Jeda

Ber-Pancasila di Politik, Sekolah, hingga Medsos

Ahad, 14 May 2017 07:55 WIB Penulis: Rio/M-3

NUANSA yang ada di Desa Balun ataupun di Dusun Pancasila Trirenggo sayangnya kini semakin dirindukan di wilayah-wilayah lain Indonesia. Bangsa yang semula sangat akrab dengan bahasa toleransi sekarang ini lebih sering terlihat saling mencaci dan mencela dengan alasan suku, agama, ataupun ras.

Perpecahan yang semakin jamak itu dinilai Alissa Wahid terjadi karena banyak faktor. Putri sulung presiden keempat RI yang juga Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian itu menyebut beberapa faktor tersebut ialah globalisasi dan euforia reformasi yang kebablasan.

Globalisasi membuat pertukaran budaya dan ideologi sangat tinggi. Kondisi ini berlangsung hingga tingkat akar rumput berkat media sosial (medsos). Saat ideologi intoleran berpadu dengan kebebasan berpendapat yang tidak terkendali, jadilah bibit perpecahan terbentuk. Orang-orang saling mengunggulkan kelompok dan golongan masing-masing, dan celakanya, dengan serta-merta pula mereka menjelekkan golongan lainnya. Dengan kondisi itu, Alissa berharap semua elemen bangsa mau ikut mengembalikan nilai-nilai Pancasila.

"Karena tidak perduli kamu orang mana, kamu akan diikat oleh persaudaraan dan persatuan Indonesia. Kamu diikat oleh prinsip musyawarah, bukan memenang-menangkan kelompok masing-masing karena semua berhak mendapatkan kehidupan sosial yang layak," tegas Alissa. Ia juga mengingatkan para politikus agar berhenti memainkan sentimen SARA.

"Dampaknya besar dan harus dibayar di seluruh Indonesia," pungkasnya.

Hal senada dikatakan tokoh pendidikan Arif Rahman Hakim. Arif menyoroti isu mengenai nasionalisme. Nasionalisme dalam arti perasaan patriotik dan prinsip tetap harus paling kuat terhadap bangsa sendiri.

"Seseorang atau kelompok yang lebih memperjuangkan bangsa lain, itu tidak boleh. Yang harus diperjuangkan adalah nasionalisme bangsa kita sendiri, misal kita membela Palestina, bukan berarti kita harus menjadi orang palestina," tuturnya.

Kurikulum tak tertulis
Pengamat pendidikan Darmaningtyas menilai perbaikan kurikulum pendidikan terkait dengan pengenalan nilai-nilai Pancasila harus dilakukan. "Saya pikir yang penting itu ialah bagaimana menyusun ulang pengenalan pendidikan Pancasila yang saya pikir saat ini kurang begitu baik di kurikulum 2013. Karena seperti apa pun karakter seseorang, pendidikan adalah hal yang utama untuk mengarahkan karakter seseorang tersebut menjadi lebih baik," tutur Darmaningtyas.

Selain itu, Darmaningtyas menyebut penerapan hidden curriculum (kurikulum yang tidak tertulis) sangatlah penting dalam situasi seperti sekarang ini. Salah satu contoh ialah dalam seragam murid. Penggunaan pakaian agamais, menurutnya, justru menonjolkan perbedaan agama di antara siswa.

Komentar