Tifa

Mencari Buah Simalakama

Ahad, 30 April 2017 16:00 WIB Penulis:

MI/ARDI TERISTI

ARJUNA tersadar dari pertapaannya. Ia telah mendapat bisikan dari dewa bahwa obat dari segala persoalan dan kekacaubalauan di Hastina Pura ialah buah simalakama.

Ia lalu menceritakan tentang buah simalakama kepada Semar dan memintanya mencari buah tersebut. Atas perintah tersebut, Semar bingung karena tidak pernah tahu wujud buah tersebut, lokasi, dan cara mencarinya. Namun, sebagai abdi, Semar pun menjalankan perintah mencari buah simalakama.

Semar bersama tiga orang putranya, Gareng, Petruk, dan Bagong, pun bejalan tak tentu arah mencari buah simalakama. "Ya begini mental atasan sedang sakit. Para punggawanya mencari muka untuk berkuasa. Kita (pembantunya) disuruh mencari buah simalakama yang tak tau ada di mana," keluh Bagong.

Sampai pada sebuah persimpangan jalan, mereka berhenti. Semar pun kemudian yakin, langkah kakinya harus menuju ke Kendalisodo, tempat Hanoman bertapa. "Naiklah ke kahyangan, cari buah simalakama," kata dia.

Di Kendalisada tersebut, Semar baru menyadari, kekacauan yang terjadi di Astina Pura disebabkan oleh Dosoyitno, sosok yang sedang ditunggui Anoman dalam pertapaannya. "Badan Dosoyitno memang sudah ditelikung, tapi nafsu angkaranya masih di mana-mana," kata Semar.

Di kahyanganlah Anoman menemukan buah simalakama. Ia kemudian turun ke dunia dan bersama Semar menemui Arjuna untuk menyerahkan buah simalakama.

Cerita dengan judul Mencari Buah Simalakama dihadirkan oleh Teater Perdikan di Taman Budaya Yogyakarta, (26/4) malam. Para seniman senior di dunia teater, seperti Fajar Suharno, Landung Simatupang, Djaka Kamto, Jujuk Prabowo, Sitoresmi Prabuningrat, dan Suharsoyo ikut terlibat dalam pementasan tersebut.

Mbah Nun--yang ikut melatarbelakangi terbentuknya Perdikan Teater--hadir ditemani Toto Rahardjo dan Iman Budhi Santosa. Sejumlah seniman dari berbagai jenis bidang kreatif juga tampak hadir untuk menyaksikan pementasan Perdikan Teater yang dimainkan oleh kolaborasi dan kekeluargaan teaterawan sepuh hingga muda dari berbagai latar belakang bendera teater di Jogja.

Dijungkarbalikkan

Menurut Shimon HT, selaku penulis naskah, dalam pengantarnya, cerita yang ditampilkan malam itu terbuka untuk dijungkarbalikkan pemaknaannya.

"Secara praktis, format ini (tentang buah simalakama) sangar terbuka untuk dijungkarbalikkan," kata dia.
Sama seperti dalam cerita, walau buah simalakama ada dan ditemukan, tapi tidak ada satupun yang bisa membuka. Bisa diartikan, walau buah simalakama telah ditemukan, persoalan-persoalan di Hastina Pura tetap tidak bisa diselesaikan dengan buah simalakama karena tidak ada yang yang bisa membukanya.
Sementara itu, menurut budayawan yang juga bagian dari tim supervisi, Emha Ainun Najib, lakon yang dipentaskan tidaklah biasa, merupakan jawaban yang melampaui zamannya.

"Siapa saja yang berada bersama 'mencari buah simalakama' pasti tidak berhenti pada sedebu zarah itu. Ia terbang dan mengembara," pungkas pria yang akrab disapa Cak Nun tersebut. AT/M-2

Komentar