Jendela Buku

Bahlul yang Bijak

Sabtu, 13 May 2017 06:00 WIB Penulis: (Siti Retno Wulandari/M-2)

Dok MI

PADA malam di musim dingin, pedagang dari India datang mengetuk pintu penginapan. Tujuannya berdagang di Baghdad sehingga ia membutuhkan tempat untuk beristirahat sejenak demi menghilangkan lelah. Rasa lapar yang sedari tadi mengocok perutnya membuat pedagang tersebut menanyakan makanan yang dimiliki sang pemilik penginapan. Segera, sang pemilik pun menyajikan ayam bakar berisi telur dengan asap yang masih mengepul.

Seusai menuntaskan rasa lapar, sang pedagang pergi untuk mencuci tangan dan menuju ranjang untuk segera tidur. Ketika pagi hari, ia bangun dari tidur dan mengucapkan syukur kepada Allah. Ia selanjutnya berkemas dan mencari sang pemilik penginapan untuk membayar biaya sewa serta makan. Panggilannya pun tak bersahut. Karena itu, ia segera pergi melanjutkan perjalanan dan berencana kembali lagi setelah pekerjaan berdagangnya selesai di Kota Baghdad.

Singkatnya, saat kembali ke penginapan dalam rentang satu tahun, sang pemilik penginapan telah menghitung biaya sewa dan makan si pedagang sejumlah 1.000 dinar. Pedagang terkejut, tapi pemilik penginapan lantas menjelaskan perhitungannya dari enam butir telur yang terdapat dalam ayam bakar. Padahal, kalau saja ayam tersebut masih hidup, tentu akan menghasilkan telur, kemudian menetas dan menjadi ayam dewasa, dan tentu akan kembali bertelur.

Bijaksana
Hal tersebut dihitung sang pemilik penginapan dalam rentang satu tahun. Karena merasa diperlakukan tidak adil, ia pun meminta dihadirkan hakim. Namun, nyatanya hakim tersebut justru bersekongkol dengan pemilik penginapan dan menyatakan pedaganglah yang salah. Penghuni penginapan lain, yang merupakan kawan Bahlul, seseorang yang dikenal sebagai orang gila, tapi teramat bijak dalam menyelesaikan masalah, menawari pedagang untuk membantunya. Pemuda itu pun pergi menjemput Bahlul dan Bahlul pun bercerita bahwa dirinya sedang memasak biji gandum yang dapat tumbuh menjadi gandum.

Gelak tawa para warga membuat pemilik penginapan pun lantas berujar kalau ia tidak memercayai apa yang dikatakan Bahlul. Justru dengan hal itulah, Bahlul menganalogikan apa yang telah dikatakan sang pemilik penginapan kepada pedagang. Warga yang menyaksikan pun lantas paham dan pemilik penginapan serta hakim yang bersekongkol pun segera meminta maaf atas perbuatan tersebut.

Sejumlah 10 kisah jenaka yang terkumpul dalam buku berjudul Ayam Bakar Bertelur Karya Amal Tanaka sangat mudah dipahami pembaca. Belum lagi, perlakuan Bahlul dalam menghadapi setiap persoalan, sungguh cerdas dan kerap tak bisa dimungkiri lawannya. Paparan Bahlul sangatlah sederhana dalam setiap kasus, tapi justru itulah yang kerap kali dilupakan seseorang ketika hendak menyelesaikan persoalan.

Bahlul yang nama sebenarnya Abu Wahab merupakan murid Musa al Khazim. Ia memang dikenal dengan kebijaksanaannya dan ia pun sangat menghormati serta memercayai sang guru. Karena itu, ketika ia diminta untuk menyamar sebagai orang gila dengan pakaian lusuh dan tambalan di mana-mana, ia segera melaksanakan. Kebijakan dan caranya yang tanpa kekerasan ataupun kemarahan dalam menghadapi persoalan menjadi satu contoh utuh bagi pembaca. Bahasa yang dikenakan buku terbitan Noura Books ini sederhana, tetapi mampu menggelitik perut dan pikiran. Buku ini dapat dibaca semua umur dan menjadi sarana penyegaran pikiran.(Siti Retno Wulandari/M-2)

Komentar