Kesehatan

Myeloma, Kanker Langka yang Mematikan

Rabu, 10 May 2017 05:30 WIB Penulis: (Nik/H-2)

Myeloma menyebabkan kerusakan pada tulang. Tulang menjadi tipis dan rapuh. Thinkstock

MYELOMA merupakan salah satu jenis kanker darah yang jarang terjadi sehingga kalah populer dari kanker darah lainnya, leukemia. Meski jarang terjadi, penyakit itu memiliki angka kematian tinggi. “Diperkirakan, secara global jumlah kasus baru per tahun sekitar 14.600. Angka kematian yang ditimbulkan mencapai 11.000 per tahun,” ujar dokter konsultan hematologi dan onkologi medik Rumah Sakit Pondok Indah Group, Jakarta, Toman L Toruan, pada temu media kesehatan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Jika dihitung rata-rata per 100 ribu penduduk, insiden penyakit itu sebesar 6,7 pada laki-laki dan 4,1 pada perempuan. Penyakit itu umumnya menyerang kelompok lanjut usia (lansia), yakni 65 tahun ke atas. “Myeloma ditandai dengan pertumbuhan tidak terkendali dari sel plasma dalam darah,” kata Toman. Gejala yang ditimbulkan kerap di­sangka sebagai penyakit lain. Seperti, anemia. Gejala itu timbul karena ‘pabrik’ darah yang ada di sumsum tulang tidak bisa berfungsi normal.

Selain itu, myeloma juga menimbulkan kerusakan tulang sehingga penderita kerap merasa nyeri pinggang, punggung, atau nyeri tulang di bagian lain. “Gejala ini juga sering keliru dideteksi sebagai penyakit tulang,” jelas Toman. Myeloma dalam tahap lanjut juga kerap menimbulkan gangguan ginjal. Sehingga kadang dianggap sebagai penyakit ginjal biasa. “Samarnya gejala membuat diagnosis dan ­penanganan myeloma kerap terlambat. Hal itulah yang menjadi salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian akibat penyakit ini. Selain karena faktor usia penderita yang kebanyakan sudah lansia,” terang dokter spesialis penyakit dalam itu.

Secara medis, lanjut Toman, ada empat parameter pemeriksaan yang bisa menunjukkan diagnosis ­myeloma. Keempatnya disingkat sebagai CRAB, kependekan dari hypercalcemia, renal impairment, anemia, dan bone involvement. “Hypercalcemia adalah kondisi saat kadar kalsium darah meningkat lebih dari normal, kerap kali melebihi 10 mg/dL, biasanya karena ada tulang yang keropos.”

Renal impairment atau gangguan ginjal, yakni kondisi ketika fungsi ginjal menurun akibat adanya pe­numpukan imunoglobulin atau protein lain. Akibatnya, ginjal tidak bisa menyaring darah sehingga kadar kreatinin darah meningkat. Anemia ialah penurunan kadar Hb akibat gangguan pembentukan sel darah merah di sumsum tulang karena adanya sel myeloma dalam sumsum. “Bone involvement merupakan kondisi ketika tulang sudah mulai menipis atau keropos sehingga sering menimbulkan rasa nyeri, dan kondisi ini bisa menyerang semua tulang manusia.”

Jika pasien menunjukkan gejala-gejala itu, perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan, antara lain biopsi atau pengambilan contoh sel darah dari dalam sumsum tulang.
Terkait pengobatan, kata Toman, terbagi menjadi tiga tahap yakni induksi, konsolidasi, dan rumatan. Induksi bertujuan untuk menghilang­kan sel-sel kanker sebanyak mungkin dengan obat-obatan kemoterapi dan imunomodulator.

“Konsolidasi dilakukan dengan transplantasi sumsum tulang. Ditujukan untuk pasien yang berdasarkan pemeriksaan berisiko kambuh kembali dalam waktu singkat.”
Adapun pengobatan rumatan ditujukan untuk pasien yang berhasil melewati tahap konsolidasi. Tujuannya untuk menjaga kondisi bebas penyakit yang telah tercapai. (Nik/H-2)

Komentar