PIGURA

Bersyukur Akur

Ahad, 30 April 2017 14:30 WIB Penulis: Ono Sarwono

TIDAK biasanya Cangik dan Limbuk membuat tumpeng sederhana secara swadaya di tempat tinggal mereka di sebuah bangunan mungil di pojok benteng. Abdi dalem Istana Amarta itu mengkreasi gunungan nasi lengkap dengan gudangan serta lauk-pauknya sebagai ungkapan rasa syukur atas terjaganya ketenteraman Amarta terkait dengan pemilihan senapati.

Sebelumnya, persatuan Amarta sempat mencemaskan akibat sengitnya kompetisi dua putra Pandawa, Antareja dan Gatotkaca, memperebutkan jabatan senapati. Saking kerasnya persaingan mengancam perpecahan rakyat. Akan tetapi, kekhawatiran itu sirna seiring dengan lancar dan damainya pemilihan. Yang terpilih tidak gemblelengan (jemawa) dan menebar kesejukan, sedangkan yang gagal legawa dan memberikan dukungan kepada yang menang karena pada hakikatnya semuanya untuk kejayaan Amarta.

Inilah yang menjadikan Cangik dan Limbuk bungah. Sebagai abdi dalem dan rakyat biasa, mereka hanya berharap Amarta selamanya menjadi negara yang tata titi tentrem kerta lan raharja.

Campur tangan luar

Syahdan, Neraga Amarta menggelar pemilihan senapati. Mereka yang memiliki hak untuk dipilih para putra Pandawa. setelah diseleksi panitia secara ketat, akhirnya mengerucut pada dua nama, Antareja dan Gathotkaca. Keduanya anak Werkudara, kesatria Pandawa yang bertempat tinggal di Kesatrian Jodipati.

Ditilik dari semua persyaratan dan track record mereka, baik Antareja maupun Gathotkaca tidak ada bedanya. Mereka sama-sama kesatria sakti dan pilih tanding (bisa diandalkan). Tidak ada yang perlu diragukan pada keduanya memimpin angkatan perang.
Antareja berdomisili di Kesatrian Jangkarbumi. Di sana ia bersama ibunya, Dewi Nagagini. Begitu juga Gathotkaca, selama hidupnya selalu didampingi ibundanya, Dewi Arimbi, di Kesatrian Pringgondani. Namun, sehari-hari, Antareja dan Gathotkaca serta putra Pandawa lainnya, bertugas menjadi pemelihara keamanan Amarta.

Persoalannya, kontestasi perebutan jabatan senapati ini sempat membuat Amarta 'meriang'. Persatuan rakyat terancam pecah akibat terjadinya polarisasi di antara pendukung kedua kandidat. Pandawa, pimpinan Amarta sangat prihatin dengan situasi yang menjemukan tersebut.

Sesungguhnya, kondisi keruh seperti itu haram di Amarta. Ini juga anomali. Selama ini, di bawah kepemimpinan Prabu Puntadewa yang arif-bijaksana serta welas-asih, kehidupan sosial-politik dalam negeri selalu kondusif. Apa pun gawean yang dihelat, tidak pernah menimbulkan 'interupsi' model apa pun. Semuanya selalu berlangsung adem dan ayem.

Ternyata, penyebab sikon yang tidak normal menjelang pemilihan senapati ini akibat adanya campur tangan pihak luar. Sengkuni-lah biang keladinya. Ia berusaha mengorak-arik ketenteraman Amarta. Patih Astina tersebut memanfaatkan momentum pemilihan senapati Amarta sebagai medan untuk merapuhkan sendi-sendi kekuataan utama Pandawa.

Dalam kariernya, Sengkuni, yang juga tangan kanan Raja Astina Prabu Duryudana, memang terus berkreasi mengeroposkan Pandawa. Ini strategi rezim Kurawa agar unggul dalam Bharatayuda yang sudah digariskan dewa bakal terjadi. Ini perang sesama trah Begawan Abiyasa, Kurawa melawan Pandawa di tegal Kurusetra.

Politisasi indentitas

Sengkuni secara diam-diam mertamu (mengunjungi) Antareja di Jangkarbumi. Setelah berbasi-basi, Sengkuni menanyakan kebenaran tentang kabar Amarta yang akan memilih senapati. Ia menuturi, dilihat dari sisi apapun, Antareja semestinya yang menjadi senapati. Gathotkaca, katanya, tidak pantas karena sesungguhnya masih junior.

Sengkuni juga membeberkan kelemahan Gathotkaca. Menurutnya, Amarta adalah negerinya para kesatria. Jadi tidak pantas jika angkatan perangnya dipimpin keturunan raksasa. Bila itu yang terjadi, betapa nistanya Pandawa yang kekuatannya dibentengi darah yaksa.

Kebetulan, Dewi Arimbi memang raseksi. Ia putri mendiang Prabu Tremboko, Raja Pringgondani, yang berwujud buta sebesar gunung anakan. Arimbi satu-satu putri dari tujuh anak Tremboko.
Antareja terpengaruh oleh hasutan Sengkuni. Ia berjanji mempertaruhkan jiwa raganya bila tidak terpilih. Adiknya, Antasena, yang saat itu kebetulan main ke Jangkarbumi, mengingatkannya agar tidak bersikap merong kampuh jingga (memberontak). Akan tetapi, ia diusir dengan kasar.

Belum puas dengan keberhasilannya 'menelikung' Antareja, Sengkuni mengendap-endap melancarkan black campaign dengan menyebarkan selebaran gelap. Isinya memprovokasi rakyat agar menolak jika Gathotkaca yang menjadi senapati. Kenapa? Gathotkaca anak raseksi dan cucu buta Tremboko yang juga musuh orangtua Pandawa, Pandudewanata.

Di sisi lain, Sengkuni dibantu ratusan infiltran didikannya juga menyelinap menyebarluaskan pamflet yang pesannya mengolok-olok Antareja. Antareja disebut tidak pantas karena berdarah ular. Betapa hinanya Amarta karena panglima perangnya keturunan binatang melata. Secara silsilah, Nagagini ialah putri Sanghyang Anantaboga, dewa ular yang berdiam di Kahyangan Saptapratala. Ia lahir dari pernikahan Werkudara dengan Nagagini pasca-Pandawa selamat dari peristiwa maut Bale Sigala-gala.

Sengkuni melakukan politik adu domba. Ia memainkan politik identitas untuk merobek-robek keutuhan rakyat Amarta. Pendukung kedua kandidat saling hujat dan fitnah. Mereka sama-sama melakukan segala cara untuk memenangkan calon masing-masing.

Bersatu selamanya

Namun, upaya Sengkuni menghancurkan Pandawa dari dalam tidak berhasil. Rakyat tetap bersatu dan hidup rukun setelah mereka sadar ada musuh yang menyelinap dan bermain untuk memorak-porandakan Amarta. Maka, terpilihnya Gathotkaca justru semakin mengukuhkan persatuan.

Werkudara menjadi tokoh utama pemulihan persatuan Amarta. Ia menuturi Antareja agar lapang dada. Darma kesatria tidak mesti dengan menduduki jabatan. Masih banyak medan pengabdian bagi bangsa dan negara.

Gathotkaca juga diberi wejangan. Werkudara wanti-wanti kepada putra keduanya itu bahwa jabatan merupakan amanah, yang tidak boleh diemban dengan kesembronoan. Kedudukan bukan untuk pamer dan gagah-gagahan.

Singkat cerita, Antareja dan Gathotkaca serta pendukung masing-masing rukun. Rakyat Amarta tetap bersatu. Keragaman di Amarta merupakan kodrat yang mesti disyukuri. Perbedaan justru merupakan kekuatan untuk membawa Amarta menjadi negara yang makmur.
Inilah yang melegakan Cangik dan Limbuk yang kemudian diekspresikan lewat tumpengan. Sebagai rakyat, mereka berharap persatuan dan kesatuan Amarta tetap terpelihara selama-lamanya. (M-4)

Komentar