Jeda

Keterbukaan di Pesantren Bali

Ahad, 14 May 2017 07:01 WIB Penulis: Rio/M-3

Pondok Pesantren (Ponpes) Bali Bina Insani -- Istimewa

NAMA Pondok Pesantren (Ponpes) Bali Bina Insani telah terkenal hingga luar negeri. Keistimewaannya bukan hanya dalam pendidikan agama Islam, melainkan juga nilai toleransi.

Salah satunya terlihat jelas dalam jajaran staf pengajar. Guru beragama Hindu turut diperkerjakan ponpes yang terletak di Kabupaten Tabanan, Bali, ini.

Terletak di daerah permukiman, yang mayoritas berpenduduk beragama Hindu, ponpes ini selalu mengutamakan nilai-nilai Islam agar bisa dirasakan penduduk. Di antaranya dengan memasukkan warga nonmuslim kurang mampu sebagai penerima daging kurban dalam momen Idul Adha. Bahkan, warga nonmuslim lebih diprioritaskan ketimbang warga ponpes.

"Saya selalu mengutamakan daging hasil kurban ke masyarakat sekitar yang nonmuslim dulu, baru umat kami. Dengan hal-hal kecil seperti itulah bagaimana keharmonisan antarumat beragama di sini bisa terjalin dengan baik," jelas Ketua Ponpes Bali Bina Insani, Ketut Imaduddin Jamal, ketika berbincang dengan Media Indonesia, kemarin.

Dengan nilai-nilai toleransi itu, tidak mengherankan jika ponpes tersebut banyak menjadi contoh pembelajaran toleransi. Di antaranya, Ponpes Bali Bina Insani menjadi tempat kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno LP Marsudi bersama delegasi Bali Democratic Forum (BDF) IX akhir tahun lalu.

Jamal menjelaskan ponpes tersebut konsisten menjalankan toleransi karena merupakan bagian dari langkah pembentukan karakter manusia. "Pendidikan itu nomor wahid. Kalau mau mengubah karakter seseorang itu bukan dengan cara memaksa, melainkan dengan cara memberikan pendidikan yang baik. Secara perlahan, karakter seseorang dapat diubah melalui pendidikan, apalagi jika diajarkan sejak di bangku sekolah," tutur pria 60 tahun itu.

Ponpes Bali Bina Insani pun menerapkan pendidikan toleransi itu hingga cara yang sederhana. "Sederhananya, jika menyalami guru muslim, santri akan mencium tangan. Namun, jika dengan guru yang nonmuslim, murid juga tetap harus memberikan hormat dengan cara menundukkan kepala. Hal-hal seperti itu sangatlah sederhana, tapi memiliki makna toleransi yang kuat dan dalam," tegasnya.

Jamal berharap bangsa Indonesia bisa lebih menjadikan sikap toleransi sebagai hal yang mutlak, bukan hanya wacana. "Apalagi Indonesia itu mayoritas beragama Islam yang di dalam Alquran sendiri tidak pernah ada satu pun ayat yang mengajarkan sikap intoleransi," pungkasnya.

Komentar