Jeda

Merayakan Hidup dari Jalanan

Ahad, 7 May 2017 08:28 WIB Penulis: Abdillah Muhammad Marzuqi

Grafis/Caksono

MALAM belum terlalu larut. Senja pun masih belum menghilang sepenuhnya. Suasana yang tadinya lenggang mulai dipenuhi oleh pengunjung. Area kosong depan panggung tampak mulai padat. Pengunjung yang datang pun tak tampak asing dengan sekitar. Setiap mereka berpapasan selalu ada balasan sapa dengan senyum menyungging bibir.

Jangan dibayangkan mereka datang dengan dandanan perlente. Sebaliknya, mereka datang dengan seolah apa adanya, seperti yang biasa kenakan sehari-hari. Kala itu ialah ajang kumpul para penyanyi jalanan. Kesan itulah yang didapati kala menghadiri perayaan hari ulang tahun ke-35 Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) di GOR Bulungan Jakarta Selatan (2/5).

Lelaki kurus tinggi, bertopi baret, dan berambut gondrong, memasuki panggung setelah sebelumnya beberapa musisi memulai dengan bunyian. Ia tampil dengan muka berbedak putik dengan liritan warna hitam.

"Di jalanan banyak orang yang dikalahkan. Di jalanan banyak orang berharap pada Tuhan. Di jalanan ada orang penyebar persaudaraan. Di jalanan perjuangan hidup pantang pudar. Rukun damai hidup di jalanan," begitu pria itu bersyair mengawali pentas kreativitas malam itu.

Sepintas tidak ada yang istimewa memang dari sosok itu. Namun, dialah Anto Baret. Seorang yang konsisten dengan cita-cita dan kesadaran untuk menciptakan tatanan di jalanan, yakni saling menghormati, saling berbagi, menebar kerukunan, dan menuju satu kesatuan.

Panggung dengan lampu gemerlap itu seolah tidak meninggalkan sedikit pun kesan bahwa kala itu komunitas jalananlah yang tengah punya hajat. Padahal, semua itu tidak didanai sponsor. KPJ menghelat semuanya dengan dana sendiri, mandiri. "Semua sendiri dan mandiri. Gak ada sponsor. Ya, kitalah," tegas Anto Baret di sela acara.

Penggagas sekaligus pendiri KPJ Anto Baret mengungkapkan helatan itu sebagai perayaan HUT ke-35 KPJ. Setiap tahunnya, tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari lahir KPJ. Setiap itu pula, anggota KPJ berkumpul. Saat perayaan itulah digunakan sebagai ajang silaturahim bagi para anggotanya.

Tajuk Becermin sengaja dipilih untuk pentas apresiasi seni pada malam itu. Tajuk itu mengajak sekaligus mengingatkan untuk melihat ke dalam, untuk mengintrospeksi diri. "Berlomba-lomba untuk becermin. Gak usah melihat rapot orang lain," tegas Anto Baret.

Unjuk karya

Dalam acara itu, seluruh pengisi acara ialah anggota KPJ. Bukan hanya KPJ Jakarta yang unjuk karya, melainkan KPJ dari daerah lain juga berturut bersukacita dengan unjuk karya. Setiap penampil diberi batasan dua karya. Semua karya yang ditampilkan ialah ciptaan sendiri.

"Ini karya mereka sendiri. Ya bisa. Ini karya dia," terang sembari mendengar Girli Jogja. Acara musik yang berlangsung hingga larut malam tidak saja diisi dengan dengungan lagu balada, tetapi juga musik aliran blues, reggae, dan metal.

Malam semakin merangkak larut ketika suasana makin ramai. Salah satu pengisi acara yang ditunggu-tunggu pun muncul di atas panggung. Roxx Band telah bersiap dengan formasi masing-masing. Dalam sejarah musik Indonesia, Roxx merupakan pelopor dari pergerakan musik metal atau underground di Indonesia.

Roxx Band didirikan pada 1 April 1987 di Jakarta. Kini, Roxx Band beranggotakan Trison Manurung, Toni Monot, Iwan Achtandi, DD Crow, dan Raiden Soedjono. Roxx mempunyai ikatan kuat dengan komunitas Bulungan. Bagi Roxx Band, KPJ ialah keluarga sebab band heavy metal itu boleh dikatakan lahir di Bulungan. "Roox ialah salah satu band yang memang pertama kali timbul dari komunitas Bulungan," terang vokalis Trison Manurung.

"Kita lahir tahun 1987. Waktu kita buat pergelaran pertama itu di Bulungan. Yang menyelenggarakan adalah KPJ Bulungan," tambahnya.

Malam itu, Roxx Band membawakan dua lagu, yakni Rock Bergema dan Anthem. Lagu Rock Bergema juga termasuk dalam 150 Lagu Indonesia Terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia, sedangkan lagu Anthem diambil dari album terbaru mereka berjudul sama.

"Jadi, kita kalau di Bulungan seperti kampung sendiri. Semua teman KPJ adalah teman kami," pungkas Trison.

KPJ memang hanya kelompok orang yang hidup di jalanan. Rancangan program kerjanya secara administratif amat jauh dari organisasi dengan nama mentereng. Namun, siapa sangka, dengan kepolosan dan ketulusan para anggotanya, organisasi itu bisa berjalan hingga 35 tahun. (M-2)

Komentar