Film

Konsekuensi yang tidak Bisa Ditarik Kembali

Ahad, 7 May 2017 06:13 WIB Penulis: (Her/M-4)

DOK. FILM NOOR

NOOR (Sonakshi Sinha) sehari-hari bekerja sebagai jurnalis televisi. Meski itu pekerjaan yang selalu dia impikan, dia merasa hidupnya membosankan bahkan menyebalkan. Sebagai jurnalis, dia merasa bakatnya disia-siakan. Bukannya ditugaskan meliput peristiwa besar yang berdampak bagi kemanusiaan, dia malah disuruh meliput kisah selebritas dan hal lain yang dipandangnya teramat remeh. Berbagai usulan liputan besar dia ajukan, tapi semuanya ditolak sang atasan.

Suatu hari, dia disuruh mewawancarai seorang dokter yang bekerja untuk yayasan milik petinggi media tersebut. Liputan yang seperti biasa dipandang membosankan dan tak penting bagi Noor itu tiba-tiba mengubah hidupnya secara drastis. Pekerja rumah tangga yang biasa membersihkan rumahnya kebetulan melihat rekaman wawancara itu saat diliput. Pembantu itu mengungkap bahwa dokter yang dilabeli pahlawan sosial tersebut justru seorang penjahat.

Saudaranya ketika melamar kerja ke dokter tersebut malah menjadi korban penjualan ginjal secara ilegal. Hal ini baru disadari ketika sebagai dampak ginjal yang dicuri, saudaranya itu sakit parah dan dilarikan ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa kemudian memberitahukan bahwa ginjalnya hilang. Berupaya mendapat keadilan siasia
belaka. Sebagai warga miskin dari perumahan kumuh di Mumbai, India, kehidupan mereka lebih sering dianggap tak berarti. Alih-alih mendapat keadilan, jiwa mereka
malah diancam.

Insting jurnalis Noor bekerja, dia tahu bahwa itu berita besar yang harus diungkap ke publik supaya dokter itu dihukum atas perbuatannya dan korban mendapatkan keadilan. Dia merekam wawancara dengan pembantunya dan kondisi korban, lantas mengajukan ke atasannya agar berita itu ditayangkan. Namun, atasannya memintanya menunggu tiga hari untuk mempertimbangkan materi berita tersebut.

Dalam kondisi kesal, Noor menemui Saad Sehga (Kanan Gill), kekasihnya yang seorang jurnalis lepas, yang pernah meliput perang dan terkenal berkat karya fotonya. Dia mencurahkan kekesalannya karena sang atasan menunda menayangkan skandal besar yang baru diungkapnya, juga menunjukkan video rekamannya yang berisi wawancara korban pencurian ginjal. Tanpa terduga, keesokan harinya berita tersebut beredar luas. Saad mencuri video dan mengklaimnya sebagai hasil liputannya. Publik pun geger, dokter yang dituduh terlibat dalam sindikat penjualan ginjal ilegal sibuk memberikan pembelaan, pihak berwajib pun menyelidiki kasus tersebut.

Konflik itu yang menjadi inti film Noor garapan sutradara Sunhil Sippy. Film yang tayang di Indonesia sejak pekan terakhir April 2017 itu diadaptasi dari novel Karachi, You’re Killing Me! karya penulis asal Pakistan Saba Imtiaz. Tak hanya merasakan perihnya dikhianati kekasih yang mencuri hasil kerjanya, Noor juga mempelajari hal lain. Bukanlah tanpa alasan ketika atasannya memutuskan menunda menayangkan beritanya, melainkan ada unsur penting dalam jurnalistik yang tak boleh diabaikan, yakni verifikasi.

Kecerobohan Noor tidak hanya berdampak pada pekerjaannya. Video tanpa bukti yang memantik penyelidikan polisi itu membuat kasus itu mati. Para saksi dan korban
ditemukan tewas. Semua akibat ia tidak melakukan verifikasi. Sayangnya, film ini memiliki alur yang lambat. Konflik besarnya justru dikaburkan kisah persahabatan dan
percintaan yang tidak terlalu signifi kan menambah nilai cerita dalam film. Di sisi lain, kesalahan yang dilakukan dalam kegiatan jurnalistik justru tidak diselesaikan dengan cara-cara jurnalistik sepatutnya.

Meski begitu, film tersebut menjadi sangat relevan untuk ditonton di masa sekarang, ketika masyarakat tampak sangat aktif menyebarkan informasi tanpa melakukan verifikasi atas kebenarannya. Layak diingat, setiap kata yang telah dilontarkan pasti memiliki konsekuensi dan tak bisa ditarik kembali. Pun sekalipun suatu informasi benar adanya, perlu dipertimbangkan adakah faedah dari menyebarkannya. (Her/M-4)

Komentar