Travelista

Pelesir dan Belajar dari Bangkok

Ahad, 7 May 2017 03:40 WIB Penulis: Abdillah M Marzuqi abdizuqi@mediaindonesia.com

thinkstock

HAMPIR tidak ada beda, tapi mengapa jumlah wisatawan di sana jauh lebih besar ketimbang Jakarta atau Bali?
Setidaknya itulah gambaran pertama kali yang terlintas ketika kami menginjakkan kaki di Bangkok. Kala itu, Media Indonesia berkesempatan mengunjungi dua kota di Thailand, yakni Bangkok dan Phuket bersama rombongan Kementerian Pariwisata dalam misi mengail ikan di kolam wisatawan Thailand pada World Travel and Tourism Council (WTTC) 2017.

Bersamaan dengan ajang itu, pada hari yang sama, Menpar Arief Yahya juga punya agenda lain untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia, di antaranya pertemuan bilateral dengan Menteri Pariwisata Thailand, dan penandatanganan Kerja Sama Wisata Maritim.
Di sela agenda padat itulah, kami menyempatkan diri berkeliling ke sekitar area helatan WTTC 2017 di Centara Grand Centralworld Bangkok Thailand (26/4).

Menelusuri jalan Bangkok
Berbekal peta yang gampang didapat gratis dan tak malu bertanya, perjalanan menelusuri jalanan Kota Bangkok pun bermula. Hampir sama dengan di Jakarta, warga setempat pun punya hambatan keterbatasan berbahasa Inggris. Namun, inilah uniknya, ternyata minat wisatawan tidak berkurang juga. Di sana, pedagang kaki lima merupakan pemandangan yang jamak tetapi sampah dan kotoran bukanlah pemandangan yang umum. Walaupun tempat sampah yang juga jarang tersedia, trotoar bersih.

Padahal, trotoar harus berbagi dengan pedagang kaki lima. Pedagang-pedagang turut menjaga kebersihan, masing-masing bertanggung jawab terhadap sampah yang timbul dari aktivitas berjualan. Bahkan, tepat di depan Centralworld, mal terbesar di Bangkok, terdapat lapak pedagang kaki lima. Lapak-lapak itu di­susun berjejer seperti pasar dan hanya buka malam. Mereka berjualan baju, celana, aksesori pria dan wanita. Suvenir yang dijual, aneka kaus bergambar aneka ikon Thailand untuk segala usia. Selain itu, ada makanan, buah, dan jus.

Hotel di belantara kota
Selang beberapa lama dari Centralworld, Erawan Shrine nampak di pandangan mata. Ini kuil patung Buddha empat wajah. Letaknya di pelataran Hotel Grand Hyatt Erawan.
Tempat suci itu berada di persimpangan Ratchaprasong, di tengah ibu kota dan dikelilingi pagar besi. Kuil itu istimewa, terletak di antara hotel besar, pusat perbelanjaan, rumah sakit, dan banyak kantor.

Patung Buddha ini ramai dikunjungi warga dan wisatawan karena mereka percaya doa-doa yang dilantunkan akan terkabul. Penduduk yang tengah beribadah seolah tidak terganggu dengan kebisingan deru kendaraan yang berlalu lalang. Pedagang kaki lima menjual karangan bunga dan gajah kayu untuk disajikan sebagai persembahan. Para penjual tidak terlihat agresif menawarkan barang dagangan, mungkin tak ingin mengganggu kenyamanan wisatawan.

Patung di kuil itu telah berdiri sejak 1956. Kuil itu memang tidak terlalu luas, sekitar 100 meter persegi dengan altar Buddha di posisi tengah. Jika ingin berdoa, pengunjung dapat membeli sesajen seharga 10-25 baht. Kabar baiknya, bagi wisatawan yang doanya terkabul, diharuskan kembali lagi ke Patung Buddha Empat Wajah ini untuk bersyukur. Banyaknya bunga serta buah-buahan di sekitar altar yang merupakan bentuk ucapan syukur ialah bukti terkabulnya doa yang pernah dipanjatkan.

Ada yang menarik dengan cerita pembangunan kuil ini. Kuil Erawan dibangun setelah pemerintah Thailand memutuskan membangun hotel mewah Erawan di lokasi ini. Namun, tahap pertama konstruksi diliputi begitu banyak masalah sehingga buruh menolak melanjutkan pembangunan. Lalu diputuskan mendirikan kuil untuk menangkal nasib buruk.

Kuil penyelamat
Wat Pathum Wanaram ialah candi Buddha di Bangkok, terletak di Distrik Pathum Wan, di antara dua pusat perbelanjaan Siam Paragon dan CentralWorld, di seberang jalan Siam Square. Dari Erawan Shrine, cukup berjalan kaki melintas King Rama Road. Tak perlu takut menyusuri trotoar, sebab ada pagar besi yang cukup tinggi yang memisahkan trotoar dan jalan raya.

Pagar itu juga berfungsi agar trotoar tidak digunakan kendaraan bermotor. Pemandangan yang jauh berbeda dengan beberapa tempat di Jakarta. Meski demikian, wisatawan bisa berjalan di jalur pejalan kaki di bawah jalur BTS Skytrain. Wat Pathum Wanaram benar-benar diteduhkan pepohonan besar. Ada jalan setapak yang bagus dan Wat terbuka menuju dedaunan hijau di keempat sisinya. Lagi-lagi, kuil ini dikelilingi jalan-jalan yang sibuk, pusat perbelanjaan, dan gedung perkantoran bertingkat. Namun, begitu Anda masuk ke sana, suasana teramat tenang.

Kuil ini didirikan pada 1857 oleh Raja Mongkut (Rama IV) sebagai tempat pemujaan di dekat Istana Sa Pathum. Di sini pula, abu jenazah para anggota Keluarga Kerajaan Thailand di garis Pangeran Mahidol Adulyadej dikebumikan.

Susuri sungai
Perjalanan siang itu harus berakhir, sebab acara penandatanganan MoU Kerja Sama Pariwisata Sabang-Langkawi-Phuket sudah akan dimulai. Seusai acara tersebut, destinasi berikutnya ialah Asiatique The Riverfront. Tempat ini hanya buka malam hari dan terletak di pinggir Sungai Chao Phraya. Tempat ini mirip pasar malam sehingga enak untuk sekadar menghabiskan waktu, belanja, ataupun makan.

Tidak hanya berbelanja, di Asiatique Anda juga bisa menjumpai beberapa atraksi hiburan, seperti Asiatique Sky, bianglala setinggi 60 meter yang menyuguhkan pemandangan tercantik ibu kota Thailand dari ketinggian. Di sini juga ada dermaga di pinggir Sungai Chao Phraya, tempat merapat kapal-kapal wisata. Kapal itu akan mengantar Anda untuk menikmati keindahan dan suasana romantis di Bangkok.

Hari itu dipungkasi kesimpulan sederhana layaklah Bangkok menjadi favorit turis. Selain destinasi, ada yang lebih penting, yakni kesadaran wisata sangat tinggi.
Masyarakat lokal Bangkok punya kesadaran untuk mendukung pariwisata di negara itu. Mereka mampu membuat turis nyaman dengan lingkungan mereka.
Tidak ada penjual yang memaksakan barang untuk dibeli ataupun banyaknya pungutan liar dan tiket masuk. Lingkungan yang terjaga bersih dan senyum yang senantiasa mengembang. Sawasdee. (M-1)

Komentar