MI Muda

Serunya Bisnis Jalan-Jalan Hemat

Ahad, 7 May 2017 01:45 WIB Penulis: Bagus Patria Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran muda@mediaindonesia.com

OKPRIBADI

SETIAP orang pasti suka pelesiran, mulai menjelajah alam seperti pantai, gunung, dan danau, hingga menelusuri lokasi bersejarah buat melepas penat. Selain butuh waktu, tidak dimungkiri untuk dapat menikmati liburan, pastinya diperlukan anggaran. Apalagi, untuk berlibur ke tempat yang jauh, kocek pun dirogoh kian dalam. Dilema itulah yang jadi ide dasar bisnis Raka. Ia berupaya menemukan solusi agar kecintaannya terhadap jalan-jalan bisa menghasilkan uang. Tercetuslah Jelajah Backpacker, jasa tur dan travel yang dirintisnya sembari menyelesaikan kuliah di Fakultas Teknik Universitas Indonesia selama 3,5 tahun. Semua detail persiapan dan eksekusi bisnis itu ia garap mandiri, kecuali desain! Yuk simak obrolan Muda dengan Raka seputar hobi berujung usaha itu!

Apa sih sebenarnya Jelajah Backpacker?
Ini jasa tour dan travel yang berkonsep low budget. Jadi setiap orang bisa traveling, tidak perlu biaya mahal. Jadi melalui kita, orang bisa jalan-jalan dengan biaya minimal tapi tetap menyenangkan. Dari sanalah tercetus nama Jelajah Backpacker.

Ceritakan dong proses kamu mendirikannya?
Awalnya, waktu kuliah kemarin, sama teman kampus, namanya Ines, aku mengatur jadwal liburan teman-teman ke Malang-Batu-Bromo. Alhamdulillah trip-nya sukses.
Beres dari sana, saya berpikir membuat usaha tour dan travel dengan biaya minim tetapi fasilitas tidak kalah baik.
Saya mencoba mengatur perjalanan lain seperti ke Singapura dan Kuala Lumpur, kemudian ditawarkan ke kerabat dan ternyata responsnya positif. Akhirnya untuk pertama kalinya, teman-teman ibu saya jadi klien pertama, pada November 2015 tujuannya Kuala Lumpur.
Ternyata setelah pilot project itu sukses, saya disarankan membuat website dan media sosial sehingga bisa jadi jasa tour and travel yang masif. Intinya, awalnya dari hobi dan akhirnya ketagihan.

Kan kamu kuliah di teknik metalurgi, kenapa sampai kepikiran soal usaha perjalanan?
Karena menurut saya, setiap orang pasti punya passion di luar jurusan kuliahnya. Passion saya traveling dan backpacking, ya berusaha menyalurkan hal yang saya suka tersebut.

Destinasi mana saja yang sudah pernah dituju Jelajah Backpacker?
Untuk domestik, sudah pernah membawa ke Malang, Banyuwangi, Bali, Belitung, dan Palembang, sedangkan ke luar negeri, kita sudah pernah ke Singapura, Kuala Lumpur, Johor Baru, Bangkok, Patayya. Kita ada rencana untuk mengembangkan ke Hong Kong, Makau, Tokyo, Osaka, Seoul, dan Rusia.

Bagaimana perasaan waktu pertama kali membawa klien Jelajah Backpacker?
Waktu pertama kali bawa orang ke Kuala Lumpur, tepatnya 14-16 November 2015, enam orang dari Jakarta. Walaupun yang ikut merupakan kerabat ibu sendiri, tapi jujur rasanya campur aduk, kaku, canggung. Setelah sekian lama tidak ke Kuala Lumpur, hanya berdasarkan riset saja, akhirnya semua teori yang saya dapat itu harus direalisasikan. Jujur di hari H itu saya harus eksplor tujuan sendiri.

Apa ada keinginan untuk tetap kerja sesuai bidang kuliah dulu?
Kalau untuk tetap berkarya di bidang metalurgi dan material itu pasti. Namun, saya juga tetap ingin mengembangkan bisnis. Jadi kalau nanti sudah punya pekerjaan di bidang metalurgi dan material, akan tetap menjalankan Jelajah Backpacker walaupun bukan saya yang mengurus langsung. Jadi, merekrut beberapa orang seperti lulusan SMK atau D-3 pariwisata sehingga usaha ini bisa berjalan terus.

Sekarang masih jalan sendirian?
Ada satu teman membantu untuk bagian desain. Selain itu, untuk beberapa tujuan domestik, bermitra dengan guide lokal. Namun, di luar itu, memang saya mengurus sendiri, mulai mengurus jadwal, tiket, hingga penginapan.

Pernah punya pengalaman unik waktu membawa klien?
Pernah ha ha ha! Waktu perjalanan pertama ke Kuala Lumpur, saya membawa rombongan salah naik kendaraan umum. Waktu itu tujuannya ke Batu Cave, tapi malah nyasar ke tempat lain. Akhirnya saya jelaskan ini memang perjalanan pertama sekaligus survey trip. Untungnya mereka mengerti dan di akhir perjalanan, overall mereka puas dengan pelayanan Jelajah Backpacker.

Kamu kuliah cukup cepat, 3,5 tahun, plus merintis bisnis, bagaimana kiat kamu mengelola fokus dan waktu?
Waktu saya menjalankan skripsi, Jelajah Backpacker ada tujuan ke Kuala Lumpur, Medan, Aceh, dan Bangkok. Waktu itu saya harus bisa membagi waktu dengan baik.
Saat itu saya berkoordinasi dengan teman satu tim skripsi karena kami mengerjakannya dalam tim bahwa saya sudah ada schedule di beberapa tanggal sehingga ada pengaturan waktu yang baik dan pembagian job desk skripsi yang jelas. Saya punya pandangan, kalau kita menunda sesuatu, sama dengan kita menambah sesuatu. Jadi lebih baik kita mengerjakan di awal daripada keteteran di akhir.

Awalnya belajar dari mana serba-serbi tour and traveling?
Pengalaman melakukan trip tanpa orangtua ke Singapura, saat masih kelas satu SMA, membuat saya belajar mengatur jadwal liburan dengan biaya minim. Selain itu, pasti saya belajar dari berbagai media, mulai internet hingga buku perjalanan.

Bentuk dukungan orangtua?
Sangat mendukung, apalagi orangtua saya latar belakangnya juga berwirausaha. Mereka mendidik saya cara bisa mandiri secara finansial. Bentuk dukungan nyata mereka, membantu mempromosikan Jelajah Backpacker ke teman-teman dan koleganya.

Lewat apa saja Jelajah Backpacker dipromosikan?
Pada era teknologi ini, tentu kita manfaatkan media digital sebagai sarana promosi. Salah satunya lewat website di www.jelajahbackpacker.com. Selain itu, saya memanfaatkan media sosial mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, Line, kontak di Whatsapp, serta promosi lewat mulut ke mulut. Karena memang salah satu kesuksesan bisnis bukan hanya dari modal, melainkan juga dari networking.

Bagaimana kiat-kiat untuk jalan-jalan murah tapi tetap nyaman?
Pertama, tentukan destinasi wisatanya, lalu mulai mencari sarana transportasi untuk sampai ke sana. Agar murah, saya sarankan menggunakan penerbangan low cost untuk destinasi jauh. Tidak lupa, membeli tiket jauh-jauh hari, seperti 2 sampai 6 bulan sebelumnya, agar mendapat harga terbaik. Kedua untuk akomodasi, hotel tidak perlu berbintang, asal bersih dan nyaman. Karena tujuan kita pergi untuk menikmati tur, bukan untuk tidur di hotel.

Untuk konsumsi, bisa membawa bekal dari rumah berupa makanan yang awet seperti rendang. Nah, untuk transportasi, lebih baik gunakan transportasi umum seperti MRT atau trem, sedangkan untuk liburan di Indonesia, disarankan menyewa mobil. Terakhir, untuk tujuan wisata, lebih baik diatur sejak awal, daripada go show, karena bisa jadi ada beberapa tempat yang ternyata membutuhkan bujet yang tidak sesuai dengan bujet kita. (M-1)

Komentar