MI Muda

Sumpah Palapa para Generasi Milenial

Ahad, 7 May 2017 01:10 WIB Penulis: SURYANI WANDARI muda@mediaindonesia.com

Pentas Amukti Palapa, melibatkan 200 siswa SD hingga SMA Sekolah Pilar Indonesia. Dok SEKOLAH PILAR INDONESIA

DIMULAI dengan tarian Bambangan dan Cakil, pentas teater Pilar Seni Nusantara 2017 itu dibuka. Tarian yang dibawakan siswa Sekolah Insan Prima, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, itu menceritakan Mbrasta Angkaramurka atau memberantas sifat-sifat buruk manusia. Lakon pada Jumat (28/4) malam itu berjudul Amukti Palapa, mengajarkan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Sementara itu, pentas lakonnya disajikan besarbesaran, melibatkan 200 siswa SD hingga SMA Sekolah Pilar Indonesia, Cibubur, Bogor, Jawa Barat, dalam bentuk drama, pertunjukan musik lagu atau nyinden serta tari, mengajak siswa dan penonton memberikan apresiasi terhadap kebangsaan.

Adegan pertama dimulai proses pelantikan Gadjah Mada sebagai patih atau jabatan setingkat perdana menteri oleh Ratu Tribuana Tungga Dewi. “Saat pelantikan, patih diberikan tugas melaksanakan sumpah Amukti Palapa,” kata Isabel N Wendelboe, siswa kelas 8, pemeran Ratu Tribuana Tungga Dewi. Sumpah Amukti Palapa berkisah sumpah untuk tidak memakan buah palapa yang merupakan lambang kenikmatan dunia, sampai Nusantara bersatu di bawah Kerajaan Majapahit. Pada masanya, sumpah itu merupakan simbol keteguhan perwira dalam mempersatukan Nusantara demi terwujudnya negara modern, kuat, dan tangguh.

Namun, sumpah ini diragukan salah seorang anggota kerajaan, Ra Kembar. Akhirnya terjadi pertengkaran dan perpecahan di antara mereka, serta beberapa tempat di Nusantara. Favian Abid Resuara, siswa kelas 11, yang saat itu berperan menjadi Patih Gadjah Mada, mengaku mendapatkan tantangan dalam menjalankan perannya. “Akting dalam drama sebuah kerajaan menjadi tantangan sendiri karena gerakan tubuhnya harus tegak dan terlihat bijaksana seperti tokoh pewayangan,” kata Favian.

Ia pun harus menyesuaikan dan hafal gerakan tarian karena terdapat adegan proses pemersatu Nusantara dalam bentuk tarian daerah sesuai yang ia datangi, seperti Bali, Minang, Maluku, dan Sunda. Upaya tersebut berakhir dengan bersatunya daerah-daerah tersebut di bawah Majapahit. Setiap penampilan dan pengiring musik pun dilakukan siswa. Ya, semua siswa terlibat langsung dan mengambil peranan besar dalam persiapan maupun pelaksanaannya. Mereka belajar tentang kerja sama, toleransi, dan menghargai budaya bangsa.

Pembelajaran disiplin
Pemeran Ra Kembar, Moshe Zen Z Atjis, siswa kelas 10 mengaku, ia sebelumnya telah belajar dan membaca buku sebagai referensinya memainkan tokoh tersebut. “Sebelumnya, belajar dari buku sejarah dan berbagai pentas teater juga karena cerita ini memang berasal dari zaman dahulu,” kata Mosho. Dari cerita yang dibaca, serta pengalaman di panggung, Mosho mengaku tersentuh. Ia ingin Indonesia bersatu layaknya semboyan dan nilai kebinekaan, berbedabeda tapi tetap satu jua. “Ibu pertiwi saat ini sedang menghadapi berbagai masalah, penampilan ini dilaksanakan untuk mendidik siswa-siswi agar memiliki karakter yang baik, berdaya saing,” kata Pembina Sekolah Pilar Indonesia Iwan Kresna Setiadi.

Pergelaran ini menjadi pengalaman baru bagi sebagian siswa. Sebagian besar dari mereka baru kali ini berlatih menari, menyinden, dan bermain alat musik dalam pergelaran besar. “Dalam kesehariannya, mereka sudah terbiasa dengan seni karena di sini jadi pelajaran wajib. Ini juga merupakan implementasi pendekatan disiplin dan transformatif. Kami belajar beberapa mata pelajaran, seperti sejarah, seni, dan budaya, pendidikan kewarganegaraan (PKn), agama dan character building,” kata Iwan. Jadi, mari jadi generasi milenial yang mandiri, berbudi pekerti, dan mencintai seni! (M-1)

Komentar