PIGURA

Nafsu Niwatakawaca

Ahad, 14 May 2017 07:05 WIB Penulis: Ono Sarwono sarwono@mediaindonesia.com

Dok MI

DALAM rangkaian Kongres IX Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi) di Gedung Kautaman, Jakarta, belum lama ini, digelar pentas Wayang Orang (WO) Sriwedari dari Surakarta, Jawa Tengah. Kelompok WO legendaris yang telah berusia 100 tahun tersebut dengan sangat apik mementaskan lakon Mintaraga.
Kisah ini menceritakan laku spiritual Arjuna, kesatria Pandawa, di Gunung Indrakila. Benang merahnya ini merupakan upaya Arjuna menyucikan diri sekaligus usaha mendapatkan kesaktian sebagai bekal menghadapi perang besar Bharatayuda. Dari perspektif lain, bila dikontekskan dengan situasi sosial politik kebangsaan saat ini, cerita ini bisa pula dimaknai sebagai sindiran bubrahnya kahyangan (dunia)-nya para elite. Runyamnya wajah mereka ini disebabkan elite sedang menggembala diri dengan nafsu Niwatakawaca.

Keangkaramurkaan
Diriwayatkan, ada raksasa bernama Niwatakawaca yang berkuasa atas Negara Manikmantaka. Raja menggiriskan ini mewarisi kesaktian orangtuanya, Kala Pracona. Seperti bapaknya, dengan kelebihannya itu Niwatakawaca gemar mengumbar keangkaramurkaan. Maka, tidak aneh bila dalam pengembaraan hawa nafsunya, Niwatakawaca kerap menerjang norma dan aturan. Apa pun yang dikehendaki mesti terturuti. Siapa yang menghadang, pasti diganyang. Tidak pandang bulu, para dewa di kahyangan pun jika tidak sepaham, ia gelandang.

Sebagai raja, Niwatakawaca telah memiliki istri bernama Sanjiwati. Mereka memiliki dua anak, Nilarudraka dan Mustakaweni. Namun, itu tidak memuaskannya. Niwatakawaca merasa belum marem jika belum menggandeng Bathari Supraba, bidadari terkemuka Kahyangan. Ia lalu mengutus Patih Mamangdana melamar ke Kahyangan Jonggring Saloka. Dalam mengemban tugas, sang duta disertai bala yaksa pilihan. Ini sebagai antisipasi apabila lamarannya ditampik, kahyangan akan dibumihanguskan, dijadikan karang abang (hancur lebur).

Di depan gerbang Kahyangan, kedatangan Mamangdana dihadang prajurit dorandara (pasukan Kahyangan). Karena menolak kembali, terjadilah peperangan. Mamangdana sempat mengobrak-abrik pasukan Kahyangan sebelum akhirnya dikalahkan para dewa. Melihat anak buahnya kewalahan, Niwatakawaca turun sendiri ke gelanggang. Tidak ada satu dewa pun yang kuat menghadapi kesaktiannya. Maka, Bathara Narada terpaksa datang menemui Niwatakawaca di Repatkepanasan, alun-alun Kahyangan. Di sana, Narada dengan khidmat memberi nasihat.

Menurut Narada, semua titah di jagat raya ini telah dipasang-pasangkan sesuai dengan kodratnya. Dewa berpasangan dengan dewi, bathara dengan bathari, kesatria-putri, raksasa-raksesi. Atas dasar hukum alam itu, Narada mengingatkan Niwatakawaca untuk sadar dan tahu diri. Namun, sang raksasa mbeguguk makutha waton (berkeras) dan menolak mungurungkan keinginannya. Malah ia mengancam, apabila dewa tidak menyerahkan Supraba, Kahyangan diluluhlantakkan. Narada kemudian memintanya bersabar dan menunggu. Ia akan menghadap Bathara Manikmaya sebagai penguasa tunggal Kahyangan Jonggring Saloka.

Lulus ujian
Saat Narada siap melapor, Manikmaya mendahului bertanya, apa gerangan yang membuat Kahyangan terasa panas. Narada menjawab, ada raksasa yang kurang ajar yang meminta Supraba. Di sisi lain, terganggunya ketenteraman Kahyangan juga akibat kegenturan Arjuna bertapa di Indrakila dengan nama Mintaraga. Manikmaya bersabda bahwa Arjuna yang akan memulihkan Kahyangan. Akan tetapi, sebagai bekalnya, Arjuna mesti lulus serangkaian ujian sehingga benar-benar siap menjadi jagonya dewa untuk mengusir Niwatakawaca.

Lalu, diperintahkanlah tujuh bidadari untuk menggoda Arjuna. Mereka ialah para bidadari unggulan, yaitu Supraba, Wilutama, Warsiki, Surendra, Gagarmayang, Tunjungbiru, dan Lenglengmulat. Namun, misi mereka gagal. Tidak seinci pun Mintaraga beringsut dari semadinya. Langkah berikutnya Bathara Indra mengejawantah dengan menyamar sebagai Resi Padya. Ia menguji Mintaraga dalam hal berbagai ilmu. Lagi-lagi, sang petapa lulus. Lalu, Bathara Manikmaya turun tangan langsung menguji kualitas kesatria Pandawa tersebut.

Pada suatu ketika, ada seekor babi yang mengamuk di sekitar pertapaan Indrakila. Mintaraga lalu memanah hewan jelmaan Mamangmurka, prajurit Manikmantaka. Namun, ketika ia mendekati wraha (babi) itu, ternyata sudah ada panah lain yang menancap. Sesaat kemudian datanglah kesatria yang mengaku bernama Kirata. Arjuna dan Kirata saling mengklaim yang menyirnakan perusak hutan itu. Akibatnya perselisihan tidak terelakkan. Singkat cerita, Kirata kembali ke wujud aslinya sebagai Bathara Manikmaya. Mintaraga sesegera bersimpuh dan menghaturkan sembah.

Manikmaya bersabda bahwa dewa mengabulkan apa yang diinginkan Arjuna setelah sekian lama bertapa. Raja Kahyangan itu lalu memberikan senjata berupa panah pasopati. Akan tetapi, Arjuna mesti melaksanakan perintahnya, mengenyahkan Niwatakawaca, pengganggu Kahyangan. Manikmaya juga menginstruksikan Supraba membantu Arjuna mengemban misi suci itu. Untuk memuluskan operasi, Supraba berpura-pura bersedia dipinang Niwatakawaca. Arjuna mendampinginya sambil memantra aji panglimunan sehingga keberadaannya tidak terlihat oleh siapa pun. Dari rayuan Supraba diketahui bahwa titik kelemahan Niwatakawaca terletak pada pangkal lidahnya. Ketika ada momen tepat, Arjuna secepat kilat melepaskan panah pasopati yang menebas pangkal lidah Niwatakawaca sehingga tewas.

Dalam diri kita

Pesan kisah ini ialah bahwa Kahyangan, sebagai tempat terhormat, menjadi bacin dan kehilangan kewibawaan akibat digegabah (dijamah) Niwatakawaca yang merupakan simbol keangkaramurkaan. Kahyangan pulih setelah Niwatakawaca disirnakan Mintaraga. Dalam seni pedalangan, Mintaraga dari kata witaraga. Wita artinya memisah, raga berarti badan kasar (kotor). Jadi, artinya kurang lebih membersihkan diri segala dosa dan najis.

Mintaraga memiliki nama lain, Ciptaning. Cipta berarti harapan menjadi, ning dari kata hening yang artinya suci. Jadi, makna Ciptaning ialah membebaskan diri dari kotornya nafsu duniawi. Hikmahnya, gaduhnya elite kita yang seperti tidak berkesudahan hingga saat ini disebabkan mereka betah dikuasai nafsu Niwatakawaca. Untuk menyembuhkannya, mesti menghadirkan Mintaraga alias Ciptaning. Pertanyaannya, di mana Ciptaning? Di dalam diri kita masing-masing. (M-4)

Komentar