Kesehatan

Prediabetes seperti Fenomena Gunung Es

Rabu, 10 May 2017 05:45 WIB Penulis: (Pro/H-3)

Untuk mendeteksi prediabetes diperlukan pengukuran kadar gula darah. Prediabetes ditandai dengan kadar gula darah puasa yang berkisar antara 100-125 mg/dL. Thinkstock

PREDIABETES adalah istilah untuk tahap awal dari penyakit diabetes tipe 2, ketika kadar gula darah mulai melebihi batas normal tetapi belum terlalu tinggi untuk dapat dikategorikan sebagai diabetes. Kasus prediabetes dinilai menyerupai fenomena gunung es yang sewaktu-waktu dapat menimbulkan bahaya besar bagi masyarakat.
Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), Mardi Santoso, mengatakan kasus prediabetes tepat disebut sebagai fenomena gunung es karena jumlah pengidapnya diperkirakan dua kali lebih banyak daripada jumlah penderita diabetes tipe 2 yang telah terdeteksi.

“Prediabetes sulit dideteksi karena tidak memiliki gejala khas seperti diabetes. Tanda paling pasti dapat dilihat melalui tes gula darah,” ujar Mardi dalam seminar bertajuk Pentingnya Deteksi Dini & Pencegahan Prediabetes yang digelar Nutrifood di Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Kamis (4/5). Mardi mengatakan, dalam waktu 3-5 tahun, 25% kasus prediabetes dapat berkembang menjadi diabetes, 50% tetap dalam kondisi prediabetes, dan 25% kembali pada kondisi normal. Bila seseorang telah terdeteksi mengalami prediabetes, perlu dilakukan intervensi pola hidup.

“Perlu diintervensi gaya hidupnya dan dikelola dengan obat sehingga tidak terjadi diabetes,” ujar Mardi. Pada kesempatan sama, Kepala Subdirektorat Diabetes Melitus dan Gangguan Metabolisme, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Dyah Erti Mustikawati, mengatakan angka kejadian prediabetes di Indonesia diperkirakan meningkat setiap tahunnya.

Meski jumlah prediabetes di Indonesia semakin tinggi, manajemen untuk pasien prediabetes belum banyak dikaji. Selain itu, kurangnya pedoman dan upaya deteksi dini prediabetes oleh masyarakat membuat prediabetes cenderung terabaikan. “Kami mengimbau dokter-dokter puskesmas untuk turut berperan aktif dalam menggalakkan gerakan deteksi dini prediabetes di masyarakat,” ujar Dyah.

Data International Diabetes Federation (IDF) 2015 menunjukkan Indonesia menempati urutan ketujuh terbesar dalam jumlah penderita diabetes di dunia. Negara yang penduduknya paling banyak mengalami diabetes ialah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat. Di Indonesia, total penderita diabetes mencapai 10 juta orang.

“Harus disampaikan pada masyarakat bahwa mereka tidak bisa mengklaim diri sehat tanpa pemeriksaan kesehatan yang rutin. Selama ini, kesadaran itu masih rendah. Itu yang akan disosialisasikan. Puskesmas pun diimbau untuk menyampaikan ke masyarakat,” ujar Dyah. (Pro/H-3)

Komentar