MI Muda

Kece tanpa Kere Bisa Dong!

Ahad, 14 May 2017 03:19 WIB Penulis: SURYANI WANDARI muda@mediaindonesia.com

Buku Kece Tanpa Kere yang diterbitkan Permata Bank ini memberikan edukasi fi nansial anak muda sehingga bisa menghargai nilai hidup dan bisa menabung. DOK WANDARI

KAYAKNYA dulu waktu kecil, main gundu maupun petak umpet di depan rumah saja rasanya sudah senang banget. Sekarang, teknologi sudah semakin memudahkan hidup, penghasilan sudah lebih besar, tapi kok rasanya selalu ada yang kurang dan tak lengkap. Kenapa ya tidak bisa bahagia juga? Kamu mungkin juga pernah berpikiran dan bertanya-tanya tentang a state of happiness di zaman sekarang kok susah banget kan?

Ya, nyatanya uang bukan satu-satunya yang bisa membeli kebahagiaan. Terkadang untuk menjadi seorang yang kece, seseorang akan mengalami perubahan kebiasaan konsumsi, apalagi ketika pemasukan bertambah hanya untuk memberikan kepuasan emosional. Padahal, kebutuhan di masa depan mungkin lebih tinggi. Dalam buku Kece tanpa Kere, anak muda diajak untuk menjalani gaya hidup hemat lewat gerakan #SayangUangnya.

“Kami memberikan inovasi bagi jutaan keluarga dengan memberikan edukasi fi nansial sehingga anak muda dapat menghargai nilai hidupnya dan bisa menabung,” kata Bianto Surodjo, Direktur Retail Banking Permata Bank, dalam peluncuran buku di Kinokuniya Plaza Senayan, Jakarta Rabu (3/5).

Hidup cuma sekali
Buku ini pun mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap mantra YOLO, You Only Live Once, yang semakin populer di kalangan usia 18 hingga 35 tahun. Mantra ini seakan mengajarkan bahwa hidup hanya sekali, haruslah dinikmati sehingga harus dijalani tanpa penyesalan. Namun, mantra ini disalahartikan menjadi makna yang negatif, hidup menggila hari ini seperti tidak ada hari esok. Termasuk dalam urusan konsumsi sehingga membuat generasi milenial terjebak dalam hidup konsumtif tanpa memikirkan masa depan.

Padahal, jika hidup hanya sekali, hidup haruslah dimaksimalkan baik untuk pengembangan diri maupun persiapan masa depan. Dalam riset yang dilakukan tim penulis, 28% orang Indonesia punya pengeluaran yang lebih besar daripada pendapatan bulanan bahkan rata-rata mengalami defisit sekitar 35% dari pemasukan. Meskipun bangkrut, bukan berarti penghasilan mereka kecil. “Godaannya memang banyak sekali seperti kemudahan belanja daring.

Sebenarnya mereka tidak mampu namun memaksakan diri. Mari kita mengenal diri sendiri apa yang menjadi kebutuhan dan kemauan,” kata Adinia Wirasti, aktris yang juga belajar pengelolaan keuangan lewat buku ini. Mengelola keuangan memang menjadi tantangan sendiri bagi anak muda seperti Wulan, siswa SMKN 20 Jakarta, yang setiap minggunya diberi uang jajan oleh kedua orangtuanya. “Susah memang untuk membeli kebutuhan dan kemauan, lebih besar kemauan apalagi ketika memegang uang banyak,” kata Wulan.

Langkah nyata
#SayangUangnya ialah gerakan yang mengajak masyarakat untuk mengurangi kebiasaan konsumtif dengan hidup lebih hemat, tetapi masih bisa menikmati hidup dan mengubah pola pikir bahwa hemat berbeda dengan pelit serta menginspirasi untuk semangat menabung, menjalani gaya hidup frugal, bijak dalam bertransaksi sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Materi sih gampang, tapi bagaimana cara memulainya? Buku ini menjelaskan apa langkah nyata yang bisa dilakukan kaum milenial, yakni dengan mengubah pola pikir yang benar bahwa kamu tidak membutuhkan banyak hal untuk bahagia. “Pola pikir yang perlu diubah sebelumnya yakni prinsip hemat yang berbeda dengan pelit,” kata Head Customer Segmentation and Marketing Permata Bank, Ivy Widjaja. Pelit ialah tidak mau mengeluarkan uang.

Meskipun memilikinya dan banyak keinginan, ia tidak mau mengeluarkannya. Sementara itu, hemat berarti punya uang, tidak ragu menggunakannya untuk hal yang berguna dan sesuai serta banyak keinginan tapi bisa mengatur skala prioritas. Kedua yakni mengetahui bagaimana kebiasaan yang baik terbentuk dengan melakukannya berulangulang setiap hari hingga melakukannya dari alam bawah sadar serta mengatur aplikasi uang dengan baik.

Dengan begitu, saat mendapatkan uang, anak muda bisa mengelolanya dengan baik, menabungnya, bahkan berinvestasi. Seperti dilakukan Shinta SMK Farmasi Ditkesad yang sudah punya penghasilan sendiri dari kegiatannya menari di berbagai acara. “Aku sudah mulai membiar sakan rutin menabung setiap bulannya ke pihak asuransi agar sekaligus bisa berinvestasi untuk masa depan aku,” kata Shinta.

Yang menarik buku ini bukan hanya memberikan ilmu, melainkan sangat bahasa sangat interaktif. Terdapat pula jurnal inspirasi menjadi generasi #SayangUangnya untuk menjalankan tantangan 21 hari sayang uangnya untuk memupuk kebiasaan baru seperti berhemat dan menabung. Yuk ikutan! (M-1)

Komentar