Khazanah

Warisan Bersejarah Pendiri Kampung

Ahad, 30 April 2017 14:00 WIB Penulis: Aries Munandar

RUMAH berukuran 20x12 meter itu hendak dijual M Yakin. Seorang pembeli menaksir bangunan beserta lokasinya untuk dirombak menjadi rumah walet. Harga Rp30 juta digadang-gadang sebagai nilai transaksi. Tawaran tersebut cukup menggiurkan bagi Yakin kala itu.

"Rumah sebesar ini yang tinggal (menempati) cuma 2-3 orang, susah merawatnya. Hanya jadi tempat sampah dan tikus bersarang," kata Yakin mengungkap alasan penjualan tersebut, pekan lalu.
Transaksi batal terjadi. Bapak empat anak itu menginginkan sistem bagi hasil dengan menjadi penjaga rumah walet tersebut. Calon pembeli tidak berkenan dengan tawaran Yakin sehingga mengurungkan niatnya.

Rencana untuk menjual rumah tersebut terjadi sekitar delapan tahun lalu. Namun, Yakin sejatinya masih berat hati untuk melepasnya karena ingin menjaga amanah orangtua.

"Ini dikasih (diwarisi) orangtua. Kecuali tidak ada lagi yang menjaga, apa boleh buat," ujar lelaki yang kini berusia 78 tahun itu. Yakin merupakan generasi ketiga yang menempati rumah tersebut. Dia menetap bersama istri dan seorang putranya. Kakek lima cucu itu diwarisi orangtuanya, Umar bin Husin, yang juga menetap di rumah tersebut hingga akhir hayat. Walaupun memiliki lahan di daerah lain, Yakin memilih untuk tetap meninggali rumah tersebut.

Rumah peninggalan itu berwujud rumah panggung khas Melayu. Beberapa tonggak belian atau ulin sepanjang 1,5 meter menopang bangunan tersebut sebagai fondasi sehingga berkolong tinggi. Kolong dibiarkan melompong sehingga ruangan di atasnya terasa sejuk alami karena sirkulasi udara terjaga dengan baik.

Ciri khas bangunan Melayu tempo dulu juga mewarnai arsitektur dan beberapa ornamen rumah. Itu antara lain terlihat dari bentuk ukiran atau pahatan pada bagian tangga, pagar, serta tebing atap (lisplang). Rumah itu juga memiliki loteng. "Akan tetapi, sudah tidak digunakan lagi karena khawatir roboh (jebol)," ujar Satunah, 60, istri Yakin.

Ruangan dan interior

Rumah yang dikelilingi kebun kelapa ini berada di Desa Mendalok, Kecamatan Sungaikunyit, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Ia dibangun dan ditempati pertama kali oleh keluarga Husin bin Andil, seorang perantau dari Kabupaten Sambas, pada 1895.
Bahan kayu menjadi material utama bangunan dan sebagian besar kondisinya masih asli. Husin atau kakek Yakin membagi bangunan itu menjadi empat ruangan utama. Ada teras, ruang tamu, ruang tengah atau ruang keluarga, dan ruang belakang. Setiap ruangan disekat dengan dinding kayu berpintu.

Teras yang menjadi bagian muka bangunan dikelilingi pagar kayu di sisi kiri-kanan dan depan. Di bagian depan teras juga terdapat bangunan berbumbung terpisah yang menyerupai podium, untuk menuju tangga utama rumah. Sementara itu, bagian belakang teras disekat oleh dinding dengan tiga pintu penghubung ke ruang tamu.

Ruang tamu tidak seberapa luas dibangun melebar dan bersebelahan dengan kamar tidur di sisi kanan arah masuk rumah. Ruang tamu memiliki sebuah jendela di sisi kiri. Jendela itu dilengkapi potongan besi bulat yang dipasang secara vertikal sebagai teralis. Pahatan dengan variasi ornamen bunga dan daun menghiasi dinding di bawah jendela.

Ruang tamu memiliki tiga pintu sebagai penghubung ke ruang tengah. Namun, hanya satu yang difungsikan dan dibuka sehari-hari. Ruang tengah menjadi bagian paling luas di rumah ini. Di sini terdapat dua kamar tidur yang berhadapan. Selain itu, ada tangga kayu menuju loteng.

Ruang tengah juga dihubungkan dengan sebuah pintu untuk menuju bagian belakang, yang berupa ruangan terbuka. Fungsi ruang belakang ini, antara lain, untuk menjemur pakaian dan menempatkan penampungan air hujan. Di pojok ruangan terdapat dapur yang beratapkan seng serta berdinding kayu dan daun nipah. Dapur juga terhubung langsung dengan ruang tengah melalui pintu.

Di kediaman Yakin juga terdapat beberapa benda antik, semisal ranjang besi di ruang tidur utama serta hiasan tanduk rusa dan kerbau. Rusa mudah dijumpai saat daerah itu masih berhutan lebat pada puluhan tahun silam. "Ini peninggalan zaman Jepang. Kerbaunya digunakan saat membuka jalan kampung," jelas Yakin sembari menunjuk hiasan tanduk kerbau di teras rumahnya.

Pendiri kampung

Keberadaan rumah yang berjarak sekitar 1 kilometer dari jalan raya ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah Desa Mendalok. Husin membangunnya sebagai kediaman saat ditugasi membuka wilayah itu sebagai permukiman. Rumah itu pun menjadi bangunan pertama dan tertua sekaligus penanda dibukanya perkampungan di Mendalok.

Mendalok sendiri diambil dari nama seorang pekerja yang membantu Husin. Dia diupah untuk merimba atau membuka hutan di lokasi tersebut. "Pak Mendalok merupakan orang Dayak dari Menyuke (di Kabupaten Landak)," ujar Yakin.

Wilayah pertama yang dibuka di Mendalok tersebut meliputi area seluas 350x50 depa atau sekitar 39 ribu meter persegi. Husin kemudian mendatangkan kayu berkualitas wahid dari Kabupaten Kubu Raya untuk membangun kediaman keluarga. Luas dan bentuk bangunannya sama dengan yang ada saat ini.

Yakin bercerita rumah bermodel serupa dengan ukuran lebih kecil juga banyak dibangun di Mendalok setelah itu. Namun, pengerjaannya tidak kunjung rampung karena kesulitan ekonomi akibat Perang Dunia II. "Harga hasil kebun (kelapa dan pisang) menjadi murah sehingga banyak yang pindah dan mencari lahan sawah."Karena bernilai budaya dan sejarah, rumah Yakin pun ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah pada 2014. Penetapan tersebut diikuti gelontoran dana rehabilitasi. Rehabilitasi meliputi perbaikan pada bangunan utama tanpa mengubah bentuk dan ciri khasnya, kecuali bagian atap, yakni dari sirap diganti seng.

Kediaman Yakin kini dikenal dengan nama Rumah Adat Turun-temurun. Bangunan berusia 122 tahun itu juga menjadi satu di antara objek wisata di Kabupaten Mempawah. Yakin dan Satunah pun sangat terbuka dan menyambut ramah setiap pengunjung.

Satunah bahkan bersedia memandu pengunjung saat menelusuri setiap ruangan. Sementara itu, Yakin dengan antusias menceritakan sejarah rumahnya dan Desa Mendalok. "Anak-anak sekolah juga sering datang ke sini sekalian belajar sejarah," pungkas Satunah. (M-2)

Komentar