dan mendiang ayahnya yang pernah dilontarkan bertahun-tahun lalu sebelum sang ayah meninggal dunia. Pilihan Nabila untuk menekuni dunia seni rupa tidak dilalui dengan mulus dan sederhana. Butuh waktu untuk memperoleh dukungan sebagai seorang perupa perempuan. Ia diharuskan untuk melukis ulama-ulama NU oleh sang ayah. “Hari ini saya penuhi janji itu,” ujar Nabila kala memberi pernyataan dalam pembukaan pameran.

Pameran ini seperti menjadi ­medan pengingat atas kekayaan sumber daya ulama Nusantara yang pernah ada dan terus bersambung garis kesejarahannya hingga kini. Para ulama yang menjadi model karya itu memang berasal dari berbagai kawasan. Mereka merupakan sosok yang ditokohkan pada waktu dan oleh masa yang berbeda. Namun, mereka bersama dalam konsep kenusantaraan dan kebangsaan yang melintasi ruang dan waktu.

Para tokoh tersebut memiliki peran, sepak terjang, dan sumbangsih penting bagi rajutan nilai-nilai kebangsaan yang berangkat dari lokalitas masing-masing. Mereka ialah contoh yang tepat untuk ditiru, di tengah kekacauan identitas sosial-budaya.

Para ulama itu merupakan contoh pengaplikasian kebudayaan dalam beragama. Mereka tidak menolak kebudayaan lokal. Islam Nusantara bertumpu pada pemahaman ini. Islam pokok ajarannya, tradisi dan kebudayaan Nusantara sebagai identitas kebangsaannya. Kebudayaan lampau merupakan jati diri bangsa. Tradisi Nusantara menjadi fondasi untuk membangun identitas yang kukuh.

“Mari kita pertahankan budaya kita, jati diri kita. Islam yang ramah, Islam yang menyatu dengan budaya. Budaya kita perkuat untuk jadi infrastuktur agama. Jangan dibalik, kalau dibalik nanti agama untuk budaya, agama untuk bisnis, agama untuk politk, agama untuk kepentingan. Tapi kalau budaya untuk agama itu benar,” tegas Said Aqil Siradj. (M-2)

Komentar