PIGURA

Bunga-Bunga untuk Rama Regawa

Ahad, 7 May 2017 05:15 WIB Penulis: Ono Sarwono sarwono@mediaindonesia.com

Dok MI

RIBUAN karangan bunga dari warga di Balai Kota Jakarta sebagai ungkapan berbagai perasaan mereka kepada Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat yang kalah dalam Pilkada DKI baru-baru ini merupakan fenomena baru. Ini keadaban, model unjuk rasa yang sejuk nan wangi. Terlepas dari suka atau tidak suka, ini bukti begitu banyaknya warga, bukan hanya penduduk Ibu Kota melainkan juga dari daerah lain, bahkan dari luar negeri, yang mencintai sosok (kepemimpinan) Basuki-Djarot.

Lewat pesan dan kesan yang tersungging dalam karangan bunga itu, warga melepas Basuki-Djarot yang mesti lengser dari tampuk kepemimpinan Ibu Kota dengan ‘tangisan’ sayang. Mereka pun berharap kelak ada medan lebih baik bagi kedua anak bangsa yang berkualitas itu untuk mengabdi. Dalam kisah wayang, peristiwa unjuk rasa semerbak seperti itu mirip dengan ketika rakyat Ayodya melepas putra mahkota Rama Regawa yang terpaksa meninggalkan istana. Rama, yang semestinya menjadi pemimpin, disingkirkan demi terjaganya wibawa istana dan ketenteraman negara.

Penobatan Barata
Dikisahkan, Raja Ayodya Prabu Dasarata memiliki lima anak. Dari garwa padmi (permaisuri), Dewi Kasulya, lahir putra yang diberi nama Rama Regawa. Kemudian dari istri kedua, Dewi Sumitra, lahirlah anak lelaki Leksmana Widagda. Istri ketiga, Dewi Kekayi, melahirkan tiga anak, yakni Barata, Satrugna, dan Dewi Kawakwa. Berdasarkan paugeran (aturan) negara, putra mahkota menggantikan sebagai raja bila Dasarata lengser atau mangkat. Dasarata pun jauh hari sudah mempersiapkan sang putra mahkota yang juga putra sulungnya dengan melengkapi berbagai syarat. Selain mengkhatamkan ilmu pemerintahan dan tata negara, juga dibekali kesaktian dan kepribadian.

Pada suatu ketika, Dasarata menyatakan pensiun. Sabda raja itu muncul tidak lama setelah Rama menikah dengan Rakyan Wara Sinta, sekar kedhaton Negara Mantili. Dasarata juga menilai bahwa Rama sudah siap menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin Ayodya. Pada hari yang telah ditentukan, atas perintah raja, semua persiapan penobatan Rama sebagai raja anyar tiada lagi yang tercecer. Rakyat antusias menyambut datangnya raja yang tampan, muda, pintar, dan digdaya yang bakal membawa Ayodya menjadi negara kuncara.

Tapi, beberapa saat menjelang pelantikan, Dasarata mendadak membatalkannya. Dengan sangat menyesal, ia mesti menyatakan bahwa yang menggantikan dirinya bukan Rama melainkan Barata. Sabda raja ini bagaikan geledek di siang bolong. Rakyat terhenyak dan bertanya-tanya. Terungkap, latar belakang gagalnya Rama dinobatkan sebagai pemimpin itu karena Dewi Kekayi menagih janji kepada Dasarata. Kekayi mendesak sang raja memenuhi kesepakatannya menjelang pernikahan mereka yang lalu. Ketika itu, Kekayi bersedia menjadi istri madu Dasarata bila anaknya kelak yang nglungsur kawibawan (menjadi raja) di Ayodya. Dasarata mengaku kilaf, tetapi ia tidak ingin disebut sebagai raja yang mencla-mencle, sabda pendhita ratu tan kena wola-wali. Maka dengan terpaksa ia melantik Barata yang sesungguhnya masih ingusan menjadi raja Ayodya.

Hutan Dandaka
Drama tidak berhenti sampai di situ. Kekayi khawatir bila Dasarata mangkat, Rama akan dengan mudah menurunkan Barata dari singgasana. Maka, demi kelanggengan kekuasaan putranya, Kekayi mendesak Dasarata memaksa Rama keluar dari istana untuk selamanya. Betapa hancurnya hati Dasarata ketika itu. Tubuhnya yang beranjak renta tidak kuasa membendung depresi yang mengimpit. Tidak lama kemudian, Dasarata jatuh sakit dan akhirnya menghadap sang pencipta.

Sepeninggal ayahnya, Rama tidak kehilangan jiwa kesatrianya. Ia tidak mengutak-atik penobatan Barata. Ia pun tetap menghormati Kekayi. Maka, demi menjaga muruah istana dan persatuan rakyat, Rama rela pergi meninggalkan tempat kelahirannya. Tidak lupa, terlebih dulu ia pamit kepada ibunya, sentana dalem, dan para nayaka praja.
Saat Rama melangkah meninggalkan istana inilah suasana haru mengharu-biru. Langit pun tampak pilu dengan mendung yang menggantung. Rakyat yang sejak pagi berduyun-duyun menunggu di alun-alun, mengelu-elukan Rama dengan tetesan air mata iba. Mereka menghujani Rama dengan ribuan roncean bunga melati yang semerbak mewangi tanpa henti.

Rama mesem tipis sambil melangkah kalem. Sesekali ia menoleh ke kiri- kanan dan menyapa tanpa muka papa. Tidak sedikit pun rasa kecewa atau sedih tergurat di wajah. Beberapa kali tubuhnya sempat terhuyung karena banyaknya tangan yang berebut merengkuh dan memeluk kakinya. Sang pangeran tidak sendirian. Di belakangnya, Sinta, dengan sungging senyum pahit madu, takzim mengikuti sang suami. Beberapa langkah di belakangnya, Leksmana membuntuti. Tidak ada yang tahu, ke mana ketiga titah trahing kusuma rembesing madu (kesatria berdarah biru) itu ngumbara lelana brata (berkelana dalam keprihatinan).

Setelah berhari-hari menganyunkan kaki mengikuti getaran hati, derap langkah Rama, Sinta, dan Leksmana berhenti di tengah Hutan Dandaka. Di sana, mereka membangun pondok dan kemudian bersama-sama menata diri mesu budi, mendekatkan diri kepada Sanghyang Widi. Beberapa hari berselang, tiba-tiba datanglah Barata. Di depan Rama, Barata bersimpuh tersedu-sedu. Ia merasa tidak nyaman menjadi raja. Ia juga mengaku tidak memiliki kapasitas memimpin negara. Barata meminta sang kakak segera pulang ke Ayodya untuk menjadi raja.

Hastabrata
Bagaimana reaksi Rama? Ia mendorong Barata menjunjung tinggi sabda sang ayah. Artinya, jangan sampai mundur dari singgasana raja. Rama kemudian membekali adiknya ajaran kepemimpinan. Rama memberi wejangan bahwa pemimpin itu mesti mampu meneladani delapan watak alam. Pertama watak bumi, pemimpin mesti kaya hati. Kedua, matahari, wataknya selalu menjadi penerang. Ketiga, bintang, dapat menjadi petunjuk atau teladan. Keempat, rembulan, memberikan rasa ayem dan tenteram. Kelima, samudra, wataknya tulus, lapang dada, dan legawa. Keenam, air, harus tenang dan rendah hati. Ketujuh, angin, pemimpin harus adil, dekat dengan rakyat. Kedelapan, api, wataknya tegas dan tidak pandang bulu.

Setelah mendapat wejangan luhur yang dikenal dengan konsep kepemimpinan hastabrata itu, Barata merasa mantab memimpin Ayodya. Tapi, dalam lubuk hatinya, ia mengakui bahwa raja sejati ialah Rama. Barata yakin suatu ketika nanti Rama pasti kembali ke Ayodya. (M-4)

Komentar