Features

Tidak Dijumpai, Genangan Air Bekas Proses Produksi

Ahad, 30 April 2017 14:57 WIB Penulis: Abdus Syukur

Pabrik PT SG Gresik Tuban bak berada di tengah kawasan hutan. MI/ABDUS SYUKUR

SUASANA rindang dan teduh mendatangkan ketenangan karena banyaknya pepohonan yang berada di sepanjang jalan maupun sudut-sudut tertentu. Semakin terasa sejuk, meski di tengah terik panas matahari, dengan adanya kolam penampungan air, yakni bossem berukuran lumayan luas saat memasuki areal pabrik.

Bahkan saat berkeliling dan melewati jalanan dalam komplek pabrik itu, tak nampak dijumpai genangan-genangan air. Termasuk genangan air yang biasanya di titik-titik tertentu yang beredekatan dengan berbagai peralatan untuk proses produksi.

Itulah gambaran ketika Media Indonesia memasuki areal pabrik PT Semen Gresik (SG) Tuban yang berdiri di atas lahan sekitar 200 hektare (ha). Kering kiles dan teduh, serta tidak mendatangkan kegerahan.

“Kami memang menerapkan proses produksi kering di seluruh pabrik. Karenanya tidak akan ada air bekas pakai yang terbuang dan tercecer hingga jadi genangan,” kata Kepala Departemen Komunikasi dan Sarana Umum PT SG Tuban Aris Sunarso, Jumat (21/4).

Menurut Aris, meski menerapkan proses produksi kering, air tetap dipakai dalam proses produksi. Namun untuk pemakaian dalam proses produksi, air diolah lebih dulu, agar mesin tidak berkerak dan mudah rusak. Selain itu, air juga tetap digunakan untuk kebutuhan sanitasi dari seluruh personal yang ada dalam pabrik.

“Setiap harinya ada sekitar 2.000 orang yang terlibat dalam kegiatan produksi di pabrik kami ini. Makanya air tetap dibutuhkan untuk pemenuhan kebutuhan sanitasi di lingkungan pabrik. Tapi itu semua diolah kembali, dibawa ke bossem dan bisa digunakan lagi,” imbuh Aris.

Kepala Seksi Pemantau Lingkungan PT SG Tuban Yuli Yastoro menyampaikan bahwa limbah air di PT SG Tuban adalah limbah domestik untuk kebutuhan sanitasi.

Sedangkan proses produksi yang diterapkan adalah proses produksi kering, sehingga tidak ditemukan adanya air bekas pakai yang terbuang ke badan air. Karena seluruhnya dimanfaatkan ulang untuk proses pendinginan melalui mekanisme sirkulasi tertutup.

Selain itu, untuk pemenuhan kebutuhan sanitasi di lingkungan pabrik, air yang digunakan adalah sumber air permukaan. Di mana dalam proses pemanfaatan, pabrik memiliki bossem untuk menampung seluruh air yang diolah agar bisa dimanfaatkan lagi.

“Agar air bisa dimanfaatkan kembali, kualitasnya tetap dipantau dan secara rutin dilakukan pengukuran kualitas itu. Kami memiliki parameter yang jelas untuk mengetahui kualitas air,” ujar Yuli.

Sejumlah parameter yang digunakan PT SG Tuban untuk mengukur kualitas air limbah domestik, di antaranya adalah BOD (biological oxigen deman) dan COD (chemical oxigen demand. Selain itu juga ada TSS (total suspend sold) dan kandungan minyak lemak (ML) serta PH atau kadar keasaman air.

“Dari hasil pengukuran kualitas air yang dilakukan, semuanya di atas dari baku mutu yang ditetapkan. Seperti BOD, baku mutu yang ditetapkan 30 ml/liter dan kualitas air kami sangat bagus dengan 7,27 mg/liter. Untuk PH sebesar 7,45 dan berada di kisaran PH normal yang baku mutunya ditetapkan 6-9,” urai Yuli.

Selain itu, dari hasil pemantauan atas kualitas air, juga diketahui besaran COD yang sebesar 22,25 mg/liter dan baku mutu yang ditetapkan sebesar 50 mg/liter. Untuk TSS diketahui sebesar 3 mg/liter, padahal baku mutunya sebesar 50 mg/liter. Sedangkan untuk kandungan minyak lemak diperoleh hasil sebesar 1 mg/liter dan jauh lebih bagus dari baku mutu yang ditetapkan sebesar 10 mg/liter. (OL-4)

Komentar