Travelista

Taroko Surga di Timur Taiwan

Ahad, 14 May 2017 04:00 WIB Penulis: Andhika Prasetyo andhika@mediaindonesia.com

Sungai Liwu yang mengalir dan membelah Ngarai Taroko, di Taroko, Hualien. Sebagian besar para pengunjung yang datang ke Taroko National Park memilih untuk menikmati keindahan sungai itu di Tunnel of Nine Turns Trail. THINKSTOCK

BERUSIA hampir ¾ abad, Lin Mei masih begitu lincah menapaki jalan aspal menanjak. Keringat yang tercucur seakan tidak dihiraukannya. Tidak sekali pun napasnya terengah-engah walau terus berucap panjang lebar. Lin merupakan salah satu pemandu wisata di Taroko National Park, sebuah lembah ngarai yang luar biasa indah yang terletak di sisi timur Taiwan, tepatnya di Provinsi Hualien.

“Tidak sah rasanya jika seseorang sudah menghabiskan waktu liburan di Taiwan, tetapi tidak mengunjungi Taroko National Park,” ujar Lin saat mendampingi rombongan jurnalis asal Asia Tenggara, India, dan Selandia Baru dalam rangka kunjungan pariwisata ke Taiwan, akhir pekan lalu. Berjarak sekitar 150 kilometer ke arah timur dari Taipei, dengan menggunakan railway train dan dilanjutkan dengan taksi, pelancong hanya membutuhkan waktu 3 hingga 4 jam untuk dapat berada di salah satu dari sembilan taman nasional yang terdapat di Taiwan tersebut.

Taroko National Park bak sebuah tempat yang tepercik tanah surga. Berbagai pemandangan indah dan memesona tidak pernah berhenti memanjakan mata. Begitu banyak yang dapat dilihat, mulai permukiman suku asli setempat, kuil, museum, dan yang paling utama lembah ngarai marmer akan terus menemani setiap jengkal perjalanan. “Sekitar empat juta tahun lalu, Lempeng Filipina dan Lempeng Eurasia bertabrakan dan membentuk lapisan batu kapur yang tebal. Lapisan tersebut menyembul hingga lebih dari 3.700 meter dari permukaan laut ke angkasa,” ucap Lin dengan gambling menceritakan sejarah terbentuknya taman nasional kebanggaan masyarakat Taiwan itu.

Sembari mengacungkan jari telunjuknya ke langit, Lin mengatakan ngarai tersebut hingga kini masih terus bergerak 0,5 sentimeter ke atas setiap tahunnya. Kondisi alam yang sangat cantik itu pun disempurnkan dengan begitu banyaknya hewan yang bermukim di sekitar wilayah tersebut. “Ada banyak spesies di sini. Yang paling dikenal adalah beruang hitam, monyet, rusa, dan ratusan spesies burung,” tutur Lin. Cukup lama Lin mendeskripsikan setiap hal yang ada dan ia lihat di sana.

Wajib berhelm
Ya, Tunnel of Nine Turns Trail, tempat semua interaksi antara Lin dan para jurnalis berlangsung, memang lokasi yang sangat tepat untuk bisa menikmati semua yang ada di Taroko National Park. Hampir semua pemandangan laik untuk disaksikan, mulai aliran Sungai Sakadang dengan ekosistem di sekitarnya hingga Kuil Changchun dengan air terjun abadinya, ada di sana. Bahkan, ketika berada di Tunnel of Nine Turns Trail, pengunjung dapat memegang batuan marmer Ngarai Taroko yang menjulang tinggi.

“Ayo jalannya sedikit cepat. Jangan berhenti terlalu lama di titik ini karena batuan masih kerap jatuh dari atas,” ucap Lin sambil menunjuk bekas batuan jatuh yang menghantam aspal dan menyisakan banyak luka di permukaannya. Karena alasan itu pula, setiap pe­ngunjung yang melewati trek tersebut dianjurkan menggunakan helm untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Kuil Changchun
Kembali melanjutkan perjalanan, Lin membawa rombongan terus menapaki jalan aspal sementara matahari sudah jauh di sebelah barat. Malam sudah hampir tiba dan Lin sebisanya menceritakan apa yang masih perlu diketahui, termasuk Kuil Changchun. Sambil menunjuk dari kejauhan, ia menceritakan kuil teresebut dibangun pada 1957 sebagai penghormatan kepada para pekerja yang tewas ketika membangun jalan raya Central Cross-Island Highway.

Jalan raya sepanjang 192 kilometer itu dibangun untuk menyambung sisi barat pulau, yang dimulai dari Taichung hingga ke timur di Taroko. Dalam proses pembangunan yang memakan waktu tiga tahun sembilan bulan, lebih dari 5.000 pekerja dilibatkan. “Nahasnya, nyawa 226 pekerja harus melayang dalam proses konstruksi tersebut,” papar Lin. Hampir pukul 17.00 waktu setempat, perjalanan menjelajahi secuplik keindahan Taroko pun usai. Butuh waktu berhari-hari untuk dapat memijakkan kaki di semua tempat yang luar biasa indah itu.

Lin mengatakan, dalam setahun, setidaknya sekitar dua atau tiga juta pengunjung datang ke Taroko National Park. “Jumlah yang terus bertambah setiap tahunnya. Akan tetapi, kami tidak memiliki catatan berapa banyak angka pastinya. Karena kami tidak memiliki data, kami tidak menarik biaya bagi pengunjung yang datang ke tempat ini. Semuanya gratis,” tutup Lin.

Aroma Jepang di Hualien
Masih di sebalah timur Taiwan, perjalanan yang bermula dari lokasi yang menampakkan keindahan alam, sekarang bergeser ke sebuah tempat suci dan bersejarah di Ji’an, Hualien. Sekitar 1 jam perjalanan dengan bus dari Taroko, rombongan wartawan dari Asia Tenggara dan Selandia Baru tiba di satu-satunya kuil peninggalan Jepang di Taiwan. “Kuil ini dinamai Ji’an Keishin, atau dikenal juga dengan sebutan Chi’an Ching Hsou,” tutur Chen Tse, salah seorang pengelola yang juga bertindak sebagai pemandu bagi para wisatawan, membuka percakapan.

Ia mengatakan bangunan yang didirikan pada 1917 itu awalnya merupakan sebuah kamp bagi para tentara Jepang. “Pada masa kolonialisme, ribuan tentara dan masyarakat Jepang bermigrasi ke tempat ini,” lanjutnya. Karena kondisi alamnya yang sangat baik, Chi’an pun dijadikan sebagai lokasi industri hortikultura selama masa penjajahan Jepang.
“Sebagian besar imigran Jepang yang datang, mereka bertani di sini. Hal itu jelas sangat mengganggu penduduk asli setempat. Tindakan yang tidak bersahabat pun mulai dilayangkan kepada para imigran,” papar Chen.

Sejak saat itu, kamp tentara Jepang mulai berubah fungsi. “Tempat ini menjadi bangunan tempat banyak masyarakat Jepang datang untuk beradaptasi. Tempat ini membantu mereka pada masa-masa awal perpindahan. Selain harus bersitegang dengan penduduk se­tempat, mereka harus membiasakan diri dengan cuaca di sini yang jelas berbeda dengan tempat asal mereka,” jelasnya.

Seiring dengan semakin banyaknya imigran asal ‘Negeri Sakura’ yang singgah, kegiatan keagamaan pun mulai dilakukan, kepercayaan masyarakat Jepang, Shinto, mulai disebarkan di daerah setempat. Sambil mengelilingi kuil, Chen menunjukkan 88 statue yang mewakili 88 kuil Buddha di Pulau Shikoku, Jepang. “Jadi jika ingin mengunjungi seluruh kuil yang ada di Shikoku, kalian cukup datang ke sini. Semuanya ada di sini,” ucap Chen seraya tertawa.

Tepat di seberang jajaran statue, berdiri tegak sebuah monumen yang berbentuk batu besar dan diukir tulisan Jepang di satu sisinya. Chen berkisah, “Dulu, sebelum ada dokter, para imgiran datang menemui master kuil. Lalu, master akan membawa mereka yang sakit mengelilingi batu ini. Mereka percaya batu ini dapat memberikan kesehatan bagi yang sakit.” “Mereka akan berkeliling sebanyak 108 putaran sambil membaca doa-doa,” sambungnya.

Festival tahunan
Selepas kekalahan Jepang pada Perang Dunia Kedua, pendudukan di Ji’an pun dihentikan. Kondisi Ji’an Keishin begitu mengkhawatirkan. “Statue-statue dicuri. Dari 88 yang asli, hanya 70 yang tersisa. Beberapa yang kita lihat sekarang ini adalah replika,” paparnya. Tidak lama setelah Jepang angkat kaki, masuklah Tiongkok yang kemudian mengubah kuil Shinto tersebut menjadi beraroma Buddha.

“Kuil ini baru diakui sebagai salah satu situs bersejarah pada 1997. Pemerintah mengucurkan dana untuk memperbaiki tempat ini dan mulai dibuka untuk umum pada 2003,” terangnya. Saat ini, kuil tersebut, dengan bantuan lembaga swadaya masyarakat asal Jepang, juga kerap digunakan sebagai lokasi festival kebudayaan ‘Negeri Matahari Terbit’. “Setidaknya sekitar 350 ribu pe­ngunjung dari luar Hualien datang ke tempat ini setiap tahunnya.” (M-1)

Komentar