Jendela Buku

Interaksi Sederhana nan Bahagia

Sabtu, 6 May 2017 07:00 WIB Penulis: Siti Retno Wulandari wulan@mediaindonesia.com

Ist

BERKOMUNIKASI sejak dini dengan bayi menjadi satu kebiasaan yang justru mendatangkan banyak pelajaran bagi ibu. Retno Hening Palupi membagikan kisah hariannya sejak mulai mengandung hingga kini sang anak yang bernama Mayesa Hafsah Kirana berusia hampir 3 tahun. Dalam salah satu bahasannya, ketika dirinya panik dan stres lantaran memasuki fase berbeda saat memiliki bayi yang terus-menerus menangis, Retno teringat perkataan ibunya, “Sabar, Mbak. Kirana kan baru di dunia ini, kita yang harus mengerti dia. Mungkin dia masih harus beradaptasi dengan sekitar. Udara, kegaduhan, suhu, dan waktu tidur. Kita yang harus sabar,” ujar sang ibu yang hingga kini masih terus di­ingat Retno.

Ungkapan itu layaknya sebuah kekuat­an yang membuat Retno mampu memahami setiap tangisan putri kecilnya. Ia tak pernah menganggap tangisan sebagai gangguan, tetapi justru ajakan untuk berkomunikasi. Karena itu, setiap tangisan akan dibalas Retno dengan ungkapan-ungkapan lembut yang dapat menenangkan sang bayi.
Ia ingat betul, ketika sempat mendaftar sebagai tenaga pengajar di lembaga pendidikan anak usia dini yang terpenting bukanlah sabar, melainkan menjadi contoh baik bagi anak-anak.

Perjalanannya bersama Kirana tidaklah mulus. Apa­lagi, ketika mengandung hingga melahirkan, Retno hidup berjauhan dengan sang suami yang sedang bertugas di Muscat, Oman. Belum lagi cibiran banyak orang yang mengatakan Kirana sudah bau ta­ngan sehingga ketika dilepas dari gendongan sang ibu, ia akan menangis dan tidak berhenti.
Wah, rasanya tantangan tak pernah ada habisnya bagi new mom and new born baby, begitu pekiknya dalam hati. Meskipun begitu, Retno tetap yakin semua yang berbicara dan menasihatinya karena rasa sayangnya kepada sang putri dengan cara penyampaian yang berbeda. Ia pun tetap pada prinsipnya, setiap ibu memiliki pilihan masing-masing dengan keadaan yang berbeda-beda.

Saling jatuh cinta
Hampir semua ibu pasti akan mengatakan sudah merasa jatuh cinta, bahkan sebelum melihat wujud sang anak. Pun dengan Retno yang selalu melecut dirinya agar terus jatuh cinta sampai kapan pun pada Kirana. Ia pun yakin sang putri akan melakukan hal yang sama karena pelajaran paling mudah yang diterima anak-anak ialah dari memperhatikan perilaku serta ucapan orangtuanya.

Saat masih bayi, ibu dapat dengan mudah tersenyum dan merasa bahagia melihat wajah mungil juga kelakuan yang dibuat anaknya. Namun, bagaimana ketika sudah besar? Mereka sudah mampu menolak tidur siang, menolak makan, memaksa meminta sesuatu, mencoret-coret din­ding, hingga tidak mendengarkan nasihat? Retno berbagi kunci, ia mengaku akan tetap jatuh cinta dengan Kirana, dengan mencoba saling mengerti dan memahami. Untuk mewujudkan apa yang diinginkan, Retno pun selalu mendengarkan, memberikan apresiasi, juga melibatkan anak dalam berbagai kegiatan agar ia merasa dirinya penting. Saat bermain bersama, Retno berusaha untuk selalu fokus dan memunculkan ekspresi bersemangat, seperti ketika Kirana menunjukkan hasil gambarnya.

Baginya, permainan yang disenangi anak-anak, itu sangat sederhana dan diulang-ulang. Pun begitu dengan lelucon yang diulang-ulang bisa membuatnya tertawa terbahak-bahak. Ketika mendapati tawa yang begitu tulus, Retno merasakan dirinya sangat dihargai.

Kesederhanaan
“Kenapa ibu bersedih?,” tukas Kirana dengan tatapan matanya yang teduh sembari menurunkan letak bibirnya. Sang ibu, Retno Hening Palupi, menjawab dirinya tidak bersedih justru putrinyalah yang terlihat bersedih. Percakapan keduanya dapat disaksikan pada media sosial milik sang ibu, Retno Hening dengan beragam aktivitas sederhana lainnya.
Kisah sederhana mereka inilah yang kemudian melahirkan buku berjudul Happy Little Soul, bercerita tentang proses saling belajar antara ibu dan anak sejak masih dalam kandungan.

Bahasa sederhana yang tertuang dalam buku ini membuat pembaca seolah-olah seperti sedang mendengarkan langsung cerita Retno dan menonton percakapan di antara keduanya. Ucapan-ucapan sederhana yang datang dari Kirana, seperti sorry, thank you, dan please, menimbulkan lengkungan senyum dengan mata berbinar-binar bagi pembaca dan penikmat akun Instagram sang ibu.

Banyak perempuan yang menjadikan Retno sebagai role model, memiliki keingin­an untuk bisa bersabar dan menghasilkan anak yang cerdas, penuh perhatian, dan empati yang tinggi. Beberapa coretan Kirana juga menjadikan buku ini sangat asyik dan tidak bosan untuk dibaca. Meskipun banyak orang yang memuji cara Retno mendidik dan memuji kepintaran Kirana, Retno tetap menceritakan dengan detail bagaimana ketidaksempurnaan juga hadir dalam ke­sehariannya, seperti ketika ia merasakan patah hati saat rasa sabarnya hilang dan mendadak kesal dengan sang putri.

Pun saat dirinya merasa sangat sedih, saat mendapati eksem di tangan Kirana yang tak juga berhenti. Hingga ia teringat dan mengatakan kepada Kirana apa yang terdapat pada tangannya ini tidak apa-apa karena semua orang itu spesial dengan keadaannya masing-masing. Berusaha memaafkan diri sendiri ketika merasa salah saat memberikan sesuatu kepada anak, menjadi cara terbaik untuk melanjutkan pelajaran ke jenjang berikutnya. (M-2)

Komentar