Opini

Kesadaran Benih Kebijaksanaan

Rabu, 10 May 2017 00:15 WIB Penulis: Supriyadi Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Kemenag

Sejumlah Bhiksu serta umat Budha berdoa dan mengelilingi Candi Borobudur atau Pradaksina saat perayaan Tri Suci Waisak 2559 BE/ 2015 di Candi Borobudur, Magelang, Jateng. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

PADA 11 Mei 2017, umat Buddha akan memperingati hari besar keagamaan, yaitu Waisak. Pada Waisak, umat Buddha diingatkan kembali terhadap tiga peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama, yang terjadi pada purnama di bulan Waisak, yaitu: Pangeran Siddharta lahir pada 623 SM, petapa Gotama mencapai penerangan Agung pada 588 SM, dan Buddha Gotama mencapai Parinibbana pada 543 SM. Dengan mengingat kembali ketiga peristiwa agung itu, umat Buddha diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap makna perjuangan Pangeran Sidharta dalam mencapai kesempurnaan hidup untuk kebahagiaan semua makhluk.

Sudah barang tentu dalam memaknai hari besar Waisak, setiap umat Buddha diharapkan dapat benar-benar memperdalam pengertian, makna, dan tujuan peringatan Waisak itu, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini penting karena Buddha Dhamma di­ajarkan Guru Agung Buddha Gotama untuk kebahagiaan semua makhluk.

Patut untuk disadari bahwa manusia dalam kehidupan akan terikat oleh nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, nilai-nilai kemanusiaan itu harus terpelihara dengan baik dalam diri setiap orang. Namun, kenyataannya, tidak jarang nilai-nilai kemanusiaan itu dinodai upaya pertentangan dengan dalih keyakinan yang berbeda. Untuk itulah, penting bagi setiap umat beragama untuk semakin memperdalam pengetahuan agamanya sebagai cahaya kebenaran dan sekaligus membangkitkan kesadaran sebagai warga bangsa atas pentingnya jalinan hubungan yang bijaksana.

Seiring dengan datangnya Waisak yang membawa pesan untuk ikut menumbuh kembangkan iklim kemasyarakatan yang kondusif, sebagai wujud aktualisasi nilai-nilai kemanusiaan, marilah kita kembali menjadikan kesadaran sebagai motivasi untuk lebih menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur kemanusiaan dalam kehidupan bersama demi mewujudkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera.

Saya melihat momentum waisak merupakan saat yang tepat bagi semua umat Buddha untuk lebih memfokuskan diri pada upaya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang perjalanan spiritual pangeran Sidharta hingga mendapatkan pencerahan demi kebahagiaan semua makhluk. Dalam pemahaman saya, manakala kita dapat mengambil hikmah dan semangat keteladanan Sidharta Gotama, umat Buddha akan dapat memberikan kontribusi yang besar untuk menghadapi tantangan kehidupan yang senantiasa mewarnai kehidupan kemasyarakatan dan kebangsaan.

Bertolak dari pemikiran kesadaran itu, sudah tentu perlu upaya untuk terus mendekatkan peranan agama dalam kehidupan bangsa Indonesia. Agama yang mengajarkan nilai-nilai luhur kebaikan, keutamaan, kesempurnaan, dan kedamaian. Jika nilai-nilai luhur itu dapat berkembang, niscaya upaya membangun kesadaran beragama dapat menjadi bentuk nyata dan positif dalam kehidupan yang damai dan harmonis.

Peringatan Waisak 2017 ini memiliki makna yang penting bagi kita setelah kita melewati proses demokrasi di berbagai wilayah yang cukup menyita waktu, tenaga dan pikiran, bahkan ongkos yang cukup besar.

Kesadaran dalam diri
Namun, kita patut bersyukur, segala persoalan proses demokrasi yang berkaitan dengan kehidupan kenegaraan dan kebangsaan, dapat terselesaikan dengan baik. Kesemuanya itu tentu ada sesuatu yang mendasari, yang menurut pemahaman saya adalah masih adanya kesadaran di dalam diri setiap anak bangsa terhadap pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menyikapi pentingnya kesadaran itu, peringatan Waisak kali ini mengambil tema Tingkatkan kesadaran menjadi kebijaksanaan. Dalam ajaran Buddha, kesadaran memegang peranan yang sangat fundamental karena berperan penting atas pengendalian pikiran, sehingga niat-niat buruk pada diri orang itu tidak muncul ke permukaan. Dalam kaitannya dengan kehidupan kebangsaan, saya ingin memberikan penekanan pada konteks kesadaran dalam bentuk kewaspadaan yang kita kenal dengan Appamad, yaitu kesadaran yang timbul sebagai dasar pentingnya tugas yang sedang dijalani. Umat manusia dalam kehidupannya bertugas untuk menjaga pikiran, tindakan dan perkataan agar di antara sesama dapat saling menabur kasih dan sayang, serta semangat saling menghormati. Buddha Dhamma mengajarkan untuk hidup harmonis, memelihara lingkungan, menjaga alam semesta, demi kelangsungan dan kelestarian semua makhluk. Itu ajaran yang sangat mulia, yang melihat jauh ke depan. Mengajak semua makhluk hidup berdampingan, hidup secara inklusif dengan semangat kebijaksa­naan merupakan pesan spiritual, pesan moral, yang sangat luhur, untuk dijalankan bersama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Oleh karena itu, makna kesadaran dalam arti kewaspadaan agama dapat menjadi bijaksana dalam menyikapi fenomena kehidupan kebangsaan saat ini. Karena itu, hal yang perlu ditumbuhkan ialah kewaspadaan terhadap berbagai tindakan dan upaya yang dapat menggerus kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan senantiasa menguatkan kembali pemahaman terhadap empat pilar Kebangsaan yaitu: Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.
Pemahaman yang kuat terhadap empat pilar kebangsaan ini dapat menjadi pijakan bagi seluruh komponen bangsa dalam mewujudkan cita-cita luhur dan masa depan bangsa yang lebih baik.

Nilai-nilai demokrasi, persatuan, dan kesatuan bangsa sangat penting untuk ditumbuhkembangkan. Kesadaran dalam berkonstitusi harus ditanamkan, tidak cukup hanya dengan menghafal pasal-pasal dalam UUD 1945, tapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya sebagai landasan dalam kehidupan kenegaraan. Dalam hal itu, tidaklah cukup hanya dengan kesadaran, tetapi lebih daripada itu harus ditingkatkan menjadi kebijaksanaan. Sadar atas setiap tugas yang harus dikerjakan ialah spirit untuk berkarya, tapi bijaksana dalam melaksanakan tugas akan membuahkan karya yang bermanfaat untuk semua. Karena itu, sangatlah tepat apabila dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan kita, menjadikan kesadaran sebagai pijakan untuk menumbuhkan kebijaksanaan.

Setiap tindakan yang kita lakukan harus senantiasa dilandasi dengan niat yang luhur, niat yang baik agar tidak mengganggu sesama. Setiap orang memiliki ruang yang sama untuk mengekspresikan pemikirannya. Namun, semuanya itu juga harus tetap memperhatikan orang lain. Segala tindakan yang dilakukan dengan sadar, yang dilandasi moral yang baik, dengan penuh kebijaksanaan maka, akan bermanfaat bagi semua orang.

Purnama sidhi di bulan Waisak menjadi saat yang tepat bagi kita untuk membangkitkan semangat cinta Tanah Air agar tercipta suasana kehidupan nasional yang rukun, damai, bahagia, dan sejahtera. Marilah kita isi hidup kita dengan kehidupan yang terang menuju kehidupan yang lebih terang. Selamat Hari Tri Suci Waisak 2561 Buddhis Era 2017. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Komentar