Jeda

Keberagaman Dalam Satu Atap

Ahad, 14 May 2017 07:01 WIB Penulis: M Ahmad Yakub

Pura dan masjidi berdiri berdampingan di Desa Balun, Lamongan, Jawa Timur. Keberadaan rumah ini menunjukkan pula toleransi yang sudah turun-temurun mereka jalani. -- MI/Yakub

SAAT banyak orang masih gamang dengan toleransi, Pemangku Pura Sweta Maha Suci, Ngarijo, sudah menjalaninya sehari-hari. Pemangku pura di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, ini memiliki keluarga dengan beragam agama. Hal yang sama juga ada di banyak keluarga lain di desa tersebut.

"Tiga saudara saya muslim. Tetangga saya juga ada dalam satu rumah menganut tiga agama. Orangtuanya Hindu, anak pertamanya Islam, dan putra kedua memilih Kristen," tutur Ngarijo kepada Media Indonesia, Jumat (12/5).

Keragaman itu dijalani mereka dengan penuh toleransi. Tidak ada rasa aneh, apalagi sampah berpolemik. Keindahan bertoleransi sudah dikenal desa dengan 1.131 kepala keluarga itu sejak nenek moyang mereka. Meski Islam agama mayoritas, agama lain mendapat hak yang sama.

Tokoh Gereja Kristen Jawi Wetan Balun, Heri, menjelaskan kebersamaan juga dibuktikan dengan saling menjaga dalam pelaksanaan perayaan hari besar. Saat perayaan Natal, Remaja Masjid (Remas) Miftahul Huda dan remaja Pura turut serta mengamankan Gereja Balun bersama dengan pihak Kepolisian dan aparat TNI.

"Mereka juga yang screening jemaat yang mau ke gereja karena para pemuda itu yang lebih tahu, yang datang orang Desa Balun atau tidak," urai Heri.

Indahnya keberagaman dan toleransi antarumat beragama juga membuat Desa Balun kerap menjadi objek penelitian. Masyarakat dan institusi dari luar daerah kerap berkunjung ke 'Desa Pancasila' itu. Di antaranya rombongan Buddha Dharma dari Jakarta dan mahasiswa dari Malaysia. Mereka menjadikan Desa Balun sebagai pembelajaran kebinekaan.

Bangkit dari bencana
Predikat 'Desa Pancasila' juga tersemat pada Dusun Nogosari, Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Seperti juga yang terjadi di Desa Balun, predikat itu bukan disebabkan lambang-lambang Pancasila di sudut desa, melainkan semangat kehidupan di sana. Untoro Hariadi, 49 tahun, menceritakan penamaan 'Desa Pancasila' bermula dari Gempa Bantul 2006 yang mengakibatkan banyak rumah roboh.

Dengan sikap gotong-royong yang dimiliki warga, tanpa suku, agama, ras, dan antargolongan, pemulihan akibat gempa dapat berlangsung dengan cepat. Warga bergotong royong membantu mendirikan rumah-rumah yang rusak, saling menghibur, dan saling memotivasi. Tidak ada yang dibayar, hanya makan siang bersama. Dengan kesadaran masing-masing, mereka membantu warga yang lain.

Padahal, saat itu, Dusun Nogosari terdiri atas 7 RT dengan 550 kepala keluarga. Latar belakang masyarakatnya pun cukup beragam, muslim dan nonmuslim.

Dari pengalaman tersebut, warga sadar ada modal sosial yang tidak ternilai yang mereka miliki. "Warga sepakat melestarikan modal sosial tersebut," kata pria yang ditokohkan di desa tersebut.

Dengan modal sosial itu, lama-kelamaan Dusun Nogosari dikenal dengan 'Desa Pancasila', yang pertama kali diresmikan Bupati Bantul, Idham Samawi, pada 2011. "Kalau mencari gambar-gambar Pancasila yang besar atau patung Pancasila, di sini tidak ada. Pancasila ada di dalam hati setiap warga," kata Untoro yang juga menjadi staf pengajar di Universitas Janabadra Yogyakarta tersebut sambil memegang dadanya.

Sikap Pancasila yang sederhana, misalnya, ketika ada warga yang kesulitan, seperti anggota keluarga sakit atau meninggal dunia, warga yang lain membantunya tanpa melihat suku, agama, ras, dan antargolongan. Acara Syawalan di rumah keluarga nonmuslim pun hal yang biasa di dusun tersebut. "Kata kuncinya kemandirian, kerukunan, kegotongroyongan, dan persatuan," kata dia. Selain itu, tambahnya, keadilan harus ditegakkan. Ini bisa terwujud jika warga yang kaya merangkul yang miskin. Warga yang mampu harus bisa bersikap tidak sombong dan merangkul warga yang lebih lemah.

"Keadilan menjadi hal penting untuk menjaga kerukunan. Tanpa keadilan, hal sepele bisa menjadi persoalan besar dan merembet ke hal-hal lain," tandasnya. (AT/M-3)

Komentar