Teknopolis

Gaya Baru Teknologi Informasi

Sabtu, 6 May 2017 06:15 WIB Penulis: Thalatie K Yani

Thinkstock

MATA Randhy Tyadika, 29, terpaku di layar ponselnya. Ia sibuk memilih-milih video-video pendek yang ingin dilihatnya, sambil menanti kedatangan kereta commuter line. "Kalau saya karena kalau ke tempat kantor naik kereta, biasanya di waktu menunggu kereta datang nyambi nonton video-video pendek yang banyak info bagusnya di Facebook," ujar karyawan swasta itu. Bukan video sembarangan.

Video yang banyak beredar ialah video berdurasi kurang dari 5 menit tetapi padat dengan infografis, foto, dan suara latar yang membangun suuasana. Video itu merupakan multimedia infografis. Sejumlah kanal menggunakan multimedia infografis menjadi sarana informasi, seperti AJ+ atau Opini.id. Perkembangan itu pun tidak lepas dari media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter.

"Multimedia interaktif memang dipilih untuk memuaskan masyarakat yang butuh informasi tapi punya waktu tidak banyak," jelas salah satu jurnalis Opini.id, Clara Prima, saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (27/4). Awalnya Opini.id merupakan kanal berita. Sejak 2016 mereka lebih menonjolkan multimedia interaktif sebagai sarana informasinya. Perubahan itu, kata Clara, mengikuti perkembangan zaman di saat videografi lebih banyak menarik minat masyarakat.

Perkembangan itu membuat bermunculan kanal multimedia interaktif lainnya. Salah satunya Jejak Indra. Ramdani, pendiri Jejak Indra, mengaku dalam multimedia infografis seperti Jejak Indra ditekankan bagaimana menyajikan informasi secara singkat tapi padat. "Sebenarnya tidak ada pakem harus berapa menit, lebih singkat lebih baik asal informasi tetap efektif. Hal terpenting sih kita buat agar penonton tidak bosan," jelas Ramdani yang juga jurnalis foto Media Indonesia.

Ramdani memilih multimedia karena ada beberapa hal yang tidak bisa dijelaskan melalui foto sehingga dapat dijelaskan melalui video dan audio. Contohnya, acara musik yang butuh suara riuh penonton dan video aksi panggung dari sang artis. Selanjutnya barulah menyelipkan infografis untuk memberikan informasi tambahan kepada penonton.

Sayangnya, portal berita belakangan tidak lagi menampilkan berapa banyak viewer dalam satu berita sehingga sulit untuk membandingkan berapa banyak pengunjung satu berita yang sama antara portal berita dan kanal multimedia interaktif.

Mirip karya jurnalistik
Menurut Clara, yang juga merupakan juara 1 nominasi Multimedia Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI) 2017 melalui video Arti Sebuah Nasi Bungkus, sebenarnya pengerjaan multimedia interaktif ini mirip dengan karya jurnalistik. Mulai pengambilan gambar, penyuntingan, hingga reportase di lapangan dilakukan layaknya jurnalis. Untuk menanggapi hal ini, APFI, sebuah penghargaan untuk jurnalis foto di Indonesia, menambah satu nominiasi baru tahun ini, yaitu nominasi multimedia.

Tuntutan baru bahwa pewarta foto selain bisa memotret juga harus bisa melakukan videografi dan reportase di lapangan. Ramdani, yang juga merupakan pemenang ketiga Nominasi Multimedia APFI 2017 melalui video Sebelum Kampung Tergusur, menjelaskan salah satu kendala mengerjakan multimedia interaktif ada pada proses penyuntingan.
"Ibaratnya gue sudah reportase dan ambil gambar seharian, waktu diedit ini bagaimana caranya agar hasil reportase selama seharian itu bisa diringkas hanya dalam waktu kurang dari 5 menit tapi tetap penuh informasinya," jelas Ramdani.

Komunikasi visual

Dalam multimedia interaktif sebenarnya sudah terjadi proses komunikasi visual. Menurut dosen Komunikasi Visual Universitas Padjadjaran, Sandi Jaya Saputra, multimedia interaktif melengkapi lebih banyak kebutuhan indra manusia jika dibandingkan dengan media-media konvensional. Indra pendengaran dan penglihatan bisa dipuaskan dalam multimedia interaktif.

"Semakin banyak indra dipuaskan, proses komunikasi sendiri akan lebih efektif, apalagi kalau pesannya tepat dan efisien. Hal inilah kenapa multimedia dewasa ini lebih disukai anak muda," jelas Sandi. Selain itu, menurut Sandi, keunggulan multimedia interaktif di kalangan anak muda disebabkan pendekatan yang mereka lakukan melalui media sosial, hal yang sulit dilepaskan dari generasi milenial sekarang ini.

Walaupun multimedia interaktif semakin berkembang, Sandi menjelaskan hal ini belum menandakan matinya era media cetak atau media konvensional lainya.
Menurut alumnus Unpad tersebut, media konvensional tetap memiliki keunggulan masing-masing. "Sebagai contoh, desainer pasti lebih memilih beli majalah untuk menambah referensinya, jadi media konvensional tetap punya peluang di era digital ini," tutup Sandi. (*/M-1)

Komentar