Tifa

Napak Tilas Ratu Panggung dari Sumedang

Ahad, 30 April 2017 15:30 WIB Penulis: A Wahyu Kristianto

DOK. BAGUS PATRIA ADIPUTRA

KALA itu Tjitjih tampak bermuram durja. Dalam rumah bambunya yang beralaskan tanah, gadis 18 tahun asal Sumedang itu bingung untuk menerima atau tidak tawaran dari Abubakar Bafagih alias Wan Habib, pemilik Opera Valencia yang suka akan bakat Tjitjih dalam bersandiwara. Satu sisi Tjitjih senang karena akhirnya bisa mulai menjajaki karier yang memang dia cintai. Namun di sisi lain, orangtuanya sangat berat dan cemas untuk melepas putri kesayangan mereka.

Kedatangan Wan Habib untuk meyakinkan orangtua Tjitjih akhirnya berbuah manis. Luluh hatinya, akhirnya ayah dan ibu Tjitjih rela melepas putrinya untuk memulai karier sebagai sri panggung kala itu. Bakat Tjitjih dalam bernyanyi, menari, hingga memainkan lakon semakin terasah semenjak dia diasuh di bawah Opera Valencia. Hingga gelar "Miss" pun diberikan oleh para petinggi-petinggi Belanda karena kepiawaian Tjitjih saat melakoni peran di atas panggung sandiwara.

Untuk menghargai kepiawaian Tjitjih dan jasanya kepada Opera Valencia, pada 1928 akhirnya kelompok sandiwara pimpinan Wan Habib tersebut berganti nama menjadi Miss Tjitjih Tonil Gezelschap. Masih pada tahun yang sama, Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjijih akhirnya hijrah ke Jakarta dan menetap di sebuah gedung di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Sayang, belum sempat menikmati kemasyhurannya, pada 1939, sri panggung asal Sumedang tersebut harus menghembuskan nafas terakhirnya di atas panggung saat memerankan lakon pada cerita Gagak Solo di Cikampek.

Itulah garis besar gambaran dari pentas Napak Tilas Sri Panggung yang diadakan pada Rabu (26/4), di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Pertunjukan yang disutradai oleh Imas Darsih ini terkesan istimewa. Hal ini karena lakon ini diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjijih yang berusia 89 tahun.
Seperti biasanya, Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjijih memilih bahasa Sunda sebagai dialog untuk pementasan Napak Tilas Sri Panggung. Namun, agar bisa menarik anak penonton muda, sang sutradara mulai menggabungkan bahasa Indonesia ke dalam lakon malam itu. "Ini bukan perubahan tradisi, tapi kita berusaha agar penonton muda bisa menikmati pertunjukan juga," jelas Imas Darsih.

Pementasan dengan durasi hampir dua jam ini dimulai dengan tarian jaipong khas Sunda. Terlihat pula tarian itu menjadi pembuka menuju seremoni pemotongan nasi kuning yang dilakukan oleh Kepala Yayasan Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, Mayjen purnawirawan TNI, Tubagus Hasanuddin yang kemudian potongannya diserahkan secara simbolis kepada pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta.

Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, dan akhirnya pementasan sesungguhnya dimulai. Para pemeran malam itu terlihat cukup lepas dalam melakoni peran mereka masing-masing. Irma Nurani yang didapuk melakoni peran Miss Tjitjih dan Nur Rahmat yang melakoni Wan Habib terlihat cukup menikmati lakon mereka.

Poin uniknya, beberapa pemeran figuran justru cukup menarik perhatian penonton yang datang malam itu. Beberapa kali candaan yang dilontarkan sukses meraih gelak tawa hingga memeriahkan malam itu. Namun memang, beberapa intermeso yang diberikan walaupun cukup menarik dan lucu terkesan disuguhkan terlalu panjang hingga sedikit menghilangkan fokus pada cerita utama pementasan ini.

Pada akhir cerita, sang sutradara memberikan kejutan dengan memberikan adegan horor di akhir. Menurut Imas, adegan horor ini menggambarkan perubahan yang terjadi dalam Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih yang kerap kali membawakan pertunjukan horor. "Ini juga menunjukkan bahwa genre horor menjadi salah satu yang disukai oleh orang Indonesia," jelas Imas.

Sandiwara Miss Tjitjih

Total 89 tahun meramaikan seni teater di Indoesia, Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih bisa dibilang merupakan kelompok yang unik. Walaupun berkembang di Ibu Kota, mereka tetap berusaha untuk memberikan nilai kebudayaan Sunda pada pertunjukannya dengan melabelkan diri mereka sebagai kelompok sandiwara Sunda.
Bermarkas di bilangan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih, bisa dibilang sudah merasakan manis dan asin dunia pertunjukan teater di Indonesia. "Istilahnya mati segan hidup tak mau, kondisi seniman saat itu hingga saat ini belum dihargai," jelas Tubagus Hasanudin saat memberikan sambutan.

Pemutusan dana subsidi juga diakui semakin menghambat pergerakan dan perkembangan Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Imas pun berkata bahwa tahun ini kelompok teater mereka tidak ada pentas sama sekali sebelum peringatan hari jadi ke-89 mereka. Terhitung pentas terakhir mereka diadakan akhir tahun lalu. Walaupun demikian, Imas dan Tubagus Hasanudin bersikeras untuk tetap menjalankan Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. "Kita sudah bertahan sampai empat generasi, maka dari itu kelompok ini akan terus berkarya untuk Indonesia," tutup Tubagus Hasanudin. (*/M-1)

Komentar