Properti

Prospek Cerah Hunian Vertikal di Kota Depok

Selasa, 9 May 2017 04:45 WIB Penulis:

ANTARA /INDRIANTO EKO SUWARSO

HUNIAN vertikal di Kota Depok semakin bertumbuh seiring keterbatasan lahan dan semakin tingginya harga lahan di kota penyangga Jakarta itu, terutama di koridor Jalan Margonda yang menjadi nadi ekonomi.

"Sesuai tata ruang Kota Depok, koridor Margonda memang dapat dibangun untuk hunian bertingkat sehingga di kawasan ini banyak bertumbuh apartemen," kata Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Pemkot Depok, Wijayanto, di Depok, pekan lalu dalam diskusi oleh Masyarakat Peduli Properti (MPP).

Kehadiran hunian vertikal tersebut, tambahnya, di sisi lain juga dapat

mendukung program sejuta rumah yang digulirkan pemerintah pusat.

Direktur Utama Orchid Realty Mujahid mengamini hunian vertikal menjadi solusi utama di pusat kawasan bisnis (CBD) Margonda, Depok.

Di kawasan tersebut harga lahan rata-rata menyentuh Rp20 juta per m2.

Menurutnya, dua sampai tiga tahun terakhir, ada dua tipe apartemen yang paling banyak dipasarkan di Depok, yaitu apartemen untuk hunian mahasiswa, dan untuk hunian keluarga.

"Tipe yang banyak diminati itu tipe studio dengan kisaran harga Rp300 juta sampai Rp500 juta," ujar Mujahid dalam diskusi sama.

Pertumbuhan hunian di Depok akan semakin pesat seiring aksesibilitas Depok yang makin lengkap. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna mengatakan, tol Cijago seksi dua akan beroperasi mulai akhir 2017.

Kini, progres konstruksi jalan tol yang terdiri atas Margonda-Cisalak dan Margonda-Kukusan itu masing-masing mencapai 68% dan 50%.

Adapun akses keluar masuk tol akan berlokasi di Jalan Raya Bogor, Margonda, dan Cinere. Sementara itu, pembangunan jalan tol Depok-Antasari seksi Antasari-Brigif ditargetkan selesai akhir tahun ini.

"Sekarang penyelesaian konstruksinya sudah 49,5% dengan pembebasan lahan 97%," ujarnya.

Keberadaan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) juga akan kian melengkapi fasilitas Kota Depok.

Kepala RSUI Julianto Wicaksono mengemukakan, rumah sakit berkapasitas awal 300 ranjang itu ditargetkan beroperasi mulai awal tahun depan.

"RSUI akan sekelas rumah sakit di Singapura, namun dengan biaya berobat yang lebih murah. Sekarang masih 300 tempat tidur, tapi konstruksinya di tahap kedua akan disiapkan untuk 900 tempat tidur," paparnya. (Ant/S-2)

Komentar