Teknopolis

Dunia Dilanda Peretasan Massal

Ahad, 14 May 2017 06:29 WIB Penulis: Basuki Eka Purnama

Layar elektronik, yang seharusnya menampilkan jadwal perjalanan kereta, meminta wisatawan untuk menonton jadwal analog di stasiun kereta api utama di Frankfurt am Main, Jerman Barat, Sabtu (13/5). -- AFP PHOTO/DPA/Boris Roessler

RIBUAN pasien di sejumlah rumah sakit di Inggris dan Skotlandia, Jumat (12/5), merasa resah. Hari itu, mereka tidak bisa mendapatkan layanan kesehatan, seperti rontgen dan operasi, lantaran komputer di instansi tersebut rusak. Belakangan diketahui, sebagian besar komputer di departemen kesehatan, termasuk institusi, dilaporkan terkena serangan siber dari program bernama Wanna Cry.

Tak hanya kedua negara tersebut, serangan siber itu ternyata masif dan terjadi di berbagai instansi di hampir 100 negara, termasuk Indonesia. Para ahli menyatakan serangan berskala raksasa itu menggunakan alat peretas yang diyakini dikembangkan Badan Keamanan Nasional (National Security Agency, NSA) AS. Pada April lalu, kelompok peretas yang dikenal sebagai The Shadow Brokers mengklaim telah mencuri alat peretas tersebut dan merilisnya secara daring. “Ini serangan berskala raksasa,” kata ahli keamanan dunia maya dari perusahaan penyedia antivirus Avast, Jakub Kroustek.

Program Wanna Cry ini menginfeksi sebuah komputer dengan mengenkripsi seluruh berkas yang ada di komputer. Dengan menggunakan kelemahan yang ada pada layanan SMB, program itu bisa mengeksekusi perintah lalu menyebar ke komputer lain berbasis Windows pada jaringan yang sama.

Kelompok peretas meminta dana tebusan agar berkas yang dibajak dengan enkripsi bisa dikembalikan dalam keadaan normal lagi. Dana tebusan yang diminta ialah pembayaran bitcoin yang setara dengan US$300 (Rp4 juta) dan Wanna Cry memberikan alamat bitcoin untuk pembayarannya. Namun, tidak jelas apakah dana tebusan itu berlaku untuk tiap komputer atau satu instansi.

Indonesia terkena dampak
Di Indonesia, berdasarkan laporan yang diterima Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), serangan itu juga menimpa Rumah Sakit Harapan Kita dan Rumah Sakit Dharmais. Namun, hanya pihak Dharmais yang mengakuinya, sedangkan pihak Harapan Kita membantah itu.

Presiden Direktur Rumah Sakit Dharmais Abdul Kadir, seperti dilansir Channel News Asia, kemarin, menyatakan hampir seluruh komputer di rumah sakit itu terinfeksi oleh virus tersebut sehingga sistem dan data pasien serta tagihan terkunci. Abdul mengungkapkan akan ada gangguan pada operasional di rumah sakit karena mereka kini beroperasi tanpa menggunakan sistem komputer.

Sementara itu, Dirut RS Harapan Kita Hananto Andriantoro mengatakan informasi serangan sudah diterimanya sejak kemarin pagi. Pihaknya pun langsung bergerak cepat mengamankan semua data dan aplikasi.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Semuel A Pangerapan, seperti dikutip dari laman Komiinfo.go.id menyatakan, meski serangan siber itu berskala global, dia meminta warga untuk tak panik. “Kami minta masyarakat tetap tenang dan meningkatkan kehati-hatian dalam berinteraksi di dunia siber.”

Menurut dia, saat ini belum ada solusi paling cepat dan jitu untuk mengembalikan berkas yang sudah terinfeksi Wanna Cry. Namun, memutuskan sambungan internet dari komputer yang terinfeksi akan menghentikan penyebaran virus itu ke komputer lain. (AFP/AP/SU/E-2)

Komentar