Properti

Pasar Mulai Merekah

Selasa, 9 May 2017 04:30 WIB Penulis: Ghani Nurcahyadi

MI/RAMDANI

MESKI belum sepenuhnya pulih dari kelesuan, pasar properti Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan.

Dari laporan Analisis Uang Beredar yang dipublikasikan Bank Indonesia, pekan lalu, kredit pemilikan rumah (KPR) dan apartemen (KPA) menjadi salah satu motor pertumbuhan kredit perbankan nasional per Maret 2017.

Total kredit pada akhir bulan itu mencapai Rp4.395,4 triliun, atau meningkat 9,1% ketimbang posisi pada Maret 2016 (year on year/yoy).

Laju itu juga lebih tinggi ketimbang laju yoy kredit perbankan pada Februari 2017, yaitu 8,4%.

'Akselerasi pertumbuhan kredit juga terjadi pada kredit yang disalurkan bank untuk properti,' demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Per Maret, posisi kredit properti mencapai Rp719 triliun, atau tumbuh 15,2% (yoy).

Bulan sebelumnya, laju kredit properti tercatat 15% (yoy).

Peningkatan pertumbuhan tersebut bersumber dari KPR dan KPA yang Februari 2017 tumbuh 7,4% (yoy), kemudian menjadi 8,4% (yoy), atau ke posisi Rp375,1 triliun.

Adapun kredit konstruksi dan realestat melandai dengan tumbuh masing-masing 26% (yoy) dan 20% (yoy).

Bulan sebelumnya, kedua sektor itu melaju 27% (yoy) dan 20,7% (yoy)

'Kenaikan pertumbuhan kredit sejalan dengan masih berlanjutnya proses transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang dilakukan sejak setahun lalu,' terang pihak bank sentral.

Performa kredit properti itu seiring dengan merekahnya bisnis pasar properti di Tanah Air.

Country General Manager rumah123.com Ignatius Untung meramal perlambatan bisnis properti Indonesia tuntas tahun ini.

Tanda-tandanya, kata dia, tecermin pada penjualan properti yang difasilitasi situsnya sepanjang kuartal I 2017.

Data yang dikumpulkan dari pembelian properti melalui situs itu menunjukkan kenaikan volume transaksi untuk semua kategori properti pada kuartal I 2017, yaitu apartemen, rumah, rumah toko, komersial, dan tanah.

Secara keseluruhan, pertumbuhannya mencapai 38% (yoy).

Menurut Untung, pertumbuhan tertinggi disumbang oleh sektor tanah, mencapai 48,9%.

Sektor berikut yang tumbuh pesat ialah sektor komersial (45%), kemudian apartemen (40,2%), ruko (39,5%), dan rumah (37,4%).

"Kuartal berikutnya pasti langsung naik lagi. Uniknya, untuk kuartal pertama tahun ini, yang men-drive kenaikan tren properti ialah project bernilai Rp2,5 miliar," papar Untung dalam temu dengan media massa, di Jakarta, pekan lalu.

Pihaknya juga mencatat ada kenaikan pada nilai penjualan rumah yang pada kuartal lalu mencapai Rp2,866 triliun, atau melesat 32% dari kuartal I 2016.

Di sisi lain, ia mencermati fenomena bahwa generasi milenial belum menjadikan properti sebagai satu kebutuhan penting.

Dari 4.134 responden yang mengikuti Sentiment Survey 2017 oleh rumah123.com, disimpulkan bahwa kesadaran untuk memiliki properti pada jenjang usia dari 22-45 tahun ke atas, masih pada urutan terbawah.

Mereka lebih memprioritaskan biaya pendidikan dan kepemilikan kendaraan.

Ia berharap ada edukasi dari para pemangku kepentingan agar generasi milenial memiliki pemahaman soal urgensi kepemilikan properti.

Dengan begitu, sektor properti nasional bisa lebih cepat pulih.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Direktur Utama PT Agung Podomoro Land, Indra Widjaja Antono, mengatakan pihaknya turut merasakan aliran KPR yang lebih gencar itu, terutama pada proyek untuk pasar kelas menengah dan high-end.

Dua proyek yang menunjukkan pertumbuhan tersebut menurut Indra, proyek pembangunan rumah susun milik di Cimanggis dan Karawang, Jawa Barat.

"Sekitar 60% dari unit yang sudah terjual menggunakan skema KPR ataupun KPA. Sisanya menggunakan skema tunai bertahap atau tunai keras, " kata Indra kepada Media Indonesia. (S-2)

Komentar