Inspirasi

Terinspirasi Perempuan Pejuang

Kamis, 4 May 2017 09:49 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/Arya Manggala

DALAM menjalani hidup, Ninin Damayanti merasa terinspirasi oleh sosok-sosok perempuan yang selalu berjuang dalam menjalani hidup dan menyuarakan pendapatnya. Sosok perempuan yang menjadi inspirasinya tidak terbatas pada sosok perempuan yang terkenal, bahkan sosok ibu-ibu pedagang warteg pun bisa menginspirasinya.

"Siapa pun perempuan yang berani menyuarakan pendapatnya pasti saya jadi fan berat. Misalnya ibu Susi Pudjiastuti, ibu Sri Mulyani sebagai seorang perempuan bukan menteri," jelasnya.

Bahkan jika bertemu ibu penjual warteg yang memiliki cerita menarik bagaimana bisa bertahan, ia juga bisa ngefans. "Jadi siapa pun perempuan yang saya temui dan tahu ceritanya, perempuan yang berani menjalani hidup dan bertahan, menurut saya itu orang yang layak diapresiasi," jelas Ninin.

Ninin tidak memungkiri peran begitu besar dari ibunya. Ibunya sangat membantu Ninin dari masa pemulihan mental sampai urusan hukum. Apalagi, ibunya sangat membantu karena kebetulan pengacara.

"Tidak ada judgement dan itu yang membuat saya percaya diri mengambil keputusan. Support itu masih saya rasakan sampai sekarang, mulai teman-teman, dari lingkungan pekerjaan, dan itu sebenarnya yang paling penting kalau ingin membantu orang yang pernah mengalami KDRT," papar ibu yang menyukai musik metal tersebut.

Selain hal tersebut, proses lain yang tidak kalah pentingnya bagi korban agar dapat menjadi survivor ialah dukungan keluarga terdekat. Pasalnya, jika tidak ada dukungan keluarga, survivor akan dapat kembali lagi menjadi korban.

Ninin pun aktif menjadi sukarelawan yang memberikan pemahaman dan berbagi pengetahuan mengenai perkembangan dunia media sosial kepada sejumlah buruh yang tergabung dalam sebuah sekretariat.

"Jadi buruh jumlahnya juga banyak di Indonesia, tetapi semuanya tidak melek dengan kondisi terkini yang terjadi di media sosial. Saya mengajar sebagai sukarelawan saja di sebuah konfederasi buruh. Kelompoknya kecil. Isinya cuma sekitar 15 orang di salah satu sekretariat saja," paparnya.

Tanggapan mereka antusias. Mereka akhirnya sadar dunia media sosial itu tidak sesempit apa yang mereka bayangkan. "Jadi media sosial itu bukan hanya untuk update status, karena sekarang juga dipakai untuk media politik," papar Ninin. (Riz/M-2)

Komentar