Khazanah

Menolak Terjebak Romantisme Rempah

Ahad, 7 May 2017 08:28 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi

Grafis/Ebet

MASIH ingat kapur barus atau kamper? Biasanya, benda ini diletakkan di dalam lemari pakaian. Bulatan kecil itu sering digeletakkan begitu saja, diselipkan di antara lipatan baju, atau digantung dalam sebuah wadah dengan rongga udara lebar. Yang jelas, kapur barus sangat diperlukan untuk menjamin pakaian di almari tidak berjamur.

Kapur barus juga yang menjamin pakaian disimpan lama dalam lemari tidak menjadi apek. Bau kapur barus akan menggantikan ganti pakaian. Sebab kapur barus punya bau kuat dan bersifat antiseptik.
Saking kuat bau kapur barus, ketika daun pintu almari dibuka, bau itu menerobos keluar langsung menusuk hidung. Baju yang disimpan bersama kapur barus akan mempunyai wangi yang khas bahkan ketika dipakai. Itulah sebabnya kapur barus pun seolah menjadi pewangi pakaian. Sebab aromanya cukup segar, mungkin bisa dikategorikan aroma terapi.

Saking kuatnya pula, cukup mudah untuk menandai penyandang baju hasil persekutuan dengan kapur barus. Setidaknya itu menjadi kenangan masa dulu yang sukar dilupakan. Ketika hampir semua punya aroma sama, aroma kapur barus.

Selain bau yang sangat kuat, kapur barus punya akar historis yang kuat pula. Ia menjadi saksi bisu kejayaan rempah di masa lampau. Jauh sebelum masa Portugis, Spanyol, dan Belanda turut berburu rempah di Indonesia.

Berbincang tentang barus, abad II telah berdiri salah satu pelabuhan tertua di Nusantara, yakni Barus. Ptolemaeus, ahli geografi dan astronomi dari Yunani yang hidup di abad 2 M mencatat lima pulau yang dinamakan Barrousai. Beberapa ahli sejarah lalu mengaitkan nama itu dengan Barus.

Kala itu Barus merupakan pelabuhan besar di pantai barat yang menghasilkan cengkeh, kapur barus, kayu cendana, dan pala. Namun, komoditas perdagangan utamanya ialah kapur yang merupakan tanaman asli Indonesia. Kapur atau kamper yang tumbuh di Barus itulah lalu populer dengan sebutan kapur barus dengan merujuk pada daerah tumbuhnya.

Berlanjut pada abad IV, Kerajaan Tarumanegara sejak abad 4 M sudah mempunyai pelabuhan internasional yang dinamakan Pelabuhan Koying. Pelabuhan ini diduga terletak di pantai utara Jawa, di daerah Karawang, dekat Muara Citarum. Pelabuhan Koying inilah yang menjadi jalur penyambung para pedagang ke Selat Malaka dan terus menuju Timur. Jejak aktivitas perdagangan ini dibuktikan dengan ditemukannya barang-barang tembikar buatan India yang diduga dari abad ke 2 M.

Sejarah kejayaan perdagangan rempah di Nusantara juga terus berlanjut. Kerajaan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-11 M. Kejayaan perdagangan itu lalu disusul Wangsa Sailendra, Kerajaan Kahuripan, sampai pada Majapahit.

Tidak berhenti pada wilayah bagian barat Nusantara, kepulauan di bagian Timur Nusantara pun dikenal sebagai penghasil rempah-rempah bernilai tinggi seperti cengkih dan pala. Cengkih ialah tanaman asli yang tumbuh di pulau Ternate, Tidore, dan sekitarnya..

Sementara itu, pala ialah tanaman asli yang tumbuh di Kepulauan Banda. Kedua Jenis tanaman endemis Kepulauan Maluku itu menjadi buruan di pasar internasional karena fungsinya sebagai obat, pengawet, dan penyedap. Itulah sebabnya dalam literatur perjalanan, Kepulauan Maluku dikenal sebagai Spice Islands atau ‘Pulau Rempah’.

Jalur rempah
Bangsa Eropa pun berlomba menemukan rute pelayaran menuju kepulauan rempah itu. Hingga akhirnya Fransisco Serao dari Portugis berhasil mencapai Pelabuhan Hitu pada 1512 walau kapalnya mengalami kerusakan. Pelabuhan-pelabuhan di bagian Timur Nusantara juga menjadi ramai dengan aktivitas perdagangan seperti Pelabuhan Ternate, Tidore, Ambon, dan Hitu.

Jalur rempah Nusantara secara berangsur-angsur terbentuk sejak 2000 SM. Berbagai rempah, seperti kayu manis, merica, pala, dan cengkih mulai menemukan jalan ke Eropa.

Jalur rempah ialah nama yang diberikan pada rute jaringan pelayaran yang menghubungkan Dunia Timur dengan Dunia Barat. Jalur itu terbentang mulai sebelah barat-selatan Jepang menyambung dengan Indonesia melewati selatan India ke laut Merah untuk melintasi daratan Arabia-Mesir terus memasuki Laut Tengah dan selatan Eropa.

Ketika Indonesia menjadi primadona dunia sebab kekayaan alam berupa rempah yang tiada tara, Indonesia pun menjadi banyak tujuan pelayaran bangsa lain. Mereka melewat dan melayar untuk sampai di Nusantara.

Berbangga dengan masa lalu itu sah asal tidak terjebak pada romantisme sejarah. Sebab tak kalah penting ialah penyikapan terhadap masa kini dan masa depan. “Maksudnya bukan cuma sejarah doang, tetapi benar-benar penggunaannya,” tegas Prof Dra Naniek Harkantiningsih Wibisono dari The National Research and Development Centre for Archaeology Indonesia kala menjadi pembicara dalam Rempah & Kita di Galeri Kantor Pos Kota Tua Jakarta (15/4).

Dalam acara yang dihelat Jaringan Masyarakat Negeri Rempah itu, Naniek juga menerangkan tidak boleh berhenti hanya pada kebesaran sejarah. Namun, yang lebih penting ialah bagaimana agar rempah bisa mengembalikan kejayaan pada masa lampau. Sebab sampai sekarang rempah pun masih bisa ditemui di tempat asalnya. Namun, masalahnya adalah kurangnya pembinaan untuk para penghasil rempah.

“Karena di tempat asal penghasilnya itu masih sampai sekarang. Cuma mereka mengeluh pemasaran susah, tidak ada penyuluhan,” tambahnya.

Selain itu, masalah yang juga penting ialah minimnya pasar akibat transportasi laut yang tidak terlalu memadai. Akibatnya, fungsi rempah menjadi terbelakang. Namun, saat ini terkait program tol laut, ia menyambut baik dengan program itu. Menurutnya, fungsi dan kejayaan rempah Nusantara bisa dibangkitkan kembali lewat program tol laut.

“Tapi sekarang dengan adanya Nawa Cita tol maritim. Itu sebenarnya salah satu jalan untuk mengembalikan fungsi rempah-rempah itu tadi,” tegasnya. (M-2)

Komentar