Pesona

Keselarasan Alam dalam Keindahan Batik

Ahad, 7 May 2017 09:16 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari

MI/Arya Manggala

DUA setengah tahun ini desainer Era Soekamto rupanya telah melakukan riset khusus. Ia mempelajari filosofi soal motif batik Condrosengkolo. Studi literatur pun ia lakukan. Setelahnya, Era mengembangkan motif-motif batik itu.

Koleksi hasil pengembangan motif itulah yang dipresentasikan di Fairmont Hotel, Jakarta, Rabu (26/4). Wujudnya ialah gaun-gaun malam yang megah dan aristrokasi serta busana koktail dan setelan-setelan busana pria yang tidak kalah mewah.

Era menjelaskan bahwa Condrosengkolo merupakan salah satu motif koleksi Iwan Tirta. Sebagai Creative Director Iwan Tirta Private Collection, Era selalu berupaya untuk mengangkat kembali karya-karya sang maestro batik itu.

"Ccondrosengkolo merupakan sebuah kisah akan keselarasan antara manusia dan alam semesta," kata Era. Keselarasan tersebut mendasari lahirnya perhitungan waktu Jawa yang berbasis rotasi bulan. Karena itu, Era menghadirkan suguhan motif-motif klasik tersebut dalam empat rangkaian, yang juga melambangkan empat elemen alam semesta, seperti Akasa (langit), Dahana-Tirta (air-api), Bawono (tanah), dan Maruta (angin).

Contohnya ialah gaun sebetis dengan kain bagian lengan yang super panjang hingga melantai. Warna merah pada bagian pundak kontras dengan nuansa batik hitam putih mulai dari bagian dada hingga bawah busana. Hasilnya, ialah busana yang terkesan fun tetapi juga megah dan sangat Indonesia.

Tidak kalah menarik, Era mengeluarkan cape blazer untuk pria. Meski artikel busana ini lebih umum untuk perempuan, di tangan Era, kesan maskulin tetap kuat berkat penggunaan kerah tinggi dan tentunya motif yang gagah. Motif dua burung phoenix dalam ukuran besar di bagian perut. Era juga memilih nuansa yang masukilin yakni emas untuk batik, sementara latar belakang hitam pekat.

"Tantangan terbesar pada proses pemotongan pola. Tak sekadar menjadikan batik bisa semakin dicintai, tetapi harus mengomunikasikan motif dan filosofinya secara benar," tutur Era.

Teknik garaman dan ombre
Kekhasan lain yang diterapkan Era ialah lewat proses pewarnaan garaman dan ombre. Hal tersebut dilakukan untuk bisa mendapatkan warna tertentu, sehingga bisa menampilkan detil motif lebih tajam dan moderen.

Teknik penggaraman yang dikembangkan oleh Iwan Tirta, baru kali ini digunakan oleh Era. Sementara teknik ombre, disebut juga teknik gradasi yang unggul karena tidak merusak warna dari batik tersebut. Gradasi diberikan pada wilayah kosongan yang biasanya ada di tengah motif batik. "Kami menggunakan garam laut bongkahan besar, kan sifatnya garam itu mengabsorpsi jenis bahan kimia tertentu saat proses pewarnaan batik, sehingga nanti dapat warna yang tak terduga," pungkasnya. (M-3)

Komentar