Eksplorasi

Madu dan Racun dari Komodo

Sabtu, 6 May 2017 02:45 WIB Penulis: Zico Rizki

AP Photo/Dita Alangkara

JEJAK spesiesnya yang sangat tua, bukan satu-satunya penyebab ketenaran komodo (Varanus komodoensis). Satwa purba ini juga dikenal memiliki keunggulan indra maupun alat serangan yang berbahaya. Gigitan komodo kerap disebut termasuk serangan hewan yang paling berbahaya. Insiden gigitan satwa yang secara alami hanya ditemui di Indonesia ini kerap menjadi pemberitaan. Ini pula yang terjadi pada Rabu (3/5) di Desa Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Seorang wisatawan asing bernama Loh Lee Aik, 68, menderita luka gigitan yang cukup besar.

Gigitan komodo berbahaya ialah racun yang berasal dari gigitannya. Pada 2009, sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Zoo and Wildlife Medicine, peneliti dari University of Queensland, Bryan Fry, memperlihatkan efek gigitan komodo berdasarkan pemindaian medis di bagian tengkorak. Sebelum penelitian itu ,definisi racun yang dimiliki komodo merupakan kumpulan bakteri yang terhimpun di dalam mulut reptil tersebut. Para peneliti mengatakan jumlah bakteri yang terdapat di dalam mulut komodo mencapai hingga 58 jenis dan 93% diantaranya tergolong berpotensi patogen.

Diketahui juga, bertambah banyaknya jenis bakteri di mulut komodo seiring dengan waktu penggigitan korban. Namun, pascapemindaian dalam penelitian, Fry mengatakan reptil tersebut memiliki dua kelenjar racun di bagian rahang bawah, yaitu di bawah sela-sela gigi. Racun komodo terdiri dari beberapa jenis protein beracun dan dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, menyebabkan pendarahan hebat, mencegah pembekuan darah, dan menginduksi syok bagi korbannya.

Dengan begitu disimpulkan bahwa kumpulan bakteri yang terhimpun di dalam mulut komodo bukan satu-satunya aktor utama yang dapat melumpuhkan target serangannya.
Racun yang dikeluarkan dari mulut komodo diketahui cepat bereaksi pada korban. Selain itu, rata-rata gigitan komodo dilakukan dengan tenaga yang kuat hingga menghasilkan luka robek yang besar. Gigitan kuat menyebabkan racun mudah untuk masuk dan memberikan efek kepada korban.

Namun, Fry menekankan, yang berperan dalam melumpuhkan target tetap bukan racun, melainkan besaran lukanya. "Racun memang membantu, namun kuncinya terletak pada luka robekan dari gigitan," jelas Fry. Kombinasi serangan gigitan dan racun tersebut menandakan komodo merupakan predator yang penuh dengan strategi dalam memangsa targetnya.

Manfaat darah komodo
Dampak racun dan gigitan komodo mengundang keinginan para peneliti untuk mengetahui lebih lanjut tentang komodo. Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Journal of Proteome, pada Februari lalu memaparkan bahwa kandungan darah komodo dapat berguna bagi manusia dalam meningkatkan kekebalan terhadap serangan virus dan infeksi.
Barney Bishop, biolog dari George Mason University sekaligus ketua tim peneliti studi, mengatakan di dalam darah komodo terdapat banyak sekali kandungan peptida antimikroba.

Peptida merupakan jaringan protein yang menjadi sumber kekebalan tubuh. Bishop dan tim menemukan ada empat peptida dalam darah komodo yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan diuji coba pada manusia. Namun, saat ini penelitian tersebut hanya berhasil membuktikan sekitar 40% dari 100 sampel yang masuk ke uji lab lebih lanjut.
Sebanyak 40% sampel tersebut dikatakan berpotensi menjadi penangkal antibiofilm, yaitu saat bakteri berkumpul yang berdampak pada resistannya tubuh terhadap antibiotik.

Ia mengatakan darah komodo bisa merusak proses biofilm. Artinya, segala jenis antibiotik akan bisa beroperasi normal dan menyerang bakteri sumber penyakit. Ia mengatakan dalam waktu dekat obat atau sejenisnya dapat dibuat berdasarkan sistem kerja darah komodo. (Science Daily/Antara/L-1/M-3)

Komentar