Kesehatan

Berbicara Sendiri Pertanda Genius?

Kamis, 11 May 2017 01:03 WIB Penulis: Sri Yanti Nainggolan

thinkstock

TAK sedikit orang yang memiliki kebiasaan berbicara pada dirinya sendiri, baik dalam hati maupun bersuara. Walaupun dianggap aneh bagi orang lain, sebuah penelitian menemukan bahwa berbicara sendiri dengan bersuara adalah pertanda kepandaian, bukan gangguan jiwa.

Para psikolog dari Bangor University di Inggris menemukan bahwa monolog bersuara dapat meningkatkan kemampuan otak untuk lebih fokus dan mencapai tujuan.

Paloma Mari-Beffa dari Bangor University berkata bahwa berbicara dalam batin dapat membantu mengontrol diri untuk mengatur pikiran, tindakan dalam berencana, ingatan, dan memori. Pembicaraan batin tersebut berkembang dengan sendirinya untuk berbicara keras untuk lebih memperkuat pendekatan untuk mencapai tujuan yang telah ditargetkan.

"Berbicara keras adalah perpanjangan dari pembicaraan batin karena perintah dari motor tertentu terpicu tanpa sengaja," tulisnya dalam sebuah artikel di The Conversation.

Misalnya, saat kecil, kita belajar dengan cara berbicara pada diri sendiri karena hal itu adalah bagian dari perkembangan menuju kedewasaan. Psikolog Jean Piaget mengungkapkan bahwa pigato egosentris tersebut membuat balita mulai dapat mengontrol tindakan mereka sekaligus mengembangkan kemampuan bahasa.

Studi tersebut melakukan percobaan pada 28 partisipan yang diberikan instruksi tertulis, dan diminta membacanya secara diam atau bersuara.

Para peneliti melihat bahwa berbicara bersuara dapat meningkatkan kontrol partisipan dalam hal menyelesaika tugas dibandingkan mereka yang membacanya dalam batin. Mereka percaya hal tersebut dikarenakan mereka mendengarkan suara sendiri.

Perintah bersuara terlihat memiliki perilaku kontrol yang lebih baik dibandingkan dengan tertulis. Meskipun partisipan berbicara saat melakukan tugas, performa mereka cenderung meningkat jika dilakukan dengan suara keras.

"Stereotipe tentang ilmuwan gila yang berbicara pada diri sendiri dan kehilangan dunia nyata kemungkinan merefleksikan realitas para jenius yang melakukan hal itu untuk meningkatkan kemampuan otak mereka," tukas Maru-Beffa. (MTVN/OL-7)

Komentar