Jeda

Bangkitnya Pahlawan Kas Negara

Ahad, 30 April 2017 10:00 WIB Penulis: Iis Zatnika

DOK PETRA TAX COMPETITION

Akhir pekan akan selalu meriah di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jepara, Jawa Tengah, ada #RuangSahabat516, aula yang lazimnya digunakan buat rapat, yang bisa dimanfaatkan untuk pelatihan, kampanye komunitas, hingga pembacaan puisi. Syaratnya, di sela kegiatan itu, tim KPP diperbolehkan memaparkan wejangan pajak atau memutar film bertema serupa.

Ikhtiar bersahaja, tetapi cerdas itu menjadi rangkaian kegiatan kreatif untuk terus memperbanyak jumlah wajib pajak (WP) pun mengejar target perolehan pajak. Sosialisasi digeber, edukasi digenjot dan pengawalan masuknya dana, nyatanya telah berdampak pada setoran pada kas negara.

"Kurun waktu dua tahun terakhir kepatuhan WP meningkat tajam dari 63% pada 2016 menjadi 88% pada 2017. Peningkatan kepatuhan diiringi pertumbuhan penerimaan pajak yang cukup signifikan sampai triwulan 1, yaitu sebesar 37,46 %, penerimaan PPh nonmigas tumbuh 33,59%, sedangkan PPN dan PPn-BM tumbuh 54,75%," kata Endaryono, Kepala KPP Pratama Jepara tentang pencapaian pajak di wilayahnya.

Personal, tetapi profesional

Selain kegiatan di lapangan, termasuk dengan Olimpiade Pajak 516 yang diselenggarakan berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang mengadu kepandaian siswa SMA tentang pajak dalam cerdas cermat serta adu keterampilan kekinian, nge-blog dan swafoto, kampanye juga dilakukan KPP di Facebook juga Twitter.

Pertemuan dengan berbagai komunitas, mulai Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jepara, kumpulan pengusaha Tangan di Atas (TDA) hingga Pejuang Sedekah, juga menjadi upaya menyalan semangat serupa. Pesannya, jika pengusaha yang selama ini dikabarkan kerap berseteru dengan petugas pajak saja sudah rajin bertandang ke KPP, anak-anak muda yang kritis dan mengampanyekan ikhtiar menjadikan Indonesia lebih baik, mestinya tak alergi dengan pajak.

"KPP memiliki tiga tugas dan fungsi utama, pelayanan dan penyuluhan, pengawasan serta penegakan hukum, semuanya beriringan sesuai kondisi wilayah masing-masing. Mengubah mindset, pajak suatu momok yang menakutkan menjadi menyenangkan, membayar pajak dari semula kewajiban menjadi hak, tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan," kata Endaryono.

Investasi menabung target perolehan pajak itu dilakukan dengan pembentukan kader pajak, intensnya kerja tim media sosial, penyelenggaraan Olimpiade Pajak, dongeng keliling, kampanye amnesti, serta yang paling terkini, pembentukan komunitas #Sahabat516.

Pendekatan untuk menumbuhkan kesadaran itu dijalin personal, tetapi diklaim Endaryono, tetap profesional. Pendekatan humanis menjadi kata kuncinya.

"Kami memberikan pelayanan kepada wajib pajak dengan penuh empati, melakukan pengawasan dan penegakan hukum secara aktif. Tentunya semua itu kami lakukan dengan tetap menjalin kegiatan formal, yaitu berkoordinasi dengan pemangku kepentingan seperti pemda, penegak hukum, dan lain sebagainya. Kami mengimplementasikan Konfirmasi Status Wajib Pajak (KSWP), komitmen bersama untuk mengamankan penerimaan dengan kepolisian, kejaksaan, dan imigrasi," ujar Endaryono.

Harus diperkuat

Inisiatif yang bergulir di Jepara itu, kata pendiri Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo, merupakan inisiatif mandiri, dipicu kepemimpinan lokal yang bagus sehingga punya berdampak pada kinerja tim. Reformasi sistem perpajakan, pada aspek perluasan sumber pembayar pajak, diimplementasi di lapangan.

Spirit positif pajak, yang telah bergeser dari nyinyir menjadi lebih positif, terutama dengan gigihnya Sri Mulyani Indrawati, sang menteri keuangan mengawal amnesti pajak, mulai menjadikan agenda reformasi pajak menjadi aksi nyata. "Sebelumnya memang lebih tambal sulam saja, tapi sekarang masih fase awal, komitmen dan perencanaan, belum banyak progres. Maka, perlu terus dikawal supaya reformasi betul-betul berarti menuju sistem perpajakan baru yang lebih adil, transparan, akuntabel, dan berkesinambungan. Jika ini berhasil, saya yakin rasio pajak akan naik, setidaknya 3% dalam 4-5 thn ke depan," kata Yustinus.

Jujur dan berkontribusi

Di Jepara, kontribusi nyata buat negara juga diceritakan lewat wayang-wayang kreasi Den Hasan, pendongeng juga pendiri Sanggar Rumah Belajar Ilalang, taman bacaan yang berdiri sejak 2012. Berkeliling di 468 lokasi selama 21 hari, pada April ini, pembelajaran bertema mengejar pelangi, edukasi pengenalan warna, yang dikemas dalam cerita rakyat lokal, dihubungkan dengan nilai-nilai kejujuran, berbagi, rendah hati, dan kepedulian.

Semangat serupa juga muncul di generasi milenial yang kini merintis kariernya, dan dipastikan akan jadi pembayar pajak potensial. Wawan Kurniawan, dalam kompetisi blog Olimpiade Pajak 516, membuat tulisan Merekahkan Senyum Bumi Kartini. Ia mengkorelasikan pajak dengan Jepara sebagai tanah kelahiran Kartini yang menolak padam.

Ikhtiar serupa juga dilakukan berkesinambungan di Universitas Kristen Petra Surabaya, Jawa Timur, yang tengah mempersiapkan Petra Tax Competition (PTC), acara tahunan Himpunan Mahasiswa Akuntansi Pajak Universitas Kristen Petra (Himajaktra) serta Program Akuntasi Pajak Universitas Kristen Petra, pada 12 Mei dan 13 Mei mendatang.

Sebanyak 38 mahasiswa yang jadi panitia berkolaborasi agar kawan-kawannya dari berbagai universitas, yang juga menyasar karier di bidang keuangan dan pajak, selain piawai juga bisa jadi pahlawan negara. The rise of tax heroes, tema kompetisi keterampilan sebagai calon konsultan pajak itu akan melibatkan mereka sebagai bagian dari solusi rendahnya kinerja penerimaan pajak negara.

"Dunia perpajakan Indonesia masih sangat rawan penggelapan ataupun korupsi oleh aparat, pengusaha serta pegawai pajak. Inilah yang menyebabkan penerimaan masih memprihatinkan. Padahal, pajak merupakan sumber terbesar. Agar orang tak jadi apatis, reformasi dalam dunia perpajakan jadi kuncinya, sudah mulai berjalan, contoh riilnya, beralihnya manual ke online, meminimalisasi kebocoran serta transparan," kata Ketua Panitia PTC, Alexandro Christian.

Semangat di akar rumput, anak-anak muda itu, kata Yustinus, tak boleh berhenti di gerakan dan kesadaran. "Harus dikawal sampai jadi realisasi. Sekarang, yang ikut tetap saja sedikit. Meski sosialisasi berhasil, belum terjadi internalisasi," ujar Yustinus. Kampanye memang mestinya tak cuma heboh, tapi mendongkrak pendapatan negara. (M-2)

Komentar