Humaniora

Pendidikan Karakter Sebagai Ketahanan Nasional

Senin, 1 May 2017 19:14 WIB Penulis: Indriyani Astuti

ilustrasi--thinkstock

MASIFNYA kekerasan dalam pendidikan dan berkurangnya sikap intoleran dalam dalam menerima keberagaman, berkaitan erat dengan karakter. Melihat kondisi tersebut pemerintah tengah berupaya mendorong sekolah menanamkan pendidikan karakter.

Pendidikan karakter seperti yang diutarakan Ki Hajar Dewantara, adalah program pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter siswa melalui empat dimensi pengolahan hidup, olah rasa, olah pikir, olah hati dan olah raga.

Menurut Dewan Pengawas Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Doni Koesoema, pendidikan karakter harus menjadi roh atau poros dalam pengelolaan pendidikan nasional. Pemerintah, ujarnya, tengah mengarahkan basis pendidikan karakter sebagai ketahanan nasional bangsa.

"Ada lima penerapan nilai utama dalam pendidikan karakter religius, nasionalis, mandiri, gotong royong dan integritas. Kita mengarahkan sekolah untuk fokus memberi prioritas pada nilai-nilai itu, dalam setiap pembelajaran, pengembangan budaya sekolah maupun dengan masyarakat," ujarnya dalam diskusi menyambut Hari Pendidikan Nasional yang diselenggarakan FSGI di Aula Kantor WALHI, Jakarta, Senin (1/5).

Dijelaskannya, lima nilai tersebut merupakan preferensi dan pilihan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dengan melihat apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia ke depan. Dia mencontohkan nilai religius sangat penting diterapkan karena adanya persoalan mengenai agama yang belum dipahami secara baik, sehingga memunculkan persoalan.

"Adanya masalah religiusitas kenapa agama sepertinya belum dipahami dengan baik, sehingga banyak perkelahian, permusuhan pembakaran gereja, pembakaran masjid, dan lainnya, berarti ada masalah dengan religius. Itu sebabnya kita ingin membuat nilai di mana faktor religius benar-benar membantu seseorang untuk berkorelasi dengan Tuhan, sesama manusia dan alam semesta," terang Donie.

Pendidikan karakter tidak bisa hanya diterapkan dalam sekolah melalui kegiatan intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Donie menambahkan harus ada peran masyarakat seperti orangtua, lembaga pemerintahan serta komunitas.

Implementasi pendidikan karakter di sekolah tidak mudah. Pengurus Serikat Guru Indonesia (SEGI) Nusa Tenggara Barat Asrul Manan mengutarakan, dalam hal pendidikan karakter di sekolah, selama ini dianggap hanya tanggung jawabnya guru Bimbingan Konseling (BK) ataupun guru agama. Padahal pendidikan karakter semestinya melibatkan kongnitif, perasaan dan aksi dari siswa.

"Harus ada aktor lain yang terlibat, pendidikan karakter harus dikawal oleh banyak pihak baik di dalam dan di luar sekolah," imbuh dia.

Senada, Pengurus SEGI Jakarta Hari Prasetyo mengutarakan perlu ada sinergi antara pihak sekolah dengan orang tua dalam penerapan pendidikan karakter. Terutama di sekolah, para guru sebagai role model bagi peserta didik membutuhkan pelatihan dan penguatan.

Berhasil atau tidaknya pembentukan karakter siswa tidak lepas dari peran guru sebagai role model. Terlebih belakangan muncul persoalan radikalisme dan kekerasan di kalangan pelajar. Menurut Anggota Dewan Pendidikan Itje Chodidjah, dibutuhkan guru yang punya motivasi untuk berkembang dan belajar. Sehingga perubahan tersebut dapat disikapi sebagai masalah. (OL-4)

Komentar