Tifa

Persandingan Seni dan Arkeologi

Ahad, 7 May 2017 06:45 WIB Penulis: (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Pepngunjung tengah mengamati Pameran Gambar Cadas Indonesia Wimba Kala yang dihelat di Gedung A Galeri Nasional Indonesia pada 29 April hingga 15 Mei 2017.. MI/ABDILLAH M MARZUQI

PAMERAN kali ini serasa berbeda. Bagaimana tidak? Sebelum menginjak ruang pamer, sempatlah sejenak untuk melirik atas lelangit gerbang masuk. Di sana terpampang citra cap tangan yang sangat unik, yaitu cap tangan jamak. Itulah keunikan gambar cadas di Indonesia yang membedakan dengan garca lain di dunia.
Di tempat lain di dunia, cap tangan biasanya digambar terpisah sendiri-sendiri.

Sementara itu, Sangkulirang (Kalimantan) dan Maros (Sulawesi) sering menampilkan komposisi dari banyak cap (telapak) tangan. Inilah salah satu ciri yang sangat khas dari garca Indonesia. Cap tangan nan yang minimal berumur 20 ribu tahun yang terpampang di lelangit gerbang tersebut seperti posisi aslinya pada langit-langit Gua Jeriji Saleh (Kalimantan) yang sekarang masih dalam keadaan sangat baik seperti yang terlihat pada lelangit tebing.

Itulah secuil keindahan dari Pameran Gambar Cadas Indonesia Wimba Kala yang dihelat di Gedung A Galeri Nasional Indonesia pada 29 April hingga 15 Mei 2017.
Di galeri depan, terpampang peta sebaran dan masa penggambaran yang ada di Indonesia. Indonesia diyakini sudah memulai menggambar sejak 40 ribu-20 ribu tahun lalu yang berarti menjadi salah satu yang tertua dan pertama di Indonesia.

Wimba Kala dikuratori tiga kurator sekaligus, yaitu Rizki A Zaelani, Pindi Setiawan, dan R Cecep Eka Permana, serta dibantu asisten kurator Adhi Agus Oktaviana. “Penggabungan antara karya-karya masa kini dan masa lalu seni rupa Indonesia ini kami harapkan bisa memberikan dan memperluas pengetahuan publik, khususnya kalangan dunia pendidikan tentang sejarah dan khazanah kekayaan gambar cadas Indonesia yang sangat bermakna dan berharga. Gambar cadas tidak hanya sebagai ekspresi ritual dan spiritual, tetapi juga sebagai ekspresi estetik,” tutur Kepala Galeri Nasional Indonesia, Tubagus Andre Sukmana.

Ekspedisi singkat
Dalam menafsirkan gambar-gambar cadas, para perupa berangkat dari sebuah ekspedisi singkat di Gua Muna, Sulawesi Tenggara dan Gua Maros, Sulawesi Selatan. Kedua lokasi tersebut dipilih karena memiliki bentuk-bentuk gambar cadas yang bervariatif sehingga dapat menyajikan visualisasi yang kaya bagi para perupa.
Ekspedisi ini dianggap penting karena dapat mengantarkan para perupa dalam memperoleh pengalaman artistik secara langsung dengan melihat bentuk-bentuk asli gambar cadas. Selain mendatangi lokasi, para perupa juga dibekali dengan bahan-bahan teoretis yang merupakan hasil penulisan dan penelitian yang telah dikerjakan para ahli arkeologi selama ini.

Hasilnya, terciptalah delapan karya yang merupakan hasil representasi dari gambar-gambar cadas, berupa lukisan, seni instalasi, seni video, fotografi, dan mural.
Karya-karya yang ditampilkan dalam Wimba Kala merupakan hasil olah artistik delapan perupa masa kini, yaitu Achmad Krisgatha, Andang Iskandar, Eldwin Pradipta, Farhan Siki, Irman Anas Rahman, Panca DZ & ARTi, Ricky ‘Babay’ Janitra, dan S Dwi Stya ‘Acong’.

Karya itu disandingkan dengan dua karya lukis para seniman ternama yang dianggap relevan dengan gambar cadas. Di antaranya karya Achmad Sopandi Hasan (1958–2015) yang merupakan koleksi Galeri Nasional Indonesia, serta karya R Basoeki Abdullah (1915 – 1993) sebagai koleksi dari Museum Basoeki Abdullah. (Abdillah M Marzuqi/M-2)

Komentar