Pesona

Melawan Arus dengan Slow Fashion

Ahad, 7 May 2017 09:16 WIB Penulis: */M-3

Dok. Kana

SEPERTI industri massal lainnya, produk-produk fesyen menghadapi tuntutan produksi yang cepat. Tuntutan fast fashion inilah yang kemudian kerap membawa korban pada sisi pekerja maupun lingkungan.

Gambaran buram inilah yang ditampilkan dalam proyek IKAT/eCUT dengan tema Fast Fashion - The Dark Side of Fashion pada Kamis, (9/3) di Jakarta.

"Ada tiga aspek yang disorot dalam kegiatan ini yaitu bagaimana hubungan antara fesyen dengan konsumerisme, ekonomi, dan ekologi," ucap Claudia Banz selaku salah satu kurator IKAT/eCUT dari Museum fur Kunst und Gewerbe Hamburg, Jerman

Konsep slow fashion kemudian yang diharapkan menjadi alternatif dari fast fashion. Pada intinya slow fashion adalah alternatif produk tekstil yang ramah lingkungan, memiliki kisaran harga yang beragam, dan biasanya menggunakan metode haute couture.

"Indonesia itu kaya banget dengan rempah-rempah dan kekayaan alamnya. Jika dimanfaatkan dengan baik dan bijaksana maka hasilnya tidak akan kalah dengan produk tekstil dari bahan-bahan kimia," ujar Aprina Murwanti selaku kurator untuk karya-karya slow fashion pada kegiatan IKAT/eCUT.

Salah satu jenama Indonesia yang menjalankan konsep slow fashion ialah Kana. Jenama ini menggunakan material kain sutra, batik tulis dan celup, dan mengunakan air hujan yang ditampung untuk menghemat air

Untuk memberikan pemahaman akan dua konsep fesyen ini, Goethe Institute bekerja sama dengan serentetan desaigner, pengrajin, start-up, dan pihak akademisi menyelenggarakan acara hingga 9 April 2017. Di antaranya, Handmade Fabric Day (2/4), dan ditutup dengan pesta pertukaran baju dalam Swap With Me, Baby! (8/4).

Komentar