Film

Manusia dalam Lingkaran Teknologi

Ahad, 14 May 2017 01:00 WIB Penulis: Hera Khaerani hera_khaerani@mediaindonesia.com

DOK. FILM THE CIRCLE

JIKA ada hal yang paling ditakutkan Mae (Emma Watson), itu adalah bakat dan kemampuan yang menjadi sia-sia. Kesia-siaan itu yang selama ini dirasakannya ketika bekerja sebagai petugas bagian layanan pelanggan di perusahaan daerah. Semua berbeda saat ia bekerja di The Circle, perusahaan teknologi dan media sosial terbesar di dunia. Meski harus mengawali kariernya sebagai bagian layanan pelanggan juga, dia merasa sangat bersemangat dan merasa berbagai hal baik seolah menantinya di masa mendatang. Itu ibarat kesempatan sekali seumur hidup.

Tidak diperkirakan sebelumnya, pekerjaannya di sana akan memengaruhi hidupnya, teman-temannya, keluarga, bahkan masa depan kemanusiaan. The Circle yang mengawali bisnisnya dengan sukses menyajikan platform media sosial merambah berbagai jenis teknologi tanpa batas. Mereka menciptakan ‘health tracker’, cip yang ditanamkan ke tulang belakang anak-anak untuk mencegah penculikan dan kasus anak hilang, kamera kecil yang dilengkapi kemampuan diagnostik, dan banyak lagi.

Bailey (Tom Hanks), salah satu pendirinya, berkeyakinan teknologi harus memungkinkan segala informasi bisa diakses sehingga bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. “Mengetahui banyak hal itu bagus, tapi mengetahui segalanya itu lebih baik lagi,” kata dia. Makanya salah satu produk teknologi yang gencar dipromosikannya ialah kamera-kamera yang ukurannya tak lebih dari kelereng kecil.

Kamera yang dijual murah itu bisa dipasang di mana saja tanpa ketahuan sehingga tak perlu izin pihak yang berwenang. Kamera semacam itu memang efektif dalam pengumpulan informasi. Bagi para peselancar, contohnya, mereka bisa dengan mudah mengecek gelombang air laut di pantai sebelum datang ke lokasi. Pantauan insiden kecelakaan juga bisa dilakukan siapa saja, di mana saja.

Privasi
Di sisi lain, muncul pertanyaan apakah The Circle telah kelewat batas menerobos privasi? Masalah privasi itu yang menjadi kritik sebagian anggota parlemen. Kendati tak sedikit juga yang memandang sebaliknya, transparansi yang didorong perusahaan teknologi itu memang dibutuhkan masyarakat. Salah satu contohnya ialah dengan memberikan akses penuh bagi masyarakat ke semua kegiatan, e-mail, dan percakapan telepon anggota dewan yang bekerja sama dengan The Circle dalam rangka transparansi.

Merasakan manfaat dari kamera ciptaan The Circle itu, Mae akhirnya secara suka­rela melibatkan dirinya dalam eksperimen yang membuat kehidupannya bisa ditonton semua pengguna aplikasinya di seluruh dunia. Segala hal yang dilihatnya bisa dilihat orang lain, mulai bangun tidur, berinteraksi di kantor, kehidupan bersama orangtuanya, hingga tidur kembali. Waktu yang dimilikinya seorang diri tanpa sorotan kamera hanyalah 3 menit tiap perlu ke kamar mandi.

Sebagai orang pertama yang dilibatkan dalam eksperimen itu, dalam waktu singkat Mae mendapat popularitas. Dia terkenal dan mendapat banyak teman dari seantero dunia, teman-teman yang bisa mengetahui segala tentang dirinya meski belum pernah bertemu langsung. Celakanya, mengekspos kehidupan pribadi secara tanpa batas ternyata justru mengganggu orang-orang terdekatnya. Dia harus mempelajari hal tersebut dengan cara pahit, yakni dengan kehilangan sahabat dan dijauhi keluarga satu per satu.

Introspeksi
Itulah kisah yang diangkat dalam film The Circle garapan sutradara James Ponsoldt. Diangkat dari novel karya Dave Eggers dengan judul yang sama, film futuristis tersebut mengajak kita untuk mengintrospeksi pemanfaatan teknologi dalam kehidupan. The Circle menjadi semakin relevan dengan kondisi saat ini ketika internet of things (IoT) sudah mulai masuk ke berbagai barang keperluan rumah tangga, media sosial menjadi sarana yang terkesan krusial untuk interaksi manusia, dan orang-orang makin tidak bisa terlepas dari ponsel pintarnya.

Betul teknologi memudahkan kehidupan manusia, tapi penggunaan teknologi tanpa batas alih-alih menyelesaikan masalah malah berpeluang memunculkan perkara baru. Lebih lanjut, tak selayaknya teknologi dipaksakan bagi semua orang. Ia mestilah tetap menjadi pilihan setiap orang, semua berhak memilih ‘lingkarannya’ sendiri tanpa paksaan. (M-4)

Komentar