Gaya Urban

Tawa yang Menyingkirkan Racun

Ahad, 14 May 2017 05:31 WIB Penulis: Ardi Teristi Hardi ardi@mediaindonesia.com

Gerakan-gerakan pada yoga ketawa dapat memperpanjang pembuangan napas sehingga pembuangan racun juga bisa lebih banyak. MI/ARDI TERISTI

SUARA riuh terdengar dari sebuah tempat di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada Minggu (7/5) pagi yang umumnya kampus sepi dari kegiatan, nyatanya ada sekitar 100 orang berkumpul di sana. Awalnya mereka melakukan pemanasan layaknya sebelum berolahraga. Peregangan dilakukan perlahan pada leher, tangan, badan, hingga kaki.

Namun, kemudian bukannya melakukan gerakan senam, aerobik, atau sejenisnya, mereka malah mulai tertawa. “Ha ha ha... ho ho ho,” begitu suara mereka sambil melakukan berbagai aksi imajinatif layaknya anak kecil. Ada yang sambil bertepuk tangan dan ada pula yang seolah-olah menginjak balon di kaki temannya. Kegiatan tertawa yang awalnya terlihat aneh karena dilakukan dalam ritme tertentu dan dengan bantuan imajinasi itu rupanya bertajuk yoga ketawa (laughter yoga). Kegiatan itu dipimpin langsung oleh Emmy Liana Dewi, laughter yoga ambassador sekaligus guru laughter yoga tesertifikasi pertama di Indonesia.

Yoga ketawa disebut juga hasyayoga. Jenis yoga ini sudah banyak dilakukan di taman-taman terbuka sejak 90-an. Emmy menyebut yoga ketawa mengembalikan kita ke dunia anak-anak dengan tertawa, menari, dan bergembira. Menurut dia, dengan mengajak orang tertawa, kita dapat menularkan fibrasi positif kepada lingkungan. “Tertawa jangan menunggu gembira dan bahagia. Kita harus berpikir, dengan tertawa, kita bisa gembira dan bahagia,” kata dia kepada Media Indonesia dalam kegiatan yang sekaligus merayakan Hari Tertawa Sedunia yang jatuh awal Mei.

Lebih lanjut Emmy menjelaskan perbedaan yoga ketawa dengan yoga klasik ialah pada gerakannya. Yoga ketawa menggunakan gerakan layaknya anak-anak bermain. Sebab itu gerakan yoga ketawa dinilai bisa dilakukan semua orang, dari anak-anak kecil, orang berkebutuhan khusus, sampai lanjut usia. “Kita menggunakan gerakan-gerakan seperti anak-anak yang sedang bermain. Olah napasnya dengan olah tawa dan seperti (olah napas) yang dilakukan pada yoga-yoga pada umumnya,” kata dia.

Sebelum kegiatan berlangsung, Emmy membuat aturan untuk semua peserta mematikan gawai masing-masing. Emmy menjelaskan aturan tetap itu dibuat karena ia yakin gawai telah membuat manusia lebih sedikit tertawa dan sulit tidur. Pada sesi terakhir, semua peserta diajak bermeditasi bersama (relaxation). Pada bagian ini, suasana terasa tenang dan damai. Sambil bermeditasi, tersungging senyum di wajah para peserta.

Menurut Emmy, gerakan-gerakan pada yoga ketawa dapat memerpanjang pembuangan napas sehingga racun-racun dalam tubuh yang terbuang juga bisa lebih banyak. Selain itu, yoga ketawa bagus buat perkembangan otak dan memprog­ram tubuh agar gembira. “Gerakan yoga dapat membentuk emosi. Yoga ketawa dapat melatih mengatur pernapasan dan membuat kita lebih rileks ditambah tertawa membuat bahagia,” tambahnya. Walau gerakan-gerakan yang dilakukan terlihat sederhana seperti bermain-main, tampaknya cukup banyak kalori yang terbakar. Tubuh peserta terlihat cukup banjir peluh.

Bahagia dan perbaikan diri
Menurut Annisa Poedji Pratiwi, manfaat yang dirasakannya seusai mengikuti yoga ketawa ialah dapat meningkatkan kesehatan. “Dengan tertawa, hormon endorfin yang diproduksi bisa lebih banyak sehingga meningkatkan kesehatan menjadi lebih baik,” kata alumnus Fakultas Psikologi UGM yang sekaligus penanggung jawab kegiatan itu. Selain itu, kata psikolog di Kharisma Consulting tersebut, dengan tertawa, kita bisa memunculkan energi positif sehingga memunculkan perasaaan bahagia. “Ketika bahagia, kita akan lebih mudah melakukan perbaikan diri, baik bagi diri sendiri maupun orang lain,” lanjut dia.

Menurut Koordinator Bidang Psikologis Klinis Magister Psikologi Profesi Fakultas Psikologi UGM Idei Khurnia Swasti, kegiatan yoga ketawa bisa menjadi salah satu kegiatan promosi kesehatan mental. Ia menjelaskan metode kesehatan mental yang biasa dilakukan ialah pendekatan kelompok dan individu. Contoh pendekatan kelompok, misalnya, dengan yoga ketawa, sedangkan pendekatan individu, misalnya, dengan konseling atau terapi.

Secara praktis, kata Idei, Yoga Ketawa sangat bermanfaat. Peserta bisa merasakan yoga ketawa dapat membangun atmosfer kebahagiaan dalam diri. Manfaatnya, ekspresi-ekspresi kebahagiaan muncul sehingga peserta menjadi lebih lepas dan rileks. Idei berpendapat, dari sisi akademisi, ada baiknya kegiatan-kegiatan yoga ketawa dapat ditindaklanjuti dengan penelitian-penelitian. Dengan cara itu, manfaat dari yoga ketawa bisa lebih terukur dengan baik. (M-3)

Komentar