Kesehatan

Sesaknya Napas akibat Hipertensi Paru

Rabu, 10 May 2017 06:00 WIB Penulis: Eni Kartinah emailnyaAppaandong.com

Thinkstock

SEKILAS, tak ada yang aneh pada penampilan Dhian Deliani, 41. Ibu dua anak itu tampak cantik dan bugar. Tapi, saat membawakan presentasi pada sebuah diskusi kesehatan, Pfizer Press Circle, di Jakarta, Kamis (4/5) lalu, beberapa kali ia meminta maaf pada hadirin karena harus berhenti sejenak di sela presentasi yang ia bawakan secara perlahan.
Setiap kesempatan berhenti sejenak itu ia gunakan untuk menghela napas beberapa kali. “Mohon maaf, ini karena kondisi saya,” ujar perempuan berkerudung itu.

Dhian menuturkan, meski dirinya terlihat normal, tapi sesungguhnya napasnya sesak. Sesak napas itu timbul akibat penyakit hipertensi paru yang dideritanya.

“Saya didiagnosis hipertensi paru sejak 2006,” katanya pada diskusi yang digelar untuk memperingati Hari Hipertensi Paru Sedunia tiap 5 Mei itu.

Untuk menunjukkan seperti apa rasa sesak napas yang dirasakan penderita hipertensi paru, Dhian yang juga pengurus Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI) itu memandu sebuah ‘games’ untuk para peserta diskusi. Para peserta diberi sebuah sedotan plastik untuk diletakkan di mulut. Selanjutnya, peserta diminta menutup hidung lalu bernapas melalui sedotan itu. Tentu saja, napas jadi terasa sangat berat.

“Itulah yang sehari-hari dirasakan kami, para penderita hipertensi paru,” kata Dhian.
Ia bertutur, awalnya tak tahu dirinya menderita penyakit itu. “Sebelum terdeteksi, memang saya sering merasa ngos-ngosan ketika jalan terburu-buru atau naik tangga, tapi saya pikir itu normal saja.”

Kecurigaan baru muncul ketika hasil tes kesehatan di rangkaian ujian calon pegawai negeri sipil menunjukkan dirinya menderita atrial septal defect (ASD), sebuah penyakit jantung bawaan sejak lahir yang sebelumnya tak terdeteksi. Ada kerusakan antara kedua ruang atas jantung (atrium) sehingga darah beroksigen (bersih) dengan tidak beroksigen (kotor) bercampur. Pemeriksaan lanjutan kemudian menunjukkan dirinya menderita hipertensi paru.

“Memang, salah satu penyebab hipertensi paru ialah penyakit jantung bawaan,” ujar dokter pakar hipertensi paru, Prof dr Bambang Budi Siswanto, SpJP(K), pada kesempatan sama. Dokter dari Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta itu menuturkan, hipertensi paru merupakan penyakit yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah pada pembuluh darah paru.

Tingginya tekanan darah itu lama-kelamaan akan merusak jaringan paru. Akibatnya, penderita mengalami sesak napas. Menurut Bambang, hipertensi paru tergolong penyakit langka. Angka kejadiannya pertahun sekitar 2-3 kasus per 1 juta penduduk. “Penyakit ini cara diagnosisnya sulit dan keluhannya tidak khas, mirip dengan keluhan penyakit paru dan jantung. Kemungkinan, banyak pasien yang tidak terdeteksi hingga akhirnya meninggal karena penyakit ini,” kata Prof Bambang.

Data global menyebutkan, ada lebih dari 25 juta kasus hipertensi di dunia, 50 persennya tak berobat hingga meninggal kurang dari dua tahun ketika tak diterapi. Angka kematian karena hipertensi paru lebih tinggi daripada yang ditimbulkan kanker payudara dan usus besar. “Hipertensi paru, jika diketahui sejak awal dapat diobati dengan obat-obatan golongan aambrisentan, bosentan, tadalafil, beraprost, riociguat, dan sildenafil. Namun ketika pasien sampai di stadium lanjut mungkin tetap akan mengalami sesak napas terus dan hipertensi parunya menetap bahkan progresif hingga akhirnya terjadi gagal jantung kanan,” papar Prof Bambang.

Penyakit jantung bawaan
Karena itulah, lanjut Prof Bambang, upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi sangat penting. Upaya pencegahan dilakukan dengan mencegah dan menangani penyakit-penyakit yang bisa menimbulkan hipertensi paru. Seperti, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) yang banyak timbul akibat merokok, serta penyakit jantung bawaan (PJB).
“PJB pada bayi harus bisa dideteksi untuk kemudian ditangani melalui operasi agar kelak tidak berkembang menjadi hipertensi paru.”

Karena itu, screening kesehatan jantung pada bayi baru lahir harus dilakukan. Ibu juga perlu waspada jika bayi tidak kuat menyusu lama-lama. “Salah satu ciri PJB ialah bayi cepat capek, sehingga saat menyusu sebentar-sebentar berhenti,” katanya.

Terkait dengan operasi PJB, layanan itu memang ditanggung Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sayangnya, keterbatasan fasilitas dan dokter ahli saat ini membuat daftar tunggu operasi PJB pada bayi dan anak mencapai dua tahun. “Itulah PR (pekerjaan rumah) yang harus kita selesaikan bersama,” tutup Prof Bambang. (H-2)

Komentar