Inspirasi

Ninin Damayanti, Penyintas yang Kampanyekan Antifitnah

Kamis, 4 May 2017 09:24 WIB Penulis: Rizky Noor Alam

MI/Arya Manggala

PENGANTAR

Perempuan perkasa tidak mesti diukur lewat karier, tetapi justru mereka yang sehari-hari berjuang menjadi kepala keluarga dan tulang punggung pendapatan. Tidak jarang pula mereka mampu menjawab kondisi penuh beban itu hingga melahirkan kemajuan lingkungan. Dalam memperingati HUT ke-47 Media Indonesia, apresiasi untuk para perempuan perkasa kami hadirkan lewat ke-47 sosok di antara mereka. Berikut sosok ke-15.

--------------------------------

PAGI itu Media Indonesia berkunjung ke sebuah gedung perkantoran di kawasan Slipi, Jakarta Barat. Kunjungan tersebut untuk bertemu dengan Ninin Damayanti. Meskipun pada saat itu dirinya tengah sibuk bekerja, namun masih sempat menyempatkan dirinya untuk berbagi pengalamannya kepada Media Indonesia (27/4).

Ninin Damayanti merupakan seorang ibu tunggal yang berhasil menjadi penyintas (survivor) dan sekarang juga aktif dalam mengampanyekan berbagai informasi anti-hoax (fitnah). Bangkit dari keterpurukan perceraiannya sehingga dapat menginspirasi banyak perempuan yang juga mengalami hal sama bukanlah hal yang mudah bagi Ninin. Dirinya mengaku membutuhkan waktu lama untuk dapat menormalkan kembali kondisi mentalnya saat itu.

"Dulu itu setahun setelah saya bercerai, proses bangkit itu lama dan mengalami jatuh bangun juga. Saya masih merasakan trauma," ungkap Ninin kepada Media Indonesia (27/4).

Namun, kondisinya tersebut semakin berubah, karena terinspirasi Helga Worotitdjan yang membagikan masalah-masalah dirinya di Facebook maupun Twitter. Dari membaca cerita-cerita itu, Ninin merasa tidak lagi sendirian. Ketika membaca buku tersebut, ternyata banyak orang-orang yang mengalami kisah yang sama.

"Akhirnya saya juga punya sahabat dan dia memotivasi saya untuk berani mengajak teman-teman yang lain untuk membuat kelompok pendukung (support group) untuk para perempuan yang mengalami nasib serupa," imbuhnya.

Sekitar 2014, saran dari sahabatnya tersebut pun terealisasi. Ninin membuat sebuah grup di Facebook yang diberi nama Break The Silence Indonesia. Akhirnya dibuat di grup Facebook yang awalnya hanya iseng-iseng.

"Teman-teman yang punya kisah hidup sama seperti Ninin, entah itu korban kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, atau apa pun yang butuh support, silakan gabung dan ternyata banyak yang mau ikut," jelas perempuan yang bercerai sejak 2013 tersebut.

Sejak awal berdiri, grup tersebut pun sempat melakukan pertemuan sebanyak 2 sampai 3 kali. Dalam pertemuan tersebut, para anggotanya saling berbagi pengalaman hidup, bahkan sempat diminta untuk menarikan tarian yang menceritakan tentang kekerasan dalam rumah tangga, berdasarkan pengalaman anggota masing-masing. Namun, seiring berjalannya waktu, grup itu sendiri sudah tidak terlalu aktif, paling sekarang hanya 1 atau 2 kali posting soal cerita-cerita tentang kekerasan.

"Kami lebih banyak menjalin pertemanan di luar, misalnya saling curhat mengenai masalahnya, entah itu face to face, ngopi bareng, atau Whatsapp," imbuh ibu satu anak tersebut.

Anggota grup tersebut sebanyak 70 orang, anggotanya tersebar tidak hanya di Indonesia, bahkan hingga ke warga Indonesia yang tinggal di luar negeri. Proses pemberdayaan penyintas yang terbaik ialah menjadi teman penyintas itu sendiri sehingga nama label organisasi atau kelompok itu tidak terlalu penting.

Pendekatannya itu lebih kepada bagaimana ketika seorang teman membutuhkan bantuan dan dia bercerita untuk meminta solusi. Sebagai orang yang pernah mengalami, Ninin hanya ceritakan apa yang pernah dia alami, karena posisi seorang penyintas itu seharusnya tidak boleh menghakimi penyintas yang lain. Dari cerita-cerita Ninin tersebut mereka biasanya akan dapat insight (mengambil hikmah).

"Jadi mereka akan menyimpulkan sendiri langkah apa yang harus diambil, karena pengalaman seseorang kan berbeda-beda," paparnya.

Tidak instan
Proses pemulihan itu memang tidak instan. Proses pemulihan itu bertahap dan lama. Proses meditasi membantu dirinya mengenali diri, menerima apa sebenarnya masalahnya, agar tidak mengingkarinya.

"Ketika saya meditasi, saya diajarkan bahwa kondisi saya adalah dalam proses perceraian dan tidak mau kembali lagi dan apa realita yang harus dihadapi, maka harus hadapi itu. Proses meditasi itu benar-benar membantu saya untuk lebih tenang dan bisa menerima keadaan," jelas Ninin.

Pemulihan dirinya tidak hanya sampai pada meditasi, namun dirinya membutuhkan waktu lebih dari satu tahun lagi untuk dapat benar-benar berjuang dalam lingkungan sosial terutama untuk menjelaskan ke keluarganya. Selain hal-hal tersebut, Ninin memaparkan bahwa salah satu terapi yang ampuh bagi dirinya ialah dengan menulis. Ia menuangkan segala masalah tersebut dalam sebuah blog pribadinya.

"Menulis itu terapi yang benar-benar ampuh untuk saya ketika saya punya masalah. Jika sedang memikirkan sesuatu, saya menulis. Termasuk waktu saya berani speak up dan mengakui bahwa saya adalah korban KDRT," paparnya.

Ia butuh waktu sekitar dua minggu untuk menulis, yang biasanya cuma beberapa jam. Dengan proses yang berat, bahkan sampai nangis dan traumanya balik lagi. Ia sempat berpikir, kalau postingan tulisan ini apa kata orang nanti? Pertama kali menulis, Ninin menulis Perempuan Perobek Malam. Respons dari teman-teman terdekat itu luar biasa dan tidak ia sangka.

"Mereka support banget dan akhirnya saya berani." Dalam melewati masa-masa sulit tersebut, dirinya sangat bersyukur karena didukung oleh orang tua apapun keputusan yang diambilnya. Bahkan dukungan tersebut pun tidak hanya terbatas dari orangtuanya, namun juga temanteman dan lingkungan pekerjaaannya.

Masyarakat anti-hoax
Selain aktif dalam kegiatan pemulihan para kaum perempuan yang memiliki kesamaan nasib dengan dirinya, Ninin pun juga aktif sebagai salah satu orang yang mengampanyekan gerakan anti-hoax melalui sebuah kelompok yaitu Masyarakat Anti Hoax Indonesia (Mafindo).

"Ini merupakan orang-orang yang concern dengan maraknya peredaran hoax di media sosial. Hoax-nya itu macam-macam mulai dari hoax politik, hoax agama, hoax kesehatan dll. Kita merupakan orang-orang yang concern sekali bagaimana caranya pengguna media sosial ini kritis terhadap informasi yang diterima," papar Ninin.

Gerakan yang dilakukannya sejak November tahun lalu tersebut, dalam perjalanannya ternyata tidak mudah. Menurutnya sulit untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kebenaran sebuah informasi yang beredar, terutama jika informasi hoax tersebut berkaitan dengan unsur keagamaan.

"Ini susah, apalagi hoax yang sifatnya berkaitan dengan agama. Maksudnya kita paham bahwa apa yang diyakini ialah berasal dari kitab suci dan tidak terbantahkan," jelasnya. Hanya saja ada irisan-irisan yang membuat ayat-ayat tersebut sering dipelintir. Untuk itu, Ia mengajarakan jangan hanya membaca dari satu sumber, mengajarkan mereka untuk mencari sumber resmi yang kredibel. "Kami ajarkan untuk men-screening website. Website itu harus jelas redaksinya, terdaftar di Dewan Pers, perusahaan resmi, bukan sekadar website yang terbuat dari blog dan semacamnya," lanjutnya. (M-2)

Komentar