Nusantara

Ratusan Warga Lereng Merapi Gelar Tradisi Sadranan Jelang Puasa

Sabtu, 13 May 2017 14:50 WIB Penulis: Widjajadi

MI/Widjajadi

ULAMA desa, Kiai Haji Suparno, memberikan doa khusus diikuti ratusan warga lereng Merapi yang berkumpul di bangunan joglo kompleks Makam Puroloyo, Dukuh Tunggulsari, Desa Sukabumi, Cepogo, Jawa Tengah, pada Sabtu (13/5) pagi.

Pemandangan seperti itu selalu terjadi saat warga lereng Merapi mengelar tradisi Sadranan di makam leluhur setiap tahun menjelang bulan puasa atau pada bulan Ruwah.

Sejak pukul 07.00 WIB, warga dari sejumlah desa di kecamatan Cepogo itu berduyun-duyun menuju makam Puroloyo sambil membawa tenongan (tempat kue) berbentuk bundaran. Anak-anak kecil berwajah ceria menyertai orangtua atau kakek-neneknya.

"Senang sekali ikut, karena pasti dapat kue banyak di makam" ujar Irfan, pelajar SD kelas 4 yang mengikuti orangtuanya dalam tradisi Sadranan.

Menurut Efendi, panitia dan juga pengelola makam Purolayu Dukuh Tunggulsari, Desa Sukobumi, para warga berkumpul di pemakaman kuno itu untuk mengikuti upacara Sadranan dengan agenda membersihkan makam leluhur dan anggota keluarganya yang dimakamkan di tempat tersebut, untuk kemudian didoakan bersama yang dipimpin seorang kiai atau pemuka agama desa .

"Jadi para sedulur dari sejumlah desa ini ke Puroloyo mendatangi leluhurnya, untuk mendoakan arwahnya. Setelah itu, mereka membagikan kue-kue yang dibawa dari rumah untuk disedekahkan kepada seluruh yang hadir," ujar dia.

Tradisi Nyadran di Desa Sukabumi ini sudah dilakukan sejak zaman nenek moyangnya sejak sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang, untuk terus dilestarikan warga.Upacara ritual Sadranan tahun ini, dihadiri ratusan orang dan mereka membawa tenong berisi makanan yang jumlahnya mencapai 800-an tenong.

Kiai Suparno, sesepuh yang juga ulama desa yang memimpin doa mengatakan, sejarah Desa Sukabumi ini,diawali dari datangnya seorang ulama Syah Ibrahim atau yang dikenal oleh warga setempat bernama ‘Bonggol Jati’ saat menyebarkan agama Islam ke daerah itu. Tempat pemakamannya juga ada di Puroloyo.

Dia memaparkan, tradisi Sadranan merupakan budaya Jawa yang tersisa dan warga sekitar masih tetap melestarikan hingga sekarang.Tradisi tersebut juga dilakukan oleh para leluhurnya yang menyebarkan agama Islam di desa setempat, Yakni, Kiai Bonggol Jati atau juga disebut Syah Ibrahim merupakan cikal bakal adanya desa ini.

Para warga datang untuk bersih-bersih makam, nyekar, dan berdoa untuk para leluhur masing-masing dan mengenang jasa-jasanya.

"Selain itu tradisi Sadranan ini juga menjadi ajang silaturahim kepada sanak saudara dan para tetangga.Prosesi Sadranan itu, mereka setelah berdoa bersama dan mendengarkan ceramah, kemudian menyantap hidangan yang dibawa dari warga. Makanan yang dibawa warga itu, sesuai ajaran agama membagikan sedekah agar rezekinya juga lancar," imbuh dia.

Dalam rangkaian tradisi Sadranan di Sukabumi ini, setiap rumah warga, semua pintu sengaja dibiarkan terbuka sepulang dari makam, untuk menunggu kedatangan para tetangganya yang datang bersilaturahim sembari makan bersama. (OL-2)

Komentar