Jendela Buku

Ragam Kata Dalam Kesendirian

Sabtu, 6 May 2017 07:15 WIB Penulis: Wnd/M-2

Ist

KATA-KATA sederhana dengan penggalan yang tidak biasa menjadikan ketertarikan tersendiri pada buku puisi karya M Aan Mansyur, Sebelum Sendiri. Kesendirian menjadi satu rasa yang saya dapati seusai membaca keseluruhan puisi yang tertuang dalam tiga bab besar. Bukan hanya persoalan cinta, melainkan juga saya melihat persoalan-persoalan lain sebagai manusia yang sedang mempertahankan prinsipnya. “Perihal paling indah dari langit dan langit-langit. tidak pernah menjawab ketika kau bertanya. mereka menginginkan kau meragukan keyakinan selamanya.”

Sebagai pembaca, saya melihat penggalan bait tersebut menjadi gambaran nyata ketika kita sedang sendiri, mempertanyakan beberapa hal, dan tak jarang kerap disandingkan dengan keadaan sembari melihat langit ataupun langit-langit kamar. Isi kepala penuh akan pertanyaan yang tidak juga keluar dari mulut, tapi terus berulang di dalam dan tak juga melepaskan pandangan dari langit dan langit-langit. Namun, keduanya tak akan pernah menjawab. Keraguanmu pun akan terus bersemayam.

Namun, pada akhir bait, Aan meng­analogikan kekasih dan puisi ialah hal yang sama, tempat kata dan makna saling menghindari. Seperti tujuannya, agar tetap bisa saling mencintai dan memberi rasa aman bersamaan. Sentuhan melankolis menjadikan kumpulan puisi dalam buku ini membuat senyum-senyum sendiri, tapi tidak membuat jenuh untuk dibaca. Romantisme kadang kerap membuat orang nyinyir akibat bahasa yang terlalu menye-menye. Namun, buku Aan Mansyur ini menggelitik untuk terus dipahami.

Di bagian akhir, Aan memberikan empat sajak interpretasi dari lagu-lagu dari grup band folk asal Makassar. Salah satunya berjudul Lengkara, yang mengisahkan kondisi sosial para petani di desa yang kini sudah putus harapan karena bertarung dengan perut rakus orang kota. Petak-petak sawah terjual, pun dengan anak-anak muda yang bersemangat bersekolah, tapi kemudian bekerja pada perusahaan milik tuan dari luar negeri.

M Aan Mansyur ialah pujangga di balik Ada Apa dengan Cinta 2. Buku puisinya Hujan Rintih-Rintih (2005), Aku hendak Pindah Rumah (2008), Cinta yang Marah (2009), dan Melihat Api Bekerja (2015), Tidak Ada Newyork Hari Ini (2016), dan Sebelum Sendiri (2017). (Wnd/M-2)

Komentar