Features

Konsep 5R Pengelolaan Sampah Ala Anak Jalanan

Selasa, 2 May 2017 21:45 WIB Penulis: Richaldo Y Hariandja

MI/ROMMY PUJIANTO

KONSEP reduce, reuse dan recycle (3R) dalam pengelolaan sampah menjadi pakem yang digemborkan pemerintah agar lingkungan menjadi bersih dan sampah dapat berguna kembali. Meskipun demikian, Yayasan Kumala, coba perkenalkan konsep baru dalam pengelolaan sampah dalam format 5R, 2R tambahan lainnya, reshare (berbagi kembali) dan resell (jual kembali).

Uniknya, yayasan yang berdiri sejak 2006 tersebut mengajak sejumlah anak jalanan untuk dijadikan agen lingkungan dalam penerapan 5R tersebut. "Beruntungnya, kami tidak pernah kehilangan pasar untuk setiap produk yang kami hasilkan," ucap pendiri Yayasan Kumala Dindin Komarudin, di Jakarta, Selasa (2/5).

Menurut dia, meskipun lokasi rumah singgah harus berpindah, para pembeli justru tetap berdatangan hingga terkadang mereka kewalahan jika harus meladeni kebutuhan pasar. Salah satu barang yang laris diminati ialah kertas daur ulang yang berasal dari kertas perkantoran.

Sambil menyelam minum air, menjadi peribahasa yang patut disematkan dalam kegiatan Yayasan Kumala. Tidak hanya berkontribusi untuk lingkungan, mereka juga membantu dalam upaya pemberdayaan anak jalanan.

"Sejak 2006, banyak agen lingkungan kami yang membuat gerakan serupa (bank sampah dan pengelolaan kertas daur ulang), dan menjadi penyuluh di daerah lain. Ada di Riau dan Papua juga," ucap dia.

Mengajak para anak jalanan bukan perkara mudah. Dindin menuturkan, mereka harus diajarkan secara perlahan substitusi pekerjaan. Meskipun hasilnya berorientasi pada penghasilan, para anak jalanan yang menjadi binaan harus tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar.

"Kami pakai sistem absen, kalau mereka tidak sekolah dan langsung ke sini (rumah singgah), tidak akan kami absen. Biasanya dalam sehari mereka dapat sekitar Rp45 ribu," terang Dindin.

Saat ini, Yayasan Kumala menggandeng 96 anak jalanan di sekitar Tanjung Priok, Jakarta Utara. Jumlah tersebut masih tergolong kecil. Pasalnya, di beberapa kawasan sebelumnya mereka bisa menggandeng 100-300 anak jalanan.

"Karena di sini permasalahannya ada pada rumah singgah kami yang hanya memiliki 1 kamar," tukasnya.

Community Development dan Relation Assistant Manager Pertamina Hulu Energi Offshore Northwest Java Agus Sudaryanto menyatakan, kerja sama dengan Yayasa Kumala menjadi pengenalan konsep Creating Share Value (CSV) yang setingkat lebih tinggi ketimbang Corporate Social Responsibility (CSR).

"Karena mereka masuk aktivitas bisnis kami," ucap Agus.

Menurut dia, semua sampah anorganik, seperti kertas dan kayu yang menjadi limbah kantor disalurkan semua ke Yayasan Kumala untuk dikelola menjadi barang yang lebih berguna. Semua hasil tersebut, dibeli kembali oleh Pertamina untuk kemudian dijadikan suvenir maupun dipakai untuk keperluan kantor. Dalam seminggu, 2 ton sampah kertas didistribusikan ke Yayasan Kumala.

"Jadi ini solusi bagi sampah anorganik kami, kalau sampah organik, kami berikan kepada pengelolaan khusus. Juga di kawasan Indramayu yang merupakan salah satu program kami, di sana kami ubah sampah organik jadi biogas dan kompos," tukas dia. (OL-4)

Komentar