Tifa

Paduan Klasik dan Kontemporer

Ahad, 7 May 2017 07:10 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi abdizuqi@mediaindonesia.com

Musik gamelan yang digarap sedemikian rupa, serta eksplorasi musik dan gerak yang disuguhkan tak biasa dalam pertunjukan wayang orang, sehingga seni tradisi WO Sriwedari mampu tampil eksklusif dan elegan. MI/ABDILLAH M MARZUQI

MENDENGAR nama Sriwedari bisa jadi akan merujuk pada pertunjukan tradisi yang klasik dan tradisional. Bisa pula segala bayangan tentang pertunjukan kekinian akan menjauh. Wayang Orang (WO) Sriwedari merupakan salah satu perkumpulan seni budaya tertua di Indonesia yang didirikan pada 1911.

Namun, bayangan itu akan pudar ketika melihat pergelaran Wayang Orang (WO) Sriwedari dengan lakon Mintaraga di Gedung Pewayangan Kautaman TMII Jakarta pada 25 April 2017. Pentas ini menyuguhkan warna baru dengan nuansa segar. Pentas ini sekaligus menandai Kongres IX Sena Wangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia) yang berlangsung pada 25-26 April 2017 di lokasi yang sama. Lakon tersebut merupakan buah kerja sama dari WO Sriwedari dan ­Triardhika Production yang disutradarai Agus Prasetyo dan diproduseri Eny ­Sulistyowati.

Lakon Mintaraga mengisahkan perjalanan Arjuna ketika menjadi pertapa bernama Ciptoning atau Mintaraga. Dalam pertapaan itu, Arjuna banyak menghadapi berbagai cobaan oleh dewa untuk menguji seberapa besar keteguhan hati Arjuna. Semua godaan tak ada yang bisa menggentarkan laku Arjuna. Bahkan Batara Indra yang menyamar sebagai Resi Padya pun ternyata tak mampu menggoyahkan tekad Arjuna. Begitu pula hadirnya Batara Guru juga tak mampu membuyarkan Arjuna dari tapa.

Keteguhan hati itulah yang kemudian mendorong dewa untuk memilih Arjuna menjadi seorang kesatria pilihan. Ia mendapat tugas untuk menumpas kejahatan raja angkara murka bernama Niwatakawaca. Ia raja raksasa yang ingin mempersunting Dewi Supraba.

Arjuna pun mendapat julukan Jagoning Dewa. Berbekal pusaka panah Pasopati pemberian Dewa dan Supraba sebagai pendamping­nya, Arjuna dapat menumpas ­Niwatakawaca. Sebagai imbalan atas jasanya terhadap Dewa, Arjuna diangkat menjadi raja di Kahyangan Warukandabinangun, dengan julukan Prabu Karitri.

Dalam lakon pakem, Arjuna digambarkan sebagai manusia paripurna setelah ia berhasil melaksanakan tugas untuk menumpas Niwatakawaca lalu menjadi menjadi raja. Namun, dalam lakon ini, ada tafsir ulang untuk semakin memperteguh pesan dan merespons kondisi saat ini.

Kritik moral
Lakon Mintaraga memberi tafsir bahwa ketika seseorang mencapai tingkatan tertinggi. Ketika semua tujuannya telah tercapai. Lalu apa? Apakah pencapaian tersebut telah sesuai dengan kodratnya sebagai manusia? Apakah yang selanjutnya ia perjuangkan? Apakah dalam arti sebagai titah yang harus mengemban tugas kemanusiaan secara utuh. Yakni hidup selaras, serasi, dan seimbang terhadap sesama manusia, alam dan Tuhan. Lakon itu ialah respons moral dari kondisi saat ini. Ketika telah mencapai tujuan dan berada di tingkatan tertinggi, Arjuna malah mempertanyakan atau dipertanyakan kembali hakikat kedirian dan kemanusiaannya. Ketika manusia lupa tujuan asali.

“Apakah ketika Arjuna menjadi raja, sudah segala-galanya? Ternyata masih ada pertanyaan lagi. Ini juga sebagai kritik moral atas kondisi saat ini,” terang sutradara Agus Prasetyo. Berbincang tentang pertunjukan, set panggung selama pertunjukan hampir tak ada perubahan berarti. Cenderung tetap malah. Namun, justru itu yang menjadikan pertunjukan ini menarik. Mereka seolah melepaskan diri dari segala atribut gemerlap dan properti panggung megah. Konsep garap semacam ini lazim ditemui dalam pertunjukan kontemporer.

Set panggung selama pertunjuk­an hampir tak ada perubahan berarti, bahkan cenderung tetap. Tidak ditemukan segala macam properti panggung yang biasanya menjadi khas wayang orang. Justru pelepasan artribut properti itu menjadi salah satu yang menarik dari pentas ini. Penonton akan lebih fokus pada garap keaktoran dan tari­an. Penonton menjadi lebih leluasa menyimak segala keindahan dalam pentas itu. Mendengarkan suara gamelan yang dipadu dengan dialog antarwayang.
Pertunjukan kurang dari 2 jam itu seolah tak memperbolehkan penonton untuk sekali pun memalingkan muka dari panggung.

Menggali warna baru
Wayang Orang (WO) Sriwedari sebagai kesenian tradisional membuktikan dirinya mampu eksis dan berkembang sesuai zaman. WO Sriwedari mampu mengembangkan segi artistik, bobot isian cerita, pola penggarapan, dan visual panggung. Mereka terus mencoba menggali warna-warna baru dengan tetap berpola pada kekuatan klasik wayang orang. “Kami ingin menunjukkan tradisi bisa eksklusif dan elegan,” terang sutradara Agus Prasetyo.

WO Sriwedari rupanya menolak pupus di era sekarang. Mereka memutuskan untuk bukan hanya bertahan, melainkan juga untuk berkembang. Genderang regenerasi tampaknya sudah berbunyi lama. Buktinya, penulis naskah lakon Mintaraga ialah seorang muda bernama Billy Aldi Kusuma yang masih berusia 24 tahun.
Musik gamelan digarap sedemikian rupa. Penata karawitan Pujiyono dan Nanang Dwi Purnama sukses menyuguhkan eksplorasi musik yang cair dengan imbuhan rampak irama rebana. Selain itu, eksplorasi gerak oleh Mahesani Tunjung Seto sukses menyuguhkan gerak yang tak biasa didapat dalam pertunjukan wayang orang. Sekelompok penari berkelindan dalam bentuk yang solid. Mereka bereksplorasi mencari ruang baru untuk penempatan anggota tubuh. Hal itu ditambah dengan tata kostum yang apik dari Hartoyo Budoyo Nagoro.

Pemberdayaan dan penguatan terhadap keberadaan seni tradisi perlu terus diupayakan secara berkesinambungan. Melakukan reposisi kultural terhadap nilai-nilai tradisi untuk menemukan posisi dan maknanya yang baru. “Reposisi bukan dalam pengertian ekstrem; pembongkaran dan penghancuran, melainkan melalui reinterpretasi dan inovasi,” terang produser Eny Sulistyowati.

Dalam pertunjukan seni klasik hampir didapati, permasalahan bahasa mungkin menjadi soal yang sama klasiknya dengan pertunjukan klasik. Dalam durasi pertunjukan, sekitar 1 jam 45 menit, bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Bukankah bahasa seni bersifat universal? Bahasa bukan hanya yang terucap dan tertangkap, melainkan juga yang tersirat dan terungkap. Bukankah tubuh juga punya bahasa, seperti pula mimik muka, sikap ­tubuh, bahkan suara? Tak mengerti bahasa verbal bukan berarti halangan untuk menikmati seni. Dalam pertunjukan wayang, semua bahasa melebur menjadi satu dalam wujud bahasa seni panggung. (M-2)

Komentar