Jeda

Menginspirasi Pengamen Anak

Ahad, 7 May 2017 08:28 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi/M-2

HUT komunitas musik jalanan. -- MI/Abdillah M Marzuqi

SIAPA bilang kelompok penyanyi dan seniman jalanan tidak punya wadah. Siapa bilang pula mereka hidup dengan serbasalah. Jika sedikit mau menyerati kebersamaan bersama mereka. Ada banyak pelajaran hidup yang diperoleh. Setiap mereka ialah pribadi yang hangat. Kerasnya hidup di jalanan menempa mereka menjadi pribadi dengan empati tinggi. Mereka ialah orang-orang dengan semangat hidup yang kuat.

Gerbang dari bernuasa etnik itu cukup mencolok mata. Beratap rumbai dengan bambu yang menjadi penopang. Ada kursi lincak di sisi sebelah kiri. Suasana sejuk langsung menyeruak dari kolam ikan yang berada tepat setelah gerbang. Selain hijau pepohonan, terdapat beberapa saung yang menambah suasana semakin adem. Sebab lokasi itu tampak berbeda dengan lokasi lain di GOR Bulungan. Apalagi, gerbang itu seolah kontras dengan arena panggung terbuka yang pasti dibiarkan tanpa tanaman.

Selain lingkungan yang adem dan sejuk, orang-orang yang berada di dalamnya pun tak kalah sejuk. Mereka menyambut siapa pun yang datang ke tempat itu dengan senyum. Suasana itulah yang didapati ketika berkunjung ke Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS) atau lebih dikenal dengan GOR Bulungan.

Kehadiran tempat tersebut pun tidak melulu mendapat respons yang baik lantaran orang-orang yang berada di dalamnya ialah orang-orang jalanan yang dikonotasikan buruk. "Di jalanan itu kan penilaiannya salah terus. Apalagi, sama aparat, tetapi ada penilaian tuhan itu yang paling benar," ujar Anto Baret.

Awalnya, komunitas ini didirikan untuk melawan aksi pemerasan yang sering dilakukan para preman terhadap pengamen di Pasar Kaget (kawasan Blok M). Namun, kemudian kelompok ini menjadi wadah para penyanyi jalanan, juga tempat untuk para orang jalanan melakukan olah kreatif.

"Kami ingin teman-teman punya waktu untuk kumpul, berdiskusi, dan membuat lagu bersama," kata Anto. Menurutnya, KPJ mempunyai prinsip tidak mengganggu orang sebab kesewenang-wenangan ialah satu hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Semua yang hidup di jalanan ialah saudara.

Tiga larangan
KPJ juga menaruh perhatian lebih pada pembinaan anak-anak jalanan. Mereka juga butuh pembinaan. Anak jalanan butuh tatanan, butuh budi pekerti, butuh sopan santun. Maklumlah, di dalamnya berkumpul orang-orang yang biasa bergerak di jalanan yang identik dengan hidup bebas dan keras.

"Kalau gak ada (aturan) ya gak bisa kaya gini. Kalau tatanan, pasti ada. Makanya saya bilang jalanan bukan sandaran, jalanan bukan pelarian, jalanan adalah kehidupan," ujarnya.

Maka, KPJ pun kemudian membuat tatanan pembinaan budi pekerti dan sopan santun. Hasilnya, jika datang ke Bulungan, tradisi bersalaman jika berjumpa dan berpisah dengan seorang kawan ialah hal yang lumrah terjadi.

KPJ pun punya tatanan seperti hidup di tempat lain. KPJ mempunyai tiga larangan yang harus ditaati. Tidak melakukan tindakan kriminal, tidak ribut dengan sesama saudara. Ketiga tidak boleh memakai narkoba. Menurut Anto Baret, ada empat motivasi anggota KPJ. Pertama ialah untuk karier, kemudian untuk batu loncatan, iseng, dan profesi.

"Baru kita tahu ada empat motivasi dalam KPJ," terangnya.

Mereka yang ngamen untuk karier, lanjut Anto, ialah pengamen yang datang dari daerah dengan membawa serta karya-karya sendiri.

Malam ngamen, siangnya menawarkan karya-karyanya ke produser. Untuk jenis yang ini, beberapa nama telah muncul. Banyak nama besar yang lahir dari KPJ, seperti Mbah Surip, Tony Q Rastafara, Kuntet Mangkulangit, Timur Priono, Yongky RM, dan Subur Sukirman.

"Jadi mereka datang Ibu Kota sudah siap ngembangin bakatnya. Malamnya ngamen, siangnya nyodorin ke produser rekaman. Banyak yang berhasil," tambahnya.

Ngamen sebagai batu loncatan adalah mereka yang datang dari daerah ke Jakarta untuk mencari kerja. Sebelum mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan, untuk mengisi perut mereka mengamen. Malam ngamen, siangnya memasukkan lamaran ke perusahaan.

"Kalau ngamen dia gak punya karya, dia pakai lagu-lagu yang sudah populer, tetapi saya pikir sah daripada mencuri," tambahnya.

Sementara itu, mereka yang ngamen karena iseng biasanya anak-anak sekolah atau mahasiswa untuk mengisi waktu luang atau sekadar mencari uang saku tambahan. Jenis keempat, ialah mereka yang menggantungkan hidup sepenuhnya dari ngamen. Misalnya, bapak-bapak yang ngamen dengan sitar.

Warung ekspresi
Adapun untuk media ekspresi, KPJ membuat agenda acara berupa pertemuan seminggu sekali untuk berdiskusi, menggelar panggung terbuka tiap ultah KPJ. Media ekspresi yang paling belakangan ialah pendirian warung apresiasi atau biasa disebut Wapres sekitar tiga tahun lalu. Di Wapres inilah, tiap malam warga KPJ maupun seniman dari luar komunitas KPJ berekspresi dalam bidang kesenian. Mulai seni musik, teater, hingga sastra. "Di sini ada sasana tinju, ada Warung Apresiasi (Wapres), ada klinik musik. Mau sastra mau apa silakan," terangnya.

Sebagai organisasi yang mengayomi anak-anak jalanan, KPJ juga memperhatikan mereka yang tidak berminat di bidang seni. Mereka yang tertarik di bidang olahraga pun diperhatikan oleh KPJ. Bukan hanya seniman yang ada di sana, melainkan juga para petarung jalanan yang kini dibina di sasana yang didirikan KPJ dengan nama BBC KPJ (Bulungan Boxing Camp). "Gak semua anak jalanan bakat kesenian, sama dengan di tempat-tempat lain. Makanya yang punya bakat berantem kita latih," ujarnya. Bahkan pada 13 Mei 2017, KPJ bakal menggelar Bulungan Champinship untuk memperebutkan Piala KPJ Bulungan. "Nanti tanggal 13 KPJ bikin Thai Boxing," tambahnya.

Munculnya KPJ Jakarta, akhirnya menjadi inspirasi terbentuknya KPJ di daerah. Satu demi satu KPJ di daerah muncul. Kini KPJ tidak hanya ada di Jakarta, tetapi telah menyebar ke berbagai kota besar di Indonesia. Mulai dari Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Bandung, dan meluas ke luar Jawa seperti Palu, Makassar, Pekan Baru, Batam, dan Tanjung Pinang. Setiap tahunnya mereka selalu menyempatkan diri untuk bertatap muka dan bersilaturahim. Kini jumlah anggota KPJ mulai dari Aceh hingga Palu mendekati angka 100.000 orang.

KPJ tak punya banyak yang bisa dijanjikan selain ingin melangkah ke depan meretas jalan kehidupan. Mereka akan selalu berbuat, bertindak, dan bersikap. Bagi mereka, jalanan ialah media bisnis sekaligus media apresiasi.

Komentar