Lingkungan

Gambut Hangus Dipulihkan

Rabu, 10 May 2017 07:10 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ANTARA

SEKITAR 20 hektare area gambut yang terdegradasi berat akibat kebakaran pada 1997 dan 2006 di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan, dapat dipulihkan.

Pemulihan lahan gambut yang terletak di kawasan Sepucuk, Ke-camatan Kayu Agung, tersebut dilakukan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang lewat kerja sama dengan dinas kehutanan setempat. Pengembangan dilakukan melalui riset restorasi lahan gambut dengan pembangunan Kebun Plasma Nutfah dan Kedaton di kawasan tersebut.

Kepala Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bambang Supriyanto mengatakan beberapa tahun setelah kebakaran, area tersebut hanya ditumbuhi rumput rawa dan pakis. Pada 2010 intervensi restorasi dengan teknik silvikultur, yang memperhatikan karakteristik lahan gambut setempat, dilakukan. Dengan demikian, jenis pohon lokal mungkin saja tumbuh di lahan itu.

"Saat ini pada area kebun ini sudah ada 25 jenis pohon lokal. Di antaranya jeluntung, meranti, dan ramin," kata Bambang kepada dele-gasi Bonn Challenge dari berbagai negara yang meninjau kawasan Demonstrasi Plot Restorasi Hutan Rawa Gambut Bekas Kebakaran di Kabupaten OKI, Selasa (9/5).

Menurutnya, pertumbuhan pohon memuaskan dengan daya hidup antara 82% dan 97%. Ketinggiannya berkisar 1 sampai 2 meter. Sementara itu, jenis pohon yang ditanam bernilai ekonomis dan diharapkan dapat memperbaiki serapan karbon untuk menopang upaya mitigasi perubahan iklim.

Model pemulihan di lahan itu akan dibahas menjadi salah satu contoh restorasi lahan gambut bekas kebakaran di wilayah lain di Indonesia dalam The First Asia Bonn Challenge High Level Roundtable Meeting yang digelar di Palembang hari ini. Bonn Challenge ialah inisiatif untuk merestorasi lanskap yang kritis dengan melibatkan kemitraan global.

Perlu biaya

Bupati OKI Iskandar mengungkapkan di wilayahnya terdapat 10 ribu ha lahan gambut yang harus direstorasi. Upaya itu memerlukan biaya besar.

"Kebun Demonstrasi Plot seluas 20 ha di tahun pertama membutuhkan dana Rp15 juta, itu belum termasuk perawatan dan tenaga. Saya sudah bicara pada delegasi ini (Bonn Challenge), untuk kepentingan dunia. OKI menyediakan 10 ha lahan untuk direstorasi. Untuk melaksanakannya, harus ada intervensi dunia karena kami tidak mampu," tuturnya.

Menurutnya, pemulihan lahan gambut harus dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah dengan perusahaan pemegang izin konsensi dan pemangku kepentingan lain.

Perusahaan pemegang izin kon-sesi turut bertanggung jawab karena saat terjadi kebakaran hebat pada 2015, sekitar 60% dari area yang terbakar ialah lahan konsesi yang merupakan hutan tanaman industri (HTI).

"Pemerintah sudah bergerak, perusahaan sudah melakukan replanting," ujar Iskandar.

Di sisi lain, Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin mengatakan semua pihak sudah berperan dalam upaya merestorasi lahan gambut yang terbakar di Kabupaten OKI. Keberhasilan Kebun Plasma seluas 20 ha di Sepucuk merupakan sebuah contoh nyata. (DW/H-2)

Komentar